Arsip untuk ‘Akuntansi’

2011/07/21

Surat Berharga (Pengertian)

Efek, atau disebut surat berharga yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari efek.

Undang-undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995 memperinci efek sebagai berikut:

1. Surat Pengakuan Utang
2. Surat Berharga Komersial (commercial paper)
3. Saham
4. Obligasi
5. Tanda Bukti Utang
6. Unit Penyertaan Kontrak Investasi Kolektif
7. Kontrak Berjangka Atas Efek
8. Setiap derivatif dari efek, seperti bukti right, warran, opsi, dan lain-lain.

Atau
suatu instrumen bukti kepemilikan yang dapat dipindahtangankan dalam bentuk surat berharga, saham, atau obligasi bukti utang, bunga atau partisipasi dalam suatu perjanjian bagi hasil, hak (right) untuk membeli saham, atau warrant untuk pembelian di masa yang akan datang, atau instrumen sejenis yang dapat dipertukarkan, diperjual-belikan.

 

 

Selengkapnya tentang Kamus Istilah yang lain (klik disini)

———————

Kaitkata:
2011/03/23

Jenis-jenis Laporan Keuangan

Sesuai dengan definisi akuntansi sebagai suatu kegiatan yang meliputi proses pencatatan sampai dengan penganalisaan data-data keuangan perusahaan, produk (out put) yang dihasilkan kegiatan tersebut berupa pelaporan

Abaya New Florakeuangan. Pelaporan keuangan ini terdiri dari pelaporan keuangan yang khusus digunakan untuk kepentingan internal perusahaan saja dan juga pelaporan keuangan yang ditujukan untuk kepentingan pihak eksternal perusahaan.

Jenis pelaporan keuangan berikut ini dapat dikategorikan sebagai pelaporan keuangan yang terutama ditujukan untuk kepentingan pihak eksternal perusahaan. Meskipun demikian pihak internal juga memerlukannya. Pelaporan keuangan ini lazim disebut dengan laporan keuangan, yang meliputi:

1. Laporan Laba Rugi yaitu laporan keuangan yang memberikan informasi tentang hasil kegiatan operasi perusahaan (laba atau rugi) selama satu kurun waktu (periode) tertentu.

2. Laporan Ekuitas yaitu laporan keuangan yang memberikan informasi tentang perubahan ekuitas pemilik atau modal selama kurun waktu (periode) tertentu.

3. Neraca yaitu laporan keuangan yang memberkan informasi tentang aset, kewajiban dan ekuitas perusahaan pada saat (tanggal) tertentu.

4. Laporan Arus Kas yaitu laporan keuangan yang memberikan informasi tentang penerimaan dan pembayaran kas perusahaan selama kurun waktu (periode) tertentu.

5. Catatan atas Laporan Keuangan yaitu berupa informasi baik yang bersifat keuangan maupun non keuangan yang bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang kebijakan kebijakan akuntansi yang digunakan oleh perusahaan, rincian pos pos laporan keuangan, penjelasan kontrak-kontrak utang perusahaan dan lain-lain.

Kaitkata: ,
2009/09/01

Uang giral (Giro bilyet, Cek, Telegraphic transfer)

Masih ingat tentang uang giral, atau giro? Baiklah, kali ini kita baca kembali tentang uang giral ini. Oh, ya jangan lupa ya, kasih komentar di bawah, sekalian kamu bisa tampilkan nama kamu kan. Sponsor tulisan ini masih sama yakni DutaPulsa dan Okrek.com

Uang giral adalah uang yang dimiliki masyarakat dalam bentuk simpanan (deposito) yang dapat ditarik setiap saat sesuai kebutuhan. Uang ini hanya beredar di kalangan tertentu saja, sehingga masyarakat mempunyai hak untuk menolak jika ia tidak mau barang atau jasa yang diberikannya dibayar dengan uang ini.

