Arsip untuk ‘Dongeng’

2011/12/12

Legenda Tua di London. tentang kucing hitam “Annabel and Black Cat”

Pada Zaman dahulu…. ada seorang gadis yang tinggal disebuah kastil  peninggalan nenek moyangnya. Ia tinggal bersama ibunya yang bekerja sebagai pembantu di kastil tetangga milik seorang saudagar.

Memang gadis dan ibunya ini memiliki kastil yang besar, namun mereka miskin, karena tidak bisa mengelola kastil dan tidak memiliki keahlian lain. Sang gadis bernama Annabel. dia seperti gadis desa biasa. dengan rambut dikuncir dua dan setiap harinya bekerja di halaman belakang kastil yang dijadikan peternakan sementara oleh ibunya. untuk menyambung kehidupan mereka berdua.

 

Suatu hari di kandang sapi. Annabel menemukan kucing hitam pekat bermata kuning keemasan. dengan luka dan darah disekujur tubuhnya. Tak berpikir panjang, ia rawat kucing itu setiap harinya.

 

Selama 4 bulan kucing itu dirawat Annabel, ia beri nama kucing itu Romeo, karena Annabel sangat menyukai cerita Romeo dan Juliet ciptaan William Shakespeare. Si Romeo membaik pada bulan ke 5.

 

Namun karena bekerja setiap hari dan membersihkan seluruh sudut kastil, ibu Annabel menjadi sakit-sakitan dan meninggal.

 

Lalu Annabel hidup sendirian menghidupi dirinya dan mengurusi kastilnya. Beberapa kali ia berpergian ke kota untuk menjual kastilnya. Namun banyak orang berniat membeli dengan harga yang sangat murah.

 

Annabel pun mengurungkan niatnya untuk menjual kastil warisannya. Setiap hari ia tinggal bersama kucing itu di kastil dan hewan lainnya di peternakan. Agak menjenuhkan dan menyedihkan. Lalu suatu malam. Annabel bercerita pada Romeo.

 

“Aku sangat kesepian…. andai saja ada seorang pangeran yang datang menyelamatkanku.. dan membantuku… atau pria yang baik… karena jarang sekali pangeran berhati baik muncul di negri ini… tapi… aku bersyukur ada kau Romeo…”

 

Romeo dengan mata emasnya, menatap lekat-lekat si Annabel. Seakan tahu apa yang dikeluhkan tuannya.

Saat malam itu berlalu, dan berganti hari. Seorang pria dengan baju hitam datang mendatangi Annabel. Ia tidak mengatakan suatu hal apapun. Namun ia langsung bekerja membersihkan kastil, mengurus perkebunan, membantu Annabel menjual telur, daging, bulu domba kekota. Annabel sempat merasa aneh. Mengapa pria bisu yang tampan itu mau membantunya?. Lalu apa yang bisa dilakukan Annabel untuk membalas kebaikannya?.

Pertama kali pria itu datang. Annabel tak merasa takut atau khawatir. Bahkan ia merasa telah lama mengenal pria itu.

 

Setiap hari menjadi hari yang indah, mereka bekerja bersama, bercanda, makan bersama, seperti keluarga sendiri.

Namun anehnya. Pria itu selalu menghilang saat matahari tenggelam, ia tak mau makan sayuran. Ia hanya makan ikan, daging dan minum susu. Annabel tak pernah menganggap itu sebuah keanehan.

Waktu berlalu dengan cepat, Annabel menjadi bahagia dan melupakan kesepiannya. Namun Annabel merasakan hal yang aneh… pada siang hari, ia tak pernah melihat Romeo, dan tak pernah merindukan bermain dengan Romeo.  malah asyik menghabiskan waktu dengan pria bisu itu. Dan pria itu selalu memakai baju hitam yang sama setiap bertemu. Dan mengapa pria itu bergegas pergi saat matahari akan tenggelam?

 

Suatu hari, Annabel ingin pertanyaannya terjawabkan dengan sebuah pembuktian. Setelah pria itu bekerja dan membersihkan kastil. Dan matahari akan tenggelam. Dengan senyumnya yang khas, ia berpamitan kepada Annabel dan dengan gerak tangannya ia berjanji akan kembali besok. Annabel seperti biasa tersenyum hangat padanya.

