Bagaimana tidak. Para vegetarian mengajak untuk bersama-sama, seperti mereka, untuk tidak memakan daging dan produk hewani lainnya, tapi Idul Adha memerintahkan menyembeli binatang ternak dan membagi-bagikan
dagingnya secara gratis. Kurban itu perintah dari Yang Maha Kuasa, kita ketahui secara mutawatir (pasti secara umum bagi orang yang berpikir).
Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan secara gratis sebuah buku (jurnal) dengan judul “mewujudkan surga di dunia melalui CINTA KASIH”. Dari para kaum vegetarian yang mengajak semua orang untuk mengikuti langkah mereka, hanya makan produk nabati. Menurut saya, data-data yang disajikan dalam buku itu cukup jujur sesuai dengan penelitian yang ada.
Kaum vegetarian berpendapat bahwa tidak patut binatang-binatang itu dibunuh untuk memenuhi kebutuhan lidah. Tapi perintah kurban telah menjadikan penyembelihan secara masal. Jutaan hewan ternak (kambing, domba, sapi, unta) disembelih dalam waktu hampir bersamaan. Dipertontonkan secara terbuka di lapangan dan dengan pengeras suara (agar diketahui secara umum) menyebut kebesaran nama Allah yang memerintahkan kurban tersebut.
Bagaimanapun hewan adalah salah satu rejeki dari Allah yang harus dimanfaatkan. Seorang muslim (orang yang menyerahkan segala sesuatu hanya kepada Allah) harus bisa mengelola rejeki itu, salah satunya bagaimana cara menyembeli yang benar dan tidak terlalu menyakitkan bagi hewan yang disembelih. Mendidik ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan setiap perintah-Nya dan mengajarkan kepedulian pada sesama dengan membagikan daging kepada orang-orang yang kemungkinan tidak bisa makan karena keterbatasan ekonominya.
Para vegan dan jenis vegetarian yang lain gencar mengampanyekan konsep pola makan herbivora dengan “mewujudkan surga di dunia melalui cinta kasih”. Struktur tubuh manusia lebih mirip herbivora dari pada karnivora. Protein hewani tinggi kolesterol, sedangkan protein nabati tanpa kolesterol. Memakan daging dan produk hewani lainnya lebih memberikan banyak penyakit dan memakan sumber nabati saja adalah jauh lebih sehat. Banyak tokoh-tokoh dunia yang berprestasi adalah kaum vegetarian. Industri peternakan adalah pemborosan energi, air bersih dan sumber daya alam yang lain. Dan yang paling penting adalah membunuh binatang (ternak) adalah hal yang tidak berperasaan, menyakiti dan menghilangkan nyawa makhluk hidup yang punya saraf perasa.
Banyak alasan mengapa sangat perlu mengajak orang-orang untuk menggunakan pola hidup vegetarian. Makan daging adalah sama dengan menyuruh untuk membantai hewan ternak. Begitulah yang disebutkan beberapa media dan buku-buku yang mendukung konsep ini. Kita bisa juga melihat di en.wikipedia.org/wiki/vegetarianism www.ivu.org al.godsdirectcontact.org.tw/vg-vip www.goveg.org www.vegsoc.org www.vegsource.com dll.
Untuk perbandingan kita bisa lihat di ivu.org/news/1-96/muslim.html www.veda.harekrsna.cz/bhaktiyoga/islamveg.htm www.jesusveg.com christianveg.com godsdirectcontact.com
Dan TERNYATA Allah menghalalkan binatang ternak, dan dengan jelas sangat melarang ‘mengharamkan’ sesuatu yang dihalalkan oleh Allah.
Q.5:1.”Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu.” Juga Q.6:142, 22:30, tentang halalnya binatang ternak.
Unta halal disembelih dan dimakan:
Q.22:36. “Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.”
Q.36:72. “Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan.”
Q.40:79. “Allahlah yang menjadikan binatang ternak untuk kamu, sebagiannya untuk kamu kendarai dan sebagiannya untuk kamu makan.”
Q.5:87. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
Q.2:173, “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Juga tiga ayat lain yang juga hanya menyebutkan empat jenis makanan yang diharamkan oleh Allah: Q.5:3, 6:145, 16:115. Juga mengharamkan sesuatu yang dosanya lebih besar dari manfaatnya seperti minuman keras, Q.2:219, 5:90,91 7:157.
Tentang perintah kurban, terdapat pada Q.108:2. “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”
Yang dimaksud berkorban di sini ialah menyembelih hewan kurban dan mensyukuri nikmat Allah.
Q.22:34. “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),”
Q.22:28. “supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan[985] atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak[986]. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.”
[985]. Hari yang ditentukan ialah hari raya haji dan hari tasyriq, yaitu tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah.