Uang giral dapat ditarik dengan menggunakan cek, bilyet giro, dan perintah pembayaran (telegraphic transfer).

a) Giro bilyet adalah simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, atau sarana perintah pembayaran lainnya dengan cara transfer uang. Giro sangat bermanfaat bagi pengusaha, karena dengan giro berbagai pembayaran untuk berbagai transaksi dalam jumlah besar tidak perlu dilakukan dengan tunai. Cukup dengan menggunakan selembar kertas cek (untuk pembayaran tunai) atau bilyet giro (untuk pembayaran nontunai).

b) Cek adalah surat perintah dari seseorang yang mempunyai rekening di bank agar bank membayar sejumlah uang kepada orang yang namanya disebutkan dalam cek tersebut atau orang yang membawa cek. Orang yang mempunyai rekening di bank dan mendapat buku cek dari bank disebut client (nasabah).

c) Telegraphic transfer, pembayaran menggunakan telegraphic transfer dilakukan dengan memindahkan sebagian atau seluruh rekening di bank kepada seseorang yang ditunjuk yang bertempat di daerah lain.


Berikut ini proses terjadinya uang giral.

1) Seseorang menitipkan sejumlah uang kartal kepada sebuah bank.

Bank mencatat dalam bukunya sebagai rekening orang yang menitipkan uang. Titipan semacam ini dinamakan primary deposits, yang berarti uang titipan.

Dengan kejadian tersebut uang kartal yang dititipkan berubah menjadi uang giral.

2) Seseorang meminjam uang pada sebuah bank. Uang tersebut tidak diambilnya, tetapi dititipkan di bank agar sewaktu-waktu dapat diambil. Bank mencatat uang tersebut pada buku sebagai rekening si peminjam. Titipan semacam itu disebut loan deposits yang berarti uang pinjaman yang dititipkan. Uang pinjaman yang belum dikeluarkan itu merupakan uang giral. Orang yang berutang sekaligus menjadi orang yang berpiutang.

3) Uang giral dapat pula diciptakan dengan cara seseorang menjual surat berharga ke bank dan bank membukukan hasil penjualan surat berharga itu sebagai deposit dari yang menjual (derivative deposit).


Persewaan Alat PestaKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah okRek.com · DutaPulsa


dari buku sekolah

Kaitkata: ,
2009/08/04

Perbedaan Perlakuan Akuntansi Penjualan Reguler dan Penjualan Konsinyasi

Dalam pengertian penjualan reguler menurut M. Ichwan dan Arifin adalah:

“Peningkatan jumlah aktiva atau penurunan jumlah utang suatu badan usaha yang timbul dalam penyerahan barang/jasa/aktiva usaha lainnya dalam suatu periode”4

Penjualan konsinyasi mempunyai perbedaan yang khusus dengan penjualan reguler. Menurut Hadori Yunus Harnanto memberikan kriteria yang merupakan perbedaan perlakuan akuntansi konsinyasi dengan transaksi penjualan reguler. Keempat kriteria itu adalah sebagai berikut:

  1. Barang-barang masih menjadi hak milik konsinyor dan harus dilaporkan sebagai persediaan konsinyor boleh mengakui barang-barang konsinyasi sebagai persediaannya.
  2. Pendapatan diakui konsinyor pada saat barang-barang konsinyasi dapat dijual pada pihak ke-3.
  3. Pihak pengamat (consignor) sebagai pemilik tetap bertanggung jawab sepenuhnya terhadap semua biaya yang berhubungan dengan barang-barang konsinyasi. Sejak pengiriman barang sampai dengan saat komisioner berhasil menjual barang kepada pihak ke-3. Kecuali jika ditentukan lain dalam perjanjian diantara kedua pihak yang bersangkutan.
  4. Komisioner dalam batas kemampuannya mempunyai kewajiban menjaga keamanan dan keselamatan barang-barang yang diterimanya. Oleh karena itu administrasi yang tertib harus diselenggarakan sampai dengan saat ia berhasil menjual barang-barang tersebut kepada pihak ketiga.