Setelah pria itu berlari menjauh dari kastil, Annabel mulai mengikutinya dari belakang. Annabel melihat pria itu masuk kedalam hutan. Ia pun mengikutinya. Dan…

 

Annabel sangat terkejut, saat pria itu bersandar dibawah pohon dan menggesek-gesekkan kepalanya kepohon yang sangat besar, langsung saja pria itu berubah menjadi kucing hitam bermata emas, yang sering dipanggil Romeo oleh Annabel.

 

Annabel mendekati pohon dan memeluk Romeo dengan erat. Ia mengetahui bahwa itu sangat mustahil. Bagaimana bisa kucing yang ia sayangi begitu mencintainya dan rela berubah dengan sihir untuk menjadi manusia hanya untuknya. Saat Annabel menangis, air matanya jatuh ke bulu hitam Romeo.

Romeo pun berubah lagi menjadi manusia. Namun kali ini ia bisa berbicara seperti layaknya manusia

 

“Mengapa kau mengikutiku Annabel?… seharusnya kau jangan mengikutiku.. karena aku tidak akan bisa menemuimu lagi. Aku sudah berjanji pada seorang penyihir. Dia membuatku menjadi manusia pada pagi hari sampai matahari tenggelam, dan menjadi kucing saat malam hari . Namun apabila kau mengetahuinya, aku akan berubah menjadi manusia lalu hilang menjadi debu karena itu sudah perjanjianku dengan penyihir itu. Dia akan memberiku kebebasan menggunakan sihir. Apabila aku melanggarnya aku akan menerima hukuman. Annabel…  kau tidak akan bisa melihatku lagi, kau tidak akan bisa bersamaku lagi. Aku tidak bisa membantumu lagi” disentuhnya pipi Annabel yang penuh dengan air mata

“Annabel… mengapa kau turuti semua rasa penasaranmu? Mengapa?… sudah saatnya aku pergi… Maaf Annabel… aku tidak bisa mencintaimu lagi”

Annabel masih menangis dibawah pohon. Sampai suatu pagi seorang pemburu menemukan mayat Annabel tergeletak dibawah pohon, seluruh tubuhnya penuh dengan sayatan dahan pohon. Diperkirakan oleh masyarakat setempat,  Annabel bunuh diri karena ingin bersama Romeo. Dan tidak sanggup melewati kesendiriannya tanpa Romeo.

 

^__________^

Legenda ini sudah sangat tua.

Perangkum juga lupa siapa yang menulis legenda ini. karena perangkum menerima cerita ini dari Nenek tercinta, kisaran waktu 1828 di London. Karena Nenek saya menerima cerita ini dari beberapa tetangga di London.

Kucing hitam bermata emas memang dikenal memiliki daya mistis dan berhubungan dengan penyihir dari tahun 1800 sampai sekarang hehehe

 

Rangkuman Oleh

Admin Ayuna Kusuma

https://www.facebook.com/ayunakusuma

 

SILAHKAN SHARE ^______^

 

Kaitkata: ,
2010/12/08

Jaka Tarub (Cerita Bahasa Inggris)

Once upon a time, there was a young man named Jaka Tarub. He lived in a small village that had a beautiful lake. He usually walked around there.Cincin American Diamon Model Keping

One day, seven fairies went down to the earth to take a bath at a lake. They played with the pure water happily. One of them was Nawang Wulan. She had a very beautiful face. When they were taking a bath, Jaka Tarub peeped from the bush. He looked at Nawang Wulan and fell in love with her. He decided to take her shawl which was lying near the lake.

After the seven fairies had taken a bath, they took their shawl to go back to the heaven. How surprised Nawang Wulan was when she knew that her shawl had lost. It meant that she could not go back to the heaven. Jaka Tarub saw her and offered her to live in his house for a while. Nawang Wulan agreed with him.

Few weeks later, he married Nawang Wulan. She became a good wife for Jaka Tarub. They had a beautiful baby named Nawangsih. They loved her very much.

One afternoon, Nawang Wulan saw her shawl lied down in Jaka Tarub’s box. She was very shocked. Finally, she knew that Jaka Tarub had stolen her shawl in order to be able to marry her. She decided to leave Jaka Tarub and her baby. She went back to the heaven.