[986]. Yang dimaksud dengan binatang ternak di sini ialah binatang-binatang yang termasuk jenis unta, lembu, kambing dan biri-biri.
Mungkin cukuplah dari AlQuran ini sebagai dalil untuk halalnya binatang ternak dan bahkan ada perintah untuk menyembeli dan memakan dan membagikan daging hewan dengan perintah berkurban.
Al Quran yang menantang setiap orang yang jika tidak percaya bahwa itu benar-benar dari yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, untuk mendatangkan yang serupa dengan Al Quran itu (Q.2:23, Q.52:34, Q.11:13, Q.17:88):
Q.2:23. “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”
Ternyata ajakan para vegetarian untuk tidak mengkonsumsi daging dan produk hewani yang lain bertentangan dengan petunjuk Allah melalui nabi-Nya dan kitab-Nya yang tidak ada keraguan didalamnya. Kaum Ovo vegetarian dan vegan bahkan ‘mengharamkan’ susu selain daging hewan ternak termasuk ikan. Tapi Allah yang Maha tahu yang telah menggaransi ajaran-Nya (Al Quran) bahwa tidak mungkin dibuat oleh selain diri-Nya (jika tidak percaya, buat atau datangkan yang serupa dengan AlQuran, kalau bisa), menyatakan bahwa susu dan binatang ternak mempunyai faedah yang banyak.
Q.23:21. “Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian daripadanya kamu makan,”
Q.16:66. “Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.”
Jadi, tidak dibenarkan oleh Allah, melarang menyembeli dan makan daging hewan ternak.
Sedangkan tentang etika terhadap binatang ini mari kita bertauladan pada Rasulullah, Nabi Muhammad saw. (Sumber yang dari nabi-nabi selain beliau tidak ada kaidah untuk mengecek kesahihan sumber beritanya).
Dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang membunuh seekor burung tanpa hak, niscaya Allah akan menanyakannya pada hari Kiamat.”
Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, apakah hak burung tersebut?”
Beliau menjawab, “Menyembelihnya, dan tidak mengambil lehernya lalu mematahkannya.” (HR. Ahmad, nomor 6264)
Amir Ar-Raam bercerita. Ia dan beberapa sahabat sedang bersama Rasulullah saw. “Tiba-tiba seorang lelaki mendatangi kami,” kata Amir Ar-Raam. Lelaki itu dengan kain di atas kepadanya dan di tangannya terdapat sesuatu yang ia genggam.
Lelaki itu berkata, “Ya Rasulullah, saya segera mendatangimu saat melihatmu. Ketika berjalan di bawah pepohonan yang rimbun, saya mendengar kicauan anak burung, saya segera mengambilnya dan meletakkannya di dalam pakaianku. Tiba-tiba induknya datang dan segera terbang berputar di atas kepalaku. Saya lalu menyingkap kain yang menutupi anak-anak burung itu, induknya segera mendatangi anak-anaknya di dalam pakaianku, sehingga mereka sekarang ada bersamaku.”
Rasulullah saw. berkata kepada lekaki itu, “Letakkan mereka.”
Kemudian anak-anak burung itu diletakan. Namun, induknya enggan meninggalkan anak-anaknya dan tetap menemani mereka.
“Apakah kalian heran menyaksikan kasih sayang induk burung itu terhadap anak-anaknya?” tanya Rasulullah saw. kepada para sahabat yang ada waktu itu.
“Benar, ya Rasulullah,” jawab para sahabat.
“Ketahuilah,” kata Rasulullah saw. “Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, sesungguhnya Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya melebihi induk burung itu kepada anak-anaknya.”
“Kembalikanlah burung-burung itu ke tempat di mana engkau menemukannya, bersama dengan induknya,” perintah Rasulullah. Lelaki yang menemukan burung itupun segera mengembalikan burung-burung itu ke tempat semula.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud di hadits nomor 2186.
Suatu hari untuk suatu tujuan Rasulullah keluar rumah dengan menunggangi untanya. Abdullah bin Ja’far ikut membonceng di belakang. Ketika mereka sampai di pagar salah seorang kalangan Anshar, tiba-tiba terdengar lenguhan seekor unta.
Unta itu menjulurkan lehernya ke arah Rasulullah saw. Ia merintih. Air matanya jatuh berderai. Rasulullah saw mendatanginya. Beliau mengusap belakang telinga unta itu. Unta itu pun tenang. Diam.
Kemudian dengan wajah serius, Rasulullah saw. bertanya, “Siapakah pemilik unta ini, siapakah pemilik unta ini?”
Pemiliknya pun bergegas datang. Ternyata, ia seorang pemuda Anshar.
“Itu adalah milikku, ya Rasulullah,” katanya.