Jadi perbedaan prinsip antara transaksi penjualan reguler dengan penjualan konsinyasi adalah:

1) Perpindahan hak milik atas barang yang bersangkutan

Dalam transaksi penjualan reguler hak milik barang berpindah kepada pembeli pada saat barang diserahkan, kemudian keadaan demikian dipakai sebagai dasar pengakuan terhadap timbulnya pendapatan. Sedangkan penjualan pada penjualan konsinyasi tidak berarti adanya penyerahan hak milik atas barang yang bersangkutan.

2) Pengakuan pendapatan

Perbedaan pengakuan pendapatan antara penjualan reguler dan penjualan konsinyasi akan berdampak pada laporan rugi laba. Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia dalam bukunya yang berjudul Standar Akuntansi Keuangan Pengertian pendapatan adalah:

“Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama periode bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari konstribusi modal”

Theodoras M. Tuana Kotta menyebutkan kriteria yang lebih tepat bagi pengakuan pendapatan adalah:

a. Adanya bukti yang kuat bahwa pembeli mempunyai maksud membeli dan penjual bermaksud menjual.

b. Penentuan mengenai barang tertentu yang akan dijual dan sudah dalam keadaan siap untuk dijual.

c. Perjanjian antara pembeli dan penjual mengenai barang jual formula untuk mencapai harga jual.

Jadi pendapatan suatu perusahaan dapat diakui oleh perusahaan apabila memenuhi kriteria diatas.

Kaitkata: ,
2009/07/26

Masa Anggaran Kas

Ada dua macam masa anggaran kas yang diperlukan oleh perusahaan yaitu:

1. Anggaran kas jangka pendek yang merupakan alat operasional pengendalian kas sehari-hari. Jangka waktunya disesuaikan dengan anggaran tahunan. Anggaran kas seperti ini berfungsi sebagai alat pemberian otorisasi kas keluar secara terus menerus disesuaikan dengan arus kas masuk dan situasi keuangan pada umumnya.

2. Anggaran kas jangka panjang. Meliputi jangka waktu lima tahun sampai dengan jangka waktu sepuluh tahun. Bilamana corporate plan, maka jangka waktu anggaran jenis ini harus disesuaikan dengan waktu yang tercakup dalam corporate plan tersebut. Kegunaan dari anggaran kas ini adalah untuk mengetahui kemampuan perusahaan di dalam menambah dana dari sumber-sumber intern dan sekaligus memperkirakan saldo akhir tahun dari tiap-tiap anggaran.

Perusahaan dapat menyusun anggaran kas jangka pendek yaitu mingguan, bulanan atau kuartalan untuk tujuan pemenuhan kebutuhan kas dan juga anggaran jangka panjang untuk pengambilan keputusan kebijaksanaan keuangan.

…..Lebih lengkap tentang KAS

.

Kaitkata: ,
2009/07/20

Penentuan Jumlah Kas yang Optimal

Didalam pengelolaan kas setiap manajer selalu berusaha agar dalam perusahaan terjadi aliran kas yang teratur. Untuk itu harus diusahakan agar aliran kas masuk dan aliran kas keluar dalam keadaan seimbang, yaitu tidak terjadi saldo kas yang berlebih ataupun yang kurang.

Seperti yang dikatakan Riyanto (1980:99) sebagai berikut:

Kas adalah salah satu elemen modal kerja yang paling tinggi likuiditasnya dan dapat digunakan untuk menguasai atau memiliki barang dan jasa apa saja yang kita inginkan dalam keadaan normal.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa perusahaan mempunyai resiko yang kecil untuk tidak dapat memenuhi kewajiban finansial, sebaliknya, apabila jumlah kas dalam perusahaan besar akan dapat memperkecil pinjaman atau utang yang ada dalam perusahaan.