Kaitkata: ,
2009/11/05

Santoana – dongeng (mungkin bisa juga untuk bahan naskah drama)

Pada zaman dahulu di Pulau Jawa, hiduplah seekor burung cantik bernama Merak.

Bulunya mengkilat, berwarna indah. Lehernya panjang jenjang dengan kibasan ekor bagaikan kipas.

Merak yang cantik ini mendengar cerita dari teman-temannya sesama burung.

“Ada seekor burung gagah bernama Santoana. Burung ini tinggal di Pulau Sumbawa.

Hanya burung inilah yang pantas menjadi jodohmu. Kamu cantik dan Santoana gagah…”

Hampir setiap hari Merak mendengar kata-kata ini dari teman-temanya. Akhirnya, pada suatu hari, Merak memutuskan untuk mencari Santoana.

Di suatu pagi yang dingin, Merak pun pergi meninggalkan Pulau Jawa, yang ada di pikirannya hanyalah Santoana yang tampan. Perjalanan Merak memakan waktu berhari-hari. Beberapa laut dan pulau sudah dilewati.

Ketika ia bertanya pada burung di setiap pulau, jawabannya selalu sama, “Terbanglah terus! Pulau itu berada agak jauh ke timur.”

Jawaban dari para burung itu tidak membuat Merak putus asa. Ia terus terbang, terbang… sampai akhirnya ia tiba di sebuah pulau yang sangat panjang. Bertanyalah Merak dengan napas terengah-engah.

“Pulau apakah ini?”

“Ini adalah Pulau Panjang,” jawab Camar santun.

“Masih jauhkah tanah Sumbawa?” tanya Merak lagi.

“O, pulau yang terbentang di depan kita itu adalah Pulau Sumbawa.

Mendengar jawaban Camar, Merak pun sangat gembira. Setelah mengucapkan terima kasih, tanpa merasa lelah dia pun terbang lagi.

Pulau Sumbawa akhirnya berhasil ia pijak. Kini ia tinggal mencari Santoana.

Merak melangkah gemulai di sekitar pantai. Ekornya terkibas, leher jenjangnya melongok ke kiri dan ke kanan.

Setelah agak lama mengitari pantai bertemulah dia dengan burung hitam besar yang sedang mencari makan di tepi pantai. Orang Sumbawa menyebutnya Bongarasang.

Merak mendekat dan menceritakan maksud kedatangannya ke Pulau Sumbawa.

Ia juga bertanya tentang Santoana. Bongarasang sangat terpesona melihat Merak yang cantik. Timbullah akal liciknya. Bongarasang pura-pura diam dan tertunduk malu.

“Kenapa diam?” tanya Merak tak sabar.

“Aku diam dan malu karena akulah yang kau cari,” kata Bongarasang berbohong.

Merak lemas mendengar perkataan Bongarasang.

“Indah kabar daripada rupa,” keluhnya kecewa, sebab Bongarasang tidak setampan yang ia bayangkan.

Akan tetapi, karena sudah niatnya untuk menikah dengan Santoana, akhirnya Merak menikah dengan Bongarasang yang dianggapnya Santoana.

Waktu pun berlalu. Akhirnya pasangan itu mempunyai anak. Merak dan Bongarasang berencana mengadakan pesta besar. Bongarasang juga ingin memperkenalkan istrinya yang cantik kepada semua undangan.

Hari pesta pun tiba. Semua undangan berdatangan. Burung tua ketua adat juga datang. Merak dan anaknya sudah berdandan di tengah ruangan. Semua tamu memuji kecantikan ibu muda yang berasal dari Pulau Jawa itu. Bongarasang tersenyum bangga.

Ketika acara gunting bulu untuk keselamatan bayi burung akan dimulai, berkatalah ketua adat, “Tunggu sebentar, Santoana belum datang.”

Mendengar kata ketua adat itu, seketika wajah Merak berubah merah. Ia sangat marah kepada suaminya yang telah berbohong. Bongarasang tertunduk takut Merak menunggu dengan dada berdebar. Seperti apakah gerangan Santoana?

Dari kejauhan, Santoana datang dengan gagahnya. Bulunya indah mengkilat tertimpa sinar mentari. Suaranya terdengar nyaring. Pinggulnya melenggok dengan ekor berwarna hijau tua. Berjuntai tertiup angin. Bulu-bulu halus dengan perpaduan warna yang sangat indah, membungkus badan dan lehernya.