Rasulullah saw. berkata, “Tidakkah engkau takut kepada Allah karena unta yang Allah peruntukkan kepadamu ini? Ketahuilah, ia telah mengadukan nasibnya kepadaku, bahwa engkau membuatnya kelaparan dan kelelahan.”
Unta itu ternyata mengadu kepada Rasulullah saw. bahwa tuannya tidak memberinya makan yang cukup sementara tenaganya diperas dengan pekerjaan yang sangat berat.
Abdullah bin Umar menceritakan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Seorang wanita disiksa karena menahan seekor kucing sehingga membuatnya mati kelaparan, wanita itupun masuk neraka.” Kemudian Allah berfirman –Allah Mahatahu–kepadanya, “Kamu tidak memberinya makan, tidak juga memberinya minum saat ia kamu pelihara; juga engkau tidak membiarkannya pergi agar ia dapat mencari makanan sendiri dari bumi ini.” (HR. Bukhari, kitab Masafah, hadits nomor 2192).
Menyayangi binatang dengan tidak menyembeli atau mengijinkan orang lain menyembeli dengan tidak memakan dagingnya adalah sesuatu yang tidak perlu. Mengajak orang-orang untuk tidak memakan daging hewan ternak dengan alasan menyayangi binatang adalah sesuatu yang tidak dibenarkan. Hanya karena alasan khusus misalnya alergi terhadap daging atau susu atau telur diperbolehkan bahkan diharuskan untuk tidak mengkonsumsi makanan tersebut jika memang hal tersebut dapat mengganggu kesehatannya.
Dan bagi orang yang tidak suka makan daging itu memang hak masing-masing. Jadi silakan bervegetarian jika memang kita tidak suka daging.
Cintai hewan peliharaan dengan memberikan segala sesuatu yang dibutuhkannya, termasuk kebebasan untuk mencari makan sendiri misalnya. Jika membutuhkan dagingnya seperti yang telah dihalalkan oleh Allah, perlakukan dengan baik, menyembelihnya secara benar dan cepat.
Tetap ada pro-kontra pada keutamaan daging bagi kesehatan. Dan dengan keterbatasan kita sebagai manusia ada Allah yang Maha Tahu, kita tinggal menganalisa apakah AlQuran itu benar-benar dari-Nya. Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya ini telah memberikan kita berbagai petunjuk dalam kehidupan di dunia ini termasuk masalah makan.
Ajaran AlQuran tidak sama dengan ajaran kitab yang lain, karena yang penting dalam suatu ajaran itu adalah bahwa itu benar-benar dari Yang Maha Mengetahui. Kaum sekuler terbentuk karena adanya suatu ajaran agama dengan kitabnya yang sebagian tidak sesuai dengan kenyataan. Makanya banyak orang-orang yang berilmu memisahkan masalah agama dengan negara, undang-undang, ekonomi, dan kesehatan dan lain-lain. Hal ini jelas karena pengaruh suatu ajaran agama yang tidak semuanya berasal dari Yang Maha Bijaksana, tapi ada tambahan dari manusia biasa secara jelas. Tapi jika kita mempelajari ajaran agama yang tidak terkontaminasi dengan tangan manusia, maka kita bisa memandang itu adalah petunjuk dari Sang Pencipta tentang segala sesuatu dalam kehidupan ini. Dan petunjuk dari Yang Maha Mengetahui, sangat tidak masuk akal jika tidak bisa dijadikan sebagai rujukan dalam mengatur masalah pemerintahan, masyarakat, ekonomi, ilmu pengetahuan dll. Sekali lagi, hal demikian hanya jika ajaran itu secara pasti adalah benar-benar dari Yang Maha Mengetahui.
Ok. Al Quran bukan hanya milik orang-orang Islam, ia adalah milik Allah yang diperuntukkan untuk semua makhluk. Apakah dia Yahudi atau Nasrani, apakah dia atheis, Budha, atau Hindu. Petunjuk Allah melalui AlQuran adalah milik kita semua. Manfaatkan, karena Allah menggaransi bahwa isinya pasti dari Dia.
Jika tidak ada di dalam AlQuran, cari dari petunjuk para nabi Allah. Dan disini juga yang terpenting adalah bahwa sumbernya benar-benar bersambung pada nabi itu dengan satu kaidah koreksi kesahihan yang pasti. Kitab-kitab hadist sahih.
Sebagian dari tulisan ini hanya pendapat saya, dan pendapat saya belum tentu selalu benar.
Semoga Allah memberi petunjuk jalan yang lurus pada kita semua.
Q.2:29. “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Terima kasih untuk: Duta Pulsa – Toko Barang Pilihan – Persewaan Alat Pesta


Yang Suka Batik, Gabung di sini.
Gamis Modern
Busana anak
Busana pria
Busana Kerja
Busana Muslim
Sarimbit
Seragam Kerja