Berapa besar sebaiknya persediaan uang kas yang ada dalam perusahaan, memang belum ada standart rasio yang bersifat umum. Namun menurut Bambang Riyanto (1980) apabila jumlah kas yang ada di dalam perusahaan dikaitkan dengan jumlah aktiva lancar, maka jumlah kas yang ada di dalam perusahaan yang well finance hendaknya tidak kurang dari 5 % – 10 % jumlah current asset.

Salah satu model yang digunakan untuk menentukan jumlah kas yang optimal yang dikenal dengan model W J Baumol memiliki rumus sebagai berikut:

Keterangan:

b = by transfer

T = amount of cash out flow

I = the interest rate

The optimal average cash balance

Untuk memudahkan penerapan dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Jumlah kebutuhan uang tunai (T) selama satu tahun Rp 1,8 milliard, biaya transaksi Rp 25.000.000,- tingkat suku bunga 10% maka:

= Rp 30.000.000

Saldo kas rata-rata =

= Rp 30.000.000 / 2

= Rp 15.000.000

…. Lebih lengkap tentang KAS

.

Kaitkata:
2009/07/15

Penyusunan laporan Keuangan Pada Penggunaan Metode Penjualan Angsuran

Neraca dari perusahaan yang melakukan penjualan angsuran mencakup piutang penjualan angsuran dan saldo laba kotor yang belum direalisasi atas piutang penjualan angsuran. Apabila aktiva lancar yang dipegang mencakup sumber daya yang layak untuk direalisasi menjadi penerimaan kas, maka piutang penjualan angsuran memenuhi syarat untuk dicantumkan sebagai piutang lancar. Dalam melaporkan piutang penjualan angsuran sebagai piutang lancar pengungkapan tanggal jatuh tempo kontrak penjualan angsuran akan memberikan penilaian atau gambaran terhadap neraca mengenai posisi laporan keuangan perusahaan.

Berkaitan dengan pengelompokan yang tepat atas saldo laba kotor yang belum direalisasi dalam neraca, saldo harus dilaporkan sebagai:

1. Sebuah pos kewajiban atau hutang yang harus dimasukkan dibawah judul pendapatan yang ditangguhkan.

2. Sebuah perkiraan penilaian aktiva yang harus dikurangkan dari piutang penjualan angsuran.

3. Sebuah pos modal yang harus dimasukkan sebagai bagian dari laba yang ditahan.

Laba kotor yang belum direalisasi atas penjualan angsuran biasanya dilaporkan dalam neraca pada pos kewajiban atau hutang lancar.

Laba kotor yang belum direalisasi atas penjualan angsuran terdiri dari laba kotor yang belum direalisasi untuk tahun sebelumnya dan laba kotor yang belum direalisasi untuk tahun sekarang atau tahun dimana penjualan angsuran berakhir.

Penagihan atas kontrak penjualan angsuran ditetapkan bahwa penjualan angsuran telah menghasilkan laba kotor sebagaimana halnya dengan penjualan biasa. Penyisihan untuk beban yang kontinyu, yang masih diantisipasi dalam penagihan piutang penjualan angsuran yang meliputi beban-beban yang timbul dari ketidakmampuan membayar dan pemilikan kembali. Penyisihan ini dikurangkan dari saldo piutang penjualan angsuran, saldo yang menyatakan laba bersih yang ditetapkan pada kontrak penjualan angsuran jumlah ini dapat dilaporkan sebagai laba yang ditahan, yang tidak harus digunakan sampai piutang penjualan angsuran dapat tertagih.

Dengan mengelompokkan kembali saldo laba kotor yang belum direalisasi maka laba atas penjualan angsuran akan ditetapkan sebagai pos akrual untuk tujuan laporan keuangan. Perhitungan rugi-laba untuk perusahaan yang melakukan penjualan biasa dan penjualan angsuran, menunjukkan laba kotor untuk masing-masing jenis penjualan total laba kotor untuk masing-masing jenis penjualan total laba kotor. Neraca dan perhitungan rugi-laba yang akan memberikan analisa-analisa laba kotor atas penjualan angsuran.