Tiba-tiba Merak terbang meninggalkan keramaian pesta. Hatinya sakit tak terkira menyangka kalau selama ini dia sudah dibohongi. Sambil menitikkan air mata, ia melantunkan lagu sedih daerah Sumbawa.

Kulempat let biru do,

Ku buya sanak parana

Kudapat taruna kokoh

(Kulewati beberapa pulau dan samudra, untuk mendapat jodoh yang sepadan, namun bertemu dengan lelaki pembohong)

Akhirnya Merak meninggalkan Pulau Sumbawa dengan perasaan malu dan kecewa. Anaknya ikut malu dan bersembunyi di dalam tanah. Sampai sekarang anak burung itu tetap bersarang di dalam tanah. Namanya Bartong. Santoana kemudian dikenal dengan nama Ayam hutan.

Menurut cerita, itulah sebabnya burung Merak tidak ada di Pulau Sumbawa sampai sekarang.

(Cerita rakyat Sumbawa – Nusa Tenggara Barat, diceritakan kembali oleh Agung TE Syahbuddin) Sumber: Bobo, 14 September 2006

dari buku sekolah

2009/06/10

Sangkuriang

A very long time ago in West Java, there lived a king, named Raden Sungging Pebangkara. He was a good ruler. He liked hunting in the forest very much.

In the forest, there lived a she-pig, actually a cursed goddess. One day, she came out of her hiding place looking for water. There, she saw a coconut shell �� lled with water. Expecting it to be a fresh water, she drank it, having no suspicious that it was the king’s urine left there the day before when he went hunting.

The consequence was very strange. She became pregnant. A few months later she gave birth to a very pretty girl.

When the king was hunting again in the forest, he saw the girl and was attracted by her beauty. He took her to his palace, then he called her Dayang Sumbi and treated her as his own daughter.

Time passed and Dayang Sumbi grew up into a beautiful girl. She was fond of weaving.

One morning as she was weaving, her weaving spool flew out of the window to the field. Because she was very tired, she mumbled, “Whoever is willing to help me pick up the spool, I’ll treat her as my sister if she is a girl. If he is a man, I’ll treat him as my husband”. These words were heard by a dog, called Tumang, actually a cursed god too. He immediately picked up the spool and gave it to Dayang Sumbi.

Seeing the dog had helped her, she fainted. The god had decided for her to undergo the fate. She became pregnant and a short time afterwards she gave birth to a healthy strong son whom she called Sangkuriang.

Sangkuriang became a handsome young man, as time went by. Like his grandfather, he was fond of hunting in the forest and Tumang was his faithful friend when roaming the woods. He didn’t realize that Tumang was actually his father.

One day, when the dog didn’t obey him to chase the pig, Sangkuriang was very angry and killed the dog and cut up his flesh into pieces and took it home to his mother. For a moment Dayang Sumbi was speechless and took a spool and flung it at him. This left a scar on the spot. Then Dayang Sumbi sent him away.

Sangkuriang left and wandered through the woods. He walked for years.

Finally he returned to his native place, but did not recognise it any longer. At the end of a vast rice �� eld, he noticed a house and saw a young girl sitting at her weaving-loom. He approached her and was charmed by her beauty. He was unaware that she was his own mother. Dayang Sumbi had been given eternal beauty by the gods which was why she looked young forever. She looked at him and noticing his good looks, she promised to marry him. They made plans for their wedding day, but one day she discovered the scar on his forehead.

She knew that he was her own son who had come back to his village.

She made an effort to make him understand that marriage between them was impossible, but Sangkuriang refused to accept it.

She had an idea and said to him “All right, you shall marry me if only you can dam up the Citarum river and build a big vessel all in one night”.

Sangkuriang agreed and started to work by using his magic powers and his praying to the gods for help.

To prevent the marriage, before Sangkuriang finished his work, she stretched the red veil which covered her head over the eastern side of the plain. Through her magic powers, the red light spread over the landscape, giving the impression that the sun was rising and that the time was up.

Angrily, Sangkuriang kicked the vessel which was almost finished, upside down.

Some times later the vessel became the mountain of Tangkuban Perahu on the northern side of Bandung.

Adapted from Folk Tales from Indonesia., 1999

Thank to www.okrek.com

Kaitkata:
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 79 pengikut lainnya.