Arsip untuk ‘Naskah Drama’

2011/03/25

Puisi karya seorang teman yang belum tahu namanya

Berharap tanpa pasti..

Hanya bermimpi..

Tak ada yang indahkan hatiku lagi..

Jenuh lusuh tak berarti..

Ku benci keadaanku ini..

Ku ingin temukan cahaya putih nan suci..

Tuk bangkitkan jati diri..

Melangkah dengan tujuan yang pasti..


.


Lalu berikut sebuah drama sederhana:

Sanam: siapa kau?

Sajna: aku pecinta..

Sanam: mengapa kau hampiri aku?

Sajna: karna hatiku yang membawa..

Sanam: sungguh ku bukan bidadari, yang membuat lelaki terpesona..

Sungguh ku bukan putri raja..

Yang membuat orang takluk dan tunduk terlena..

Sajna: Dan sungguh ku tak inginkan putri raja ataupun seorang bidadari..

Yang ku inginkan hanyalah rembulan yang selalu bercahaya di hati..

Kaitkata: ,
2010/01/19

Berkumpul di Hari Ibu (Contoh Naskah Drama)

Berkumpul di Hari Ibu

(Naskah Drama)

Tokoh:

Ibu Shofi:   59 tahun

Sandra:       35 tahun

Nora:           30 tahun

Silvi:             24 tahun

Meila:         20 tahun

Dilla:            8 tahun

Minem:      33 tahun

Latar/Lokasi:

Babak 1:     Ruang Keluarga

Babak 2:     Ruang Makan

Babak 3:     Ruang Keluarga

Babak 1

(Di sebuah ruang keluarga, duduk santai Ibu Shofi, Meila, Silfi, Nora)

Ibu Shofi:   Sepertinya jarang ya kita berkumpul seperti ini. Kalian berkumpul di rumah, untuk makan malam bersama, dengan ibumu yang sudah tua renta ini.

Kalian semua terlalu sibuk dengan urusan masing-masing sih.

Hmmmm Jadi… ibu sering sendirian deh di rumah.

Silfi:              Tapi sekarang tidak sendiri lagi kan bu?

Kami semua ada di sini menemani ibu.

(mendekat, memeluk dan mencium ibunya)

Ibu Shofi:   Mana Bagas, Meila? Dia jadi kesini kan?

Minem:      (Masuk membersihkan meja, tanpa bicara apa-apa)

Meila:         hmm sepertinya Mas Bagas sedang ada di Batam bu. Tanggung untuk pulang.

Proyeknya masih berjalan setengah.

Ibu Shofi:   Anak lima… kok… yang ngumpul cuma tiga…

Kemana lagi tuh si Sandra, jadi kesini tidak. Itu anak kok tidak bisa diatur ya?

Di suruh kuliah tinggi, malah maunya masuk teater. Disuruh kerja yang bener, malah sukanya pentas. (sambil mengelus dada)

Nora:           Bu… bu. Jangan seperti itu, Mbak Sandra kan anak ibu juga. Setiap manusia kan punya pilihan sendiri untuk hidupnya. Seperti Mbak Sandra memilih teater untuk menjalani hidupnya.

Minem:      Ya, ndoro, barang kali aja, Mbak Sandra itu bisa jadi artis terkenal, masuk tivi.

Silfi:              Nem, Nem, ngomong apa kamu itu. Eh, tapi bener juga ya?

Sana Nem, ambilin tasku yang tadi di kamar.

Minem:      Nggih. (langsung beranjak masuk)

Ibu Shofi:   Lah, bisnismu sekarang gimana Fi?

Maju kan?

Silfi:              Alhamdulillah bu. Ada investor yang mau mendanai. Website kita juga banyak pengunjungnya. Jadi pemasarannya sudah sampai ke luar negeri.

Ibu Shofi:   Duh, senangnya anakku yang ini berhasil. Jadi ingat almarhum ayahmu. Pasti dia juga bangga.

Tapi kapan kamu nikahnya???.

Nora:           Hehe… Silfi sudah punya calon bu, tinggal di ajukan aja ke Ibu.

Iya kan Fi? (Sambil mengedipkan mata ke Silfi)

Silfi:              (malu-malu)

Ibu Shofi:   Iyo, to Fi?

Ya, aku ikut senang. Udah cepat aja calonmu itu kamu bawa ke sini.

Silfi:              Inggih Bu. Tapi Mas Dani sepertinya masih sibuk dengan urusannya.