Lebih lengkap tentang PENDAPATAN …


Terima kasih: Duta PulsaPersewaan Alat PestaTokonya Arek SuroboyoToko JilbabKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah


2009/07/15

Anggaran Kas Dalam Rangka Optimalisasi Kas

Dalam usaha untuk merencanakan dan mengendalikan penerimaan dan pengeluaran kas sangatlah diperlukan suatu perencanaan yang berupa anggaran kas.

Anggaran kas merupakan suatu cara yang efektif dalam merencanakan dan mengendalikan arus kas, menilai kas yang dibutuhkan dan menggunakan kelebihan kas yang ada secara efektif pula. Anggaran kas merupakan alat utama untuk membuat estimasi keuangan jangka pendek. Tujuan utama di dalam penyusunan anggaran kas adalah untuk merencanakan atau menentukan kegiatan operasional perusahaan sebagai dasar untuk menentukan optimalisasi kas dimasa yang akan datang

Optimalisasi kas merupakan usaha perusahaan, dimana kas yang ada di dalam perusahaan harus tetap dijaga agar jangan sampai kas tersebut mengalami kelebihan atau kekurangan dalam melakukan aktivitas perusahaan. Kas harus disediakan dalam jumlah dan batas-batas yang telah ditentukan

Menurut M. Munandar (1985:311), Anggaran kas adalah:

“Anggaran kas adalah budget yang merencanakan secara lebih terinci tentang semua jumlah kas beserta perubahan-perubahannya dari waktu ke waktu selama periode tertentu dimasa yang akan datang, baik perubahan yang berupa penerimaan kas maupun yang berupa pengeluaran kas”.

Sedangkan Hecket, Wilson dan Campbell, (1981:402) dalam bukunya Controllership, tugasnya Akuntan Manajemen, menyatakan definisi dari anggaran kas adalah:

“Anggaran kas adalah merupakan program penjualan dan biaya yang terkoordinasi serta terkorelasikan dengan perubahan-perubahan neraca, penjualan serta pengeluaran yang diperkirakan.”

Dari beberapa penjelasan tersebut diatas, dapatlah kita simpulkan bahwa anggaran kas adalah gambaran atas seluruh rencana penerimaan dan pengeluaran uang tunai yang bertalian dengan rencana keuangan perusahaan dan transaksi lainnya yang menyebabkan perubahan-perubahan pada posisi kas atau menunjukkan aliran kas pada periode tersebut.

Dan dari pengertian-pengertian diatas dapat pula kita ketahui bahwa anggaran kas mempunyai tiga sektor, yaitu:

1. Sektor penerimaan kas, yang ada pada umumnya berasal dari

a. Penjualan tunai barang jadi yang diproduksi

b. Penagihan piutang

c. Penjualan aktiva tetap

d. Penerimaan lain-lain (non operating) seperti penghasilan bunga, penghasilan sewa, penghasilan deviden dan lain sebagainya

2. Sektor pengeluaran kas, yang pada umumnya berupa pengeluaran untuk biaya-biaya baik berupa biaya utama (operating) maupun biaya-biaya bukan utama (non operating), seperti contoh:

a. Pembelian tunai

b. Pembayaran hutang

c. Pembayaran upah tenaga kerja langsung

d. Pembayaran biaya pabrik tidak langsung

e. Pembayaran biaya administrasi

f. Pembayaran biaya penjualan

3. Sektor keuangan, yang disusun apabila perusahaan mengalami defisit yang memerlukan pinjaman dan sebagaimana pelunasannya dilakukan.

