Arsip untuk ‘dari Ayuna’

2010/05/15

Obrolan kecil – Stop penyewaan anak

Keliling-keliling nyari pengiriman yang buka dan stand by namun, tak ada jua, hari itu kesempatan terakhir mengirim paket ke Singapore hanya lewat DHL yang ya.. cukup merogoh kantong.

Kendaraan tidak ada, asisten belum datang, semua sedang sibuk menjahit dan menyiapkan semua pesanan konsumen yang lainnya. Akhirnya naik angkot juga… enak naik angkot bisa santai… ga mikirin nyetirnya… tinggal duduk dan menunggu sampai ditujuan.

Masuk angkot hati mulai bertanya-tanya, mau kemana ibu-ibu membawa anak-anaknya dengan baju kusut, bolong sana sini, kotor dan bau…? mau kemana ya? Hanya diam dan menyimak pembicaraan mereka, aku mulai memahami keadaan mereka.

“mbok sewo piro arek iku war..? kok lucu emen to, larang yo?” / ” kamu sewa berapa anak itu war? kok lucu sekali.. mahal ya?” kata salah satu ibu yang duduk pas didepanku.

“halah murah kok ri… mek limangatus ewu sak wulan” / “halah murah kok ri.. cuma lima ratus ribu sebulan” jawab ibu yang sedang sibuk menatap anak sewaannya yang imut-imut itu, tak tega rasanya melihat nasib mereka.

“mengko mbok ajak neng endi wae arek lucu iku, tak pek e wae lucune rek rek…” / “nanti kamu bawa kemana saja anak lucu itu, aku mintanya sini lucu rek rek”

“yo ojo sakno mengko ibukne” / “ya jangan kasihan nanti ibunya”

“mbok pakani opo war?” / “kamu beri makan apa aja war?”

“halah mek roti karo es teh wes wareg kok” / “halah cuma roti dan es teh sudah kenyang kok.”

Masya Allah… bisa bayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya dengan anak-anak yang disewakan ibunya kepada para pengemis hanya untuk uang 500.000 selama sebulan, dan menghiraukan gizi yang dibutuhkan anak itu, perkembangan jiwa anak itu, kesehatan anak itu.

Bisa kalian bayangkan…
Lalu bagaimana kita memperbaikinya…

Obrolan kecil dipersembahkan oleh Ayuna Kusuma

Kaitkata:
2010/05/15

Obrolan Kecil – Penulis, Pembaca, dan Membaca

Sudah beberapa hari tak mengobrol sendiri di facebook lewat catatan. Disamping ada banyak kerjaan yang menumpuk, banyaknya konsumen yang ingin barangnya dikirim cepat, ada pula alasan yang konkrit, namun apa gunanya alasan bila hanya untuk media mengeluh.

Tulisanku tak butuh penggemar, namun perlu sekali pembaca yang memiliki niat memahami esensi tulisan bukan hanya menebak nebak, ada apa dengan sang penulis. Tulisan yang menyedihkan bukan berarti sang penulis sedang bermuram hati, siapa tahu sang penulis sedang bahagia lalu ia ingin sedikit warna dalam hidupnya dengan menulis kesedihan yang bisa membuat siapapun yang membacanya menangis, atau tulisan yang penuh kebahagiaan bukan berarti yang menulis bahagia juga, bisa jadi sebaliknya.

Tadi malam aku pergi dengan suami ke toko buku, didalamnya warna warni cover buku menyilaukan mata. hati ingin membeli semua buku dengan cover yang lumayan bagus, atau dengan cover yang super imut, dan judul yang menjebak pikiran atau judul penuh petualangan di negri anta barantah.
Akhirnya aku hanya membeli sebuah buku mengenai hal yang ingin aku ketahui, buku non fiksi yang membuka semua tabir rahasia kewanitaan.

Kata seorang teman. pembaca yang baik adalah pembaca yang tak tertarik pada sebuah buku dari covernya saja, pembaca yang menelaah sebuah buku bukan dari sinopsisnya saja, pembaca yang bukan menilai dari harganya saja. Pembaca yang baik adalah pembaca yang mengetahui apa fungsi buku yang ia baca.

Obrolan kecil dipersembahkan oleh Ayuna Kusuma

Kaitkata:
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 79 pengikut lainnya.