Insya Allah, setelah semua beres akan aku ajak kesini.

Nora:           Oh, kamu sekarang sama Dani toh?

Silfi:              (tersipu) ya Mbak.

Ibu Shofi:   Dani ya namanya?

Silfi:              Mengangguk pelan.

Minem:      (masuk) Ini tasnya Mbak (sambil menyerahkan bungkusan ke Silfi)

Silfi:              Makasih Nem.

Ibu Shofi:   Eh, anakmu tadi kemana Ra?

Silfi:              Iya, kemana Dilla tadi?

Nora:           Itu di depan sama Meila.

Tidak tahu lah, mereka kok cocok ya? Padahal kan tante sama ponakan.

Dilla…… (berteriak memanggil)

Dilla:            (berteriak dari luar) Sebentar bunda, ini masih asyik ni sama tante.

Ibu Shofi:   Sudah biarkan saja. Meila memang seperti itu kok Ra. Jiwanya masih jiwa anak-anak.

Silfi:              Gimana sih, mbak? kan biasa. Aku juga sering bercanda sama Dilla, dia memang anak yang lucu dan menyenangkan. Aku juga suka sama anakmu itu Mbak.

Minem:      Ndoro makanannya sudah siap. Monggo didahar…

Silfi:              Ayo bu kita makan…

Ibu Shofi    Sebentar Fi, ibu mau menunggu kakakmu Sandra dulu…

Nora:           tak usah ditunggu bu… Mbak Sandra sudah bilang tidak bisa datang.

Ibu Shofi:   Baiklah…

Silfi:              Oh, benarkah Mbak Sandra tidak akan datang?

Nora:           Katanya si begitu.

Ibu Shofi,  Nora, Silfi, Minem: (menuju ruang makan, disana tersaji berbagai makanan yang telah disiapkan untuk merayakan hari ibu malam itu)

Babak 2

(Di ruang makan, duduk menghadap meja makan, Nora, Ibu Shofi, dan Silfi. Minem merapikan meja dan menyiapkan sajian makanan)

Nora:           Nem nem… tolong panggilkan Dilla dan Meila, bilang makanan sudah siap.

Minem:      Ya mbak

Nora, Ibu Shofi, Silfi: (terdiam sambil merapikan duduknya)

(Berselang beberapa detik, didepan rumah, tampak minem berbicara ke Dilla dan Meilla yang sejak tadi terlihat asyik ngobrol)

Dilla:            Budhe Sandra!!!…… (berteriak didepan rumah sambil berlari menghampiri dan memeluk budhe Sandra)

Meila, Dhilla dan Sandra: (masuk ruang makan bersama Minem dibelakangnya)

Sandra:       Malam bu…

Ibu Shofi:   (diam sejenak dengan pandangan menyelidiki kearah Sandra)

Kemana saja kau Ndra? Pulang-pulang tanpa salam, lihat adik-adikmu sedari tadi sudah ada disini menemani ibu.

Nora:           Dilla sini nak… (Memanggil Dilla sambil menyuruhnya duduk disebelah)

Dilla:            Baju budhe bagus ya ma… (dengan suara pelan)

Nora:           iya sayang…

Sandra:       Dilla mau? Nanti budhe belikan ya (sambil tersenyum simpul kearah Dilla)

Ibu Shofi:   Sandra, jangan mengalihkan perhatian jawab, pertanyaan ibu tadi. (dengan nada tegas)

Sandra:       Maaf bu…

Assalamualaikum.

Semua:       Waalaikum salam.

Sandra:       Tadi ada pentas di Galerinya mas Dafa. Maaf hanya aku saja yang kemari, mas Dafa masih sibuk membereskan semua barang-barang seni nya, Mas Dafa ingin sekali bertemu dengan ibu tapi keadaan yang tidak bisa kompromi (sambil menunduk)

Ibu Shofi:   Kalian berdua… Ada saja alasan. Cucuku mana Ndra? (dengan nada geram)

Sandra:       Iya, Fian dan Nando ikut ayahnya beres-beres galeri.

Ibu Shofi:   Setiap kali kesini, cucuku tak pernah kau ajak.

Kenapa Ndra. Malu kau punya ibu seperti ini?

Nora:           Ya, mungkin tidak ada waktu yang tepat bu. Jangan salahkan Mbak Sandra.

Ibu Shofi:   Kalian selalu saja membela Sandra.