Penyusunan anggaran kas bagi suatu perusahaan sangat penting artinya guna menunjang operasional perusahaan. Menurut Syamsuddin, MA (1985:144) dalam bukunya susunan anggaran kas dapat digambarkan sebagai berikut:

Perusahaan “PENDI GAMA”

Budget kas untuk bulan Juli-Desember 19XI

(dalam ribuan Rp)

Keterangan

Juli

Agustus

Sept

Okt

Nop

Des

Saldo awal kas

Penerimaan kas

Penjualan tunai

Pengumpulan piutang

Pinjaman bank

Penerimaan lain

200

150

900

160

-

100,2

100

1.250

-

-

270,4

200

1000

-

-

100,21

250

1.600

113

75

242,02

150

2.150

-

-

893,03

150

1.550

-

-

Jumlah total kas

Pembelian tunai

Pembayaran hutang

Upah dan gaji

Biaya penj. & adm.

Sewa gedung

Pembayaran deviden

Pajak

Pembayaran bunga

Pembayaran pinj. Bank

1.410

1.450,2

1.583,4

2.025,21

2.542,02

2.593,03

60

720

150

175

100

100

-

4,8

-

120

630

150

175

100

-

-

4,8

-

150

900

150

175

100

-

-

8,19

-

90

1.260

150

175

100

-

-

8,19

-

90

990

150

175

100

-

-

3,99

140

120

810

150

175

100

100

200

-

133

Total pengeluaran kas

Saldo akhir bulan

1.309,8

1.179,8

1.483,19

1.783,19

1.648,99

1.788,0

100,2

270,4

100,21

242,21

893,03

805,03

Sumber Manajemen Keuangan Perusahaan

Lebih  lengkap tentang Kas

Kaitkata: ,
2009/07/04

Pembatalan Kontrak dan Pemilikan Kembali pada Penjualan Angsuran

Mendukung .

Apabila si pembeli gagal memenuhi kewajiban seperti yang tercantum di dalam surat  perjanjian penjualan angsuran maka barang-barang yang bersangkutan ditarik penjual. Dalam hal ini pencatatan yang harus dilakukan dalam buku-buku si penjual, akan menyangkut:

1. Pencatatan pemilikan kembali barang dagangan

2. Menghapuskan saldo piutang penjualan atas barang-barang tersebut

3. Menghapuskan saldo laba kotor yang belum direalisasi atas penjualan angsuran yang bersangkutan

4. Pencatatan keuntungan atau kerugian karena pemilikan kembali barang-barang tersebut.

Sebagaimana halnya dengan persoalan pertukaran seperti diterangkan di muka dalam pemilikan barang kembali barang dagangan jug diperlukan, maka dalam pemilikan barang dagangan juga diperlukan penilaian kembali harga barang yang bersangkutan. Menurut pendapat Allan R. Drebin (1996:134) dalam buku Akuntansi Keuangan Lanjutan bahwa: penilaian kembali harga barang tersebut, harus mempertimbangkan juga sejumlah keuntungan normal yang dapat diharapkan apabila barang itu dijual kembali.

Contoh:

Seorang konsumen sepeda motor telah gagal dan tidak dapat memenuhi kewajibannya terhadap barang yang telah dibeli dengan harga Rp 4.000.000,00. dari jumlah harga tersebut telah dibayar oleh konsumen yang bersangkutan sebesar Rp 2.000.000,00. sepeda motor yang ditarik dan dimiliki dealer tersebut nilainya ditaksir Rp 1.800.000,00 dengan sudah memperhitungkan cadangan untuk perbaikan-perbaikan dan keuntungan normal yang diharapkan bila dijual kembali.

Maka dealer tersebut mencatat perhitungan sebagai berikut:

Perhitungan:

Jumlah kas yang diterima                                                           Rp 2.000.000,00

Dikurangi:

* Harga pokok barang dagangan

(65% x Rp 4.000.000,00)                 Rp 2.600.000,00

* Nilai pada saat pemilikan kembali       Rp 1.800.000,00

Rp    800.000,00

Laba atas barang yang ditarik kembali                           Rp 1.200.000,00

Laba yang telah diakui sebelumnya

(35% x Rp 2.000.000,00)                                                        Rp    700.000,00

Rp    500.000,00


Pendapatan


Terima kasih: Duta PulsaPersewaan Alat PestaTokonya Arek SuroboyoToko JilbabKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah


Mendukung .