Meila:         Ibu… sudahlah… sekarang yang terpenting mbak Sandra sudah disini, meski tanpa Mas Bagas, Mas Dafa dan Mas Hari, kita bisa berkumpul disini khan (sambil membelai tangan ibunya)

Silfi:              Bu… makanannya kalau dingin tak akan enak untuk dimakan. Fian dan Nando, juga sudah bertemu ibu kan, lebaran kemarin.

Ibu Shofi:   Iya, aku hanya rindu dengan cucuku yang ganteng-ganteng itu.

Hmmm baiklah… maafkan ibu kalian ini ya… baiklah kita mulai saja makan malamnya.

Semuanya: Bismillahirahmanirahim

(Mereka semua makan malam dengan suasana yang sudah mulai mencair, tak ada ketegangan lagi diantara Sandra dan Bu Shofi)

***

Babak 3

(Di ruang  tengah setelah mereka selesai makan malam. Ibu duduk di kursi yang tersandar didepan meja, sedangkan Silfi, Nora, Minem, Meila dan Dilla duduk di Shofa. Sandra duduk disebelah Ibu Shofi untuk memijat kakinya yang sudah tua).

Ibu Shofi:   Ibu ini sudah tua… semakin tua… sudah tak seperti dulu yang mampu merawat kalian semua, yang menyayangi kalian dengan semangat yang tak kenal lelah. Namun kini ibu sudah lemah, lihat… kaki ibu sudah rentah… harusnya kalian mau bergantian menemani ibu, bukan hanya dihari-hari besar saja kalian semua baru kumpul (sambil tertunduk pilu)

Sandra:       Bu… maafkan sandra yang selama ini selalu mengecewakan ibu… tak pernah mendengar kata-kata ibu… (sambil memeluk ibu Shofi dan menangis pelan)

Ibu Shofi:   Ibumu ini selalu memaafkanmu nak… Ibu selalu mendoakanmu sandra… meski kau mungkin sering lupa dengan ibumu ini (Menangis tersedu-sedu)

Sandra:       Aku takkan pernah lupa dengan ibu yang melahirkanku dan merawatku selama ini

Ini hadiah buat ibu (sambil mengambil bingkisan berwarna putih dalam tasnya)

Ibu Shofi:   Terima kasih sandra…

Dilla:            Nek… ini hadiah untuk Nenek… dan ini hadiah untuk Bunda… (dengan tingkah lucunya)

Ibu Shofi dan Nora: oooh terima kasih sayang….

Meila:         Bu aku tak bisa memberikan apa-apa… aku beri ibu ciuman saja ya … (tersenyum sambil mencium pipi ibu shofi)

Dilla:            Aku juga mau tante. Untuk Ila mana?

Meila:         (langsung menarik Dilla dan menciuminya)

Silfi:              Terima kasih bu atas kasih sayangnya selama ini kepada kami semua, ibu tau… Ibu lah yang terbaik dalam hati kami

Ibu Shofi:   (menghapus air matanya dan tersenyum)

Alhamdulillah… ya Allah… malam ini begitu indah… Ibu… tak mengharapkan apa-apa dari kalian, bukan harta atau balasan yang ibu cari dan minta dari kalian. Ibu hanya ingin sayangilah ibumu ini nak… sebelum semuanya terlambat

Ibu bangga memiliki kalian semua…

Juga memiliki Minem yang senantiasa membantu ibu dan tak pernah sakit hati bila terkena marah ibu.

Minem:      Minem juga sayang sama ndoro… tapi ndoro jangan suka marah ya… nanti tambah tua… banyak senyum aza… ndoro.,… biar awet muda…

Semuanya: Hehhehehe

Dilla:            Iya, nenekku masih kelihatan cantik kok. Bahkan sepertinya masih lebih cantik nenek dari bunda.

Nora:           Iya, tul. Betul kamu Dilla, nenek memang terlihat cantik kalau selalu tersenyum. Jadi ibu nggak usah sedih ya. Senyum!

Ibu Shofi:   Sudah. Nih sudah senyum.

Semua:       (tersenyum)

Nora:           Oh, ya, Mbak Sandra tadi telpon kalau tidak bisa datang?

Sandra:       Ya, memang, tapi aku sempat-sempatin lah. Aku kan juga kangen sama ibu, juga pada kalian.

Silfi:              Ih, mbak Sandra bisa kengen juga ya.

Hehehe.

Nora:           Tuh, kan Bu. Mbak Sandra juga selalu ingat sama ibu.

Ibu Shofi:   (tersenyum)

Sandra:       Baiklah bu. Kami semua akan berjanji untuk menemani ibu bergantian.

Benarkan Nora.. Silfi..

Meila:         Iya, Mbak Sandra. Iya bu, kami akan menjaga ibu.

Karena kami semua sayang ibu.

Dilla:            Dilla juga sayang nenek. I love you grandma.

Ibu Shofi:   Alhamdulillah… (tersenyum bahagia)

(Malam itu dilewatkan dengan suka cita yang mengharukan, meskipun Ibu Shofi tidak bisa berkumpul dengan semua anak-anak dan menantunya. Keempat anaknya Sandra, Nora, Silfi, Meila dan cucunya Dilla, sudah membuahkan kebahagiaan yang istimewa di Hari Ibu. Selamat Hari ibu…)

Naskah Drama lain bisa didownload di www.duwur.com

Terima kasih pada: dutapulsa, okrek.com, TanyaTugasSekolah

Kaitkata:
2010/01/06

Siapa yang Mencuri? – Contoh Naskah Drama – (10 orang pemeran)

busana muslimbusana muslimSeragam Kerja BatikSeragam Kerja BatikSeragam Kerja BatikSeragam Kerja BatikSeragam Kerja BatikSeragam Kerja BatikSeragam Kerja Batikbusana muslimbusana muslimbusana muslimbusana muslimbusana muslimbusana muslimbusana muslimbusana muslimbusana muslimbusana muslim

Karya Ayuna…..

Tokoh:

Tomy

Ratih

Mala

Anggi

Nina

Salwa

Adim

Fano

Nanda

Ijonk

Latar belakang: Rumah Kos

Alur: Maju

Di kamar kos Ratih dan Mala, di suatu senja yang mendung.

Ratih:    Kau mencuri uangku!!! (dengan nada tercekat sambil menunjuk pada Mala yang duduk ruangan)
Kau tak tahu uang apa itu Mala. Itu uang kuliahku (menangis menggema memenuhi ruangan)

Mala:     (terdiam mendengar tangisan Ratih yang semakin mengeras)

Anggi, Nina, Salwa, Nanda: (mendatangi kamar Ratih dan Mala dengan kebingungan)

Nanda:   Ada apa ini? Apa-apaan kau ini Ratih? Kau apakan Mala? (sambil mendekati Mala)

Mala:     Aku tak pernah menyentuh barangmu Tih. Mana mungkin aku mencuri.

Anggi:   Berapa uang yang hilang itu Ratih?

Ratih:     Bukan hilang Anggi. Tapi dia… (tangan bergetar menunjuk ke arah Mala). Tapi dia yang mencuri.

Anggi:   Aku tanya berapa? (dengan nada sabar)

Ratih:     Satu juta Nggi.. satu juta…

Itu semua hasil kerja kerasku selama ini untuk membayar kuliahku.

Tapi dia curi seenaknya.

Mala:     (terus terisak pilu, sambil menundukkan kepala)

Nina:      Ratih….

Belum tentu Mala yang mencurinya…

Siapa tahu kau lupa menempatkannya.

Salwa:    Betul kata Nina itu Rat. Kita cari saja (sambil memakan keripik kentang yang ada di tangan kanan nya)

Ratih:     Wa… Aku punya bukti bahwa dia!! Pencurinya.

Mala:     Apa buktinya? (dengan nada gemetar)

Ratih:     (berjalan dengan mantab menuju meja rias Mala dan mengambil beberapa bungkus tas belanja.

Ratih:     Apa ini Mala? Apa ini? Dari mana uang yang kau gunakan untuk membeli semua ini?

Mala:     Itu… (kaget dan bingung)

Ratih:     Itu apa? Kau tak mau mengaku kan? (matanya melotot ke arah Mala dan bersiap-siap untuk menerjang Mala)

Nina, Salwa: (mencegah Ratih dengan cepat)

Ratih:     Mana ada pencuri yang mengaku. Awas kau Mala!

Nanda:   Mala, apa benar kau beli semua barang itu dengan uang Ratih?

Mala:     Itu… Itu aku beli bersama Tomy dengan uangku sendiri ditambahin Tomy, kemarin setelah selesai recital.

Ratih:     Kau! (sambil menuding Mala) Bukan uang saja yang kau curi, pacarku juga kau rampas. (meronta-ronta melepaskan tangan Nina dan Salwa) Lepaskan! Lepaskan! Biar kuhajar dia! Lepaskan Nin!