Kaitkata:
2009/07/04

Pengertian Penjualan Angsuran

Mendukung .

Menurut Allan R. Drebin  (1996: 121) dalam buku Akuntansi Keuangan Lanjutan  penjualan angsuran barang dagangan adalah:

“Penjualan barang dagangan yang pembayarannya dilakukan secara bertahap dalam jumlah dan waktu yang telah ditentukan. Dan didalam penjualan angsuran barang-barang dagangan mempunyai ketentuan sebagai berikut:

1. Pembayaran Uang Muka

Yaitu pembayaran uang muka yang dilaksanakan secara tunai yang jumlahnya sebesar persentase tertentu dari harga jual barang atau sebesar jumlah rupiah yang telah ditentukan

2. Pembayaran Angsuran

Yaitu pembayaran uang tunai periodik sebagai pembayaran angsuran yang besarnya telah ditentukan sebelumnya atau ditentukan besar kecilnya yang tergantung pada lamanya jangka waktu angsuran.

Menurut Hadori Yunus Harnanto  (1987:6) dalam buku Akuntansi Keuangan Lanjutan penjualan angsuran adalah penjualan yang dilakukan dengan perjanjian dimana pembayaran dilakukan secara bertahap yaitu pada saat barang-barang diserahkan kepada pembeli, penjual menerima pembayaran pertama sebagai bagian dari harga penjualan (down payment) dan sisanya dibayar dalam beberapa kali angsuran.

Dan untuk melindungi kepentingan penjual dari kemungkinan tidak ditepatinya kewajiban-kewajiban oleh pihak pembeli, maka terdapat bentuk perjanjian (kontrak penjualan) penjualan angsuran sebagai berikut:

1. Perjanjian penjualan bersyarat (conditional sales contract). Dimana barang-barang telah diserahkan, tetapi hak atas barang-barang masih berada di tangan penjual sampai seluruh pembayarannya pertama.

2. Pada saat perjanjian ditandatangani dan pembayarannya pertama telah dilakukan hak milik dapat diserahkan kepada pembeli, tetapi dengan menggadaikan atau menghipotik untuk bagian harga penjualan yang belum dibayar kepada si penjual.

3. Hak milik atas barang untuk sementara diserahkan kepada suatu badan “trust” (trustee) sampai pembayaran harga penjualan dilunasi. Setelah pembayaran lunas oleh pembeli baru trustee menyerahkan hak atas barang-barang itu kepada pembeli. Perjanjian semacam ini dilakukan dengan membuat akte kepercayaan.

4. Beli-sewa (lease-purchase), dimana barang yang telah diserahkan kepada pembeli. Pembayaran angsuran dianggap sewa sampai harga dalam kontrak telah dibayar lunas, baru sesudah itu hak milik berpindah kepada pembeli.

Untuk mengurangi atau menghindarkan kemungkinan kerugian yang terjadi dalam pemilikan kembali, faktor-faktor yang perlu diperhatikan oleh penjual adalah sebagai berikut:

1. Besarnya pembayaran pertama (down payment) harus cukup untuk menutup semua kemungkinan terjadinya penurunan harga barang tersebut dari semula barang baru menjadi barang bekas.

2. Jangka waktu pembayaran diantara angsuran yang satu dengan yang lain hendaknya tidak terlalu lama, kalau dapat tidak lebih dari satu bulan.

3. Besarnya pembayaran angsuran periodik harus diperhitungkan cukup untuk menutup kemungkinan penurunan nilai barang-barang yang ada selama jangka pembayaran yang satu dengan pembayaran angsuran berikutnya.


Pendapatan


Terima kasih: Duta PulsaPersewaan Alat PestaTokonya Arek SuroboyoToko JilbabKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah


Mendukung Stop Dreaming Start Action

Kaitkata: ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 79 pengikut lainnya.