Nina, Salwa: (semakin kuat menahan Ratih)

Mala:     (sedikit menjauh dari Ratih dan mendekat ke Nanda)

Anggi:   Tega kau Mala. Untuk apa kau pergi dengan Tomy? Aduh, pantas malam setelah recital itu kau tak nampak sama sekali.

Mala:     Ratih… maafkan aku.. aku hanya pergi untuk membeli keperluan recital kalian… Lihat! (Sambil mengeluarkan semua barang-barang di dalam tas belanja) Lihat ini gaun untuk kalian. Ini perlengkapan untukmu Ratih. Lihat ini! (terus tersedu-sedu) Aku tak seperti yang kalian pikirkan. Aku tak seburuk itu.

Berlanjut……….

Yang Lain tentang Naskah Drama…

Kaitkata:
2009/12/20

Contoh naskah drama

Tokoh:

Tomy

Ratih

Mala

Anggi

Nina

Salwa

Adim

Fano

Nanda

Ijonk

Latar belakang: Rumah Kos

Alur: Maju

Di kamar kos Ratih dan Mala, di suatu senja yang mendung.

Ratih:    Kau mencuri uangku!!! (dengan nada tercekat sambil menunjuk pada Mala yang duduk ruangan)
Kau tak tahu uang apa itu Mala. Itu uang kuliahku (menangis menggema memenuhi ruangan)

Mala:     (terdiam mendengar tangisan Ratih yang semakin mengeras)

Anggi, Nina, Salwa, Nanda: (mendatangi kamar Ratih dan Mala dengan kebingungan)

Nanda:   Ada apa ini? Apa-apaan kau ini Ratih? Kau apakan Mala? (sambil mendekati Mala)

Mala:     Aku tak pernah menyentuh barangmu Tih. Mana mungkin aku mencuri.

Anggi:   Berapa uang yang hilang itu Ratih?

Ratih:     Bukan hilang Anggi. Tapi dia… (tangan bergetar menunjuk ke arah Mala). Tapi dia yang mencuri.

Anggi:   Aku tanya berapa? (dengan nada sabar)

Ratih:     Satu juta Nggi.. satu juta…

Itu semua hasil kerja kerasku selama ini untuk membayar kuliahku.

Tapi dia curi seenaknya.

Mala:     (terus terisak pilu, sambil menundukkan kepala)

Nina:      Ratih….

Belum tentu Mala yang mencurinya…

Siapa tahu kau lupa menempatkannya.

Salwa:    Betul kata Nina itu Rat. Kita cari saja (sambil memakan keripik kentang yang ada di tangan kanan nya)

Ratih:     Wa… Aku punya bukti bahwa dia!! Pencurinya.

Mala:     Apa buktinya? (dengan nada gemetar)

Ratih:     (berjalan dengan mantab menuju meja rias Mala dan mengambil beberapa bungkus tas belanja.

Ratih:     Apa ini Mala? Apa ini? Dari mana uang yang kau gunakan untuk membeli semua ini?

Mala:     Itu… (kaget dan bingung)

Ratih:     Itu apa? Kau tak mau mengaku kan? (matanya melotot ke arah Mala dan bersiap-siap untuk menerjang Mala)

Nina, Salwa: (mencegah Ratih dengan cepat)

Ratih:     Mana ada pencuri yang mengaku. Awas kau Mala!

Nanda:   Mala, apa benar kau beli semua barang itu dengan uang Ratih?

Mala:     Itu… Itu aku beli bersama Tomy dengan uangku sendiri ditambahin Tomy, kemarin setelah selesai recital.

Ratih:     Kau! (sambil menuding Mala) Bukan uang saja yang kau curi, pacarku juga kau rampas. (meronta-ronta melepaskan tangan Nina dan Salwa) Lepaskan! Lepaskan! Biar kuhajar dia! Lepaskan Nin!

Nina, Salwa: (semakin kuat menahan Ratih)

Mala:     (sedikit menjauh dari Ratih dan mendekat ke Nanda)

Anggi:   Tega kau Mala. Untuk apa kau pergi dengan Tomy? Aduh, pantas malam setelah recital itu kau tak nampak sama sekali.

Mala:     Ratih… maafkan aku.. aku hanya pergi untuk membeli keperluan recital kalian… Lihat! (Sambil mengeluarkan semua barang-barang di dalam tas belanja) Lihat ini gaun untuk kalian. Ini perlengkapan untukmu Ratih. Lihat ini! (terus tersedu-sedu) Aku tak seperti yang kalian pikirkan. Aku tak seburuk itu.

…… Bersambung…..

Kaitkata: ,
2009/11/05

Santoana – dongeng (mungkin bisa juga untuk bahan naskah drama)

Pada zaman dahulu di Pulau Jawa, hiduplah seekor burung cantik bernama Merak.

Bulunya mengkilat, berwarna indah. Lehernya panjang jenjang dengan kibasan ekor bagaikan kipas.

Merak yang cantik ini mendengar cerita dari teman-temannya sesama burung.

“Ada seekor burung gagah bernama Santoana. Burung ini tinggal di Pulau Sumbawa.

Hanya burung inilah yang pantas menjadi jodohmu. Kamu cantik dan Santoana gagah…”

Hampir setiap hari Merak mendengar kata-kata ini dari teman-temanya. Akhirnya, pada suatu hari, Merak memutuskan untuk mencari Santoana.

Di suatu pagi yang dingin, Merak pun pergi meninggalkan Pulau Jawa, yang ada di pikirannya hanyalah Santoana yang tampan. Perjalanan Merak memakan waktu berhari-hari. Beberapa laut dan pulau sudah dilewati.

Ketika ia bertanya pada burung di setiap pulau, jawabannya selalu sama, “Terbanglah terus! Pulau itu berada agak jauh ke timur.”

Jawaban dari para burung itu tidak membuat Merak putus asa. Ia terus terbang, terbang… sampai akhirnya ia tiba di sebuah pulau yang sangat panjang. Bertanyalah Merak dengan napas terengah-engah.

“Pulau apakah ini?”

“Ini adalah Pulau Panjang,” jawab Camar santun.

“Masih jauhkah tanah Sumbawa?” tanya Merak lagi.

“O, pulau yang terbentang di depan kita itu adalah Pulau Sumbawa.

Mendengar jawaban Camar, Merak pun sangat gembira. Setelah mengucapkan terima kasih, tanpa merasa lelah dia pun terbang lagi.

Pulau Sumbawa akhirnya berhasil ia pijak. Kini ia tinggal mencari Santoana.

Merak melangkah gemulai di sekitar pantai. Ekornya terkibas, leher jenjangnya melongok ke kiri dan ke kanan.

Setelah agak lama mengitari pantai bertemulah dia dengan burung hitam besar yang sedang mencari makan di tepi pantai. Orang Sumbawa menyebutnya Bongarasang.

Merak mendekat dan menceritakan maksud kedatangannya ke Pulau Sumbawa.

Ia juga bertanya tentang Santoana. Bongarasang sangat terpesona melihat Merak yang cantik. Timbullah akal liciknya. Bongarasang pura-pura diam dan tertunduk malu.

“Kenapa diam?” tanya Merak tak sabar.

“Aku diam dan malu karena akulah yang kau cari,” kata Bongarasang berbohong.

Merak lemas mendengar perkataan Bongarasang.

“Indah kabar daripada rupa,” keluhnya kecewa, sebab Bongarasang tidak setampan yang ia bayangkan.

Akan tetapi, karena sudah niatnya untuk menikah dengan Santoana, akhirnya Merak menikah dengan Bongarasang yang dianggapnya Santoana.

Waktu pun berlalu. Akhirnya pasangan itu mempunyai anak. Merak dan Bongarasang berencana mengadakan pesta besar. Bongarasang juga ingin memperkenalkan istrinya yang cantik kepada semua undangan.

Hari pesta pun tiba. Semua undangan berdatangan. Burung tua ketua adat juga datang. Merak dan anaknya sudah berdandan di tengah ruangan. Semua tamu memuji kecantikan ibu muda yang berasal dari Pulau Jawa itu. Bongarasang tersenyum bangga.

Ketika acara gunting bulu untuk keselamatan bayi burung akan dimulai, berkatalah ketua adat, “Tunggu sebentar, Santoana belum datang.”

Mendengar kata ketua adat itu, seketika wajah Merak berubah merah. Ia sangat marah kepada suaminya yang telah berbohong. Bongarasang tertunduk takut Merak menunggu dengan dada berdebar. Seperti apakah gerangan Santoana?

Dari kejauhan, Santoana datang dengan gagahnya. Bulunya indah mengkilat tertimpa sinar mentari. Suaranya terdengar nyaring. Pinggulnya melenggok dengan ekor berwarna hijau tua. Berjuntai tertiup angin. Bulu-bulu halus dengan perpaduan warna yang sangat indah, membungkus badan dan lehernya.

Tiba-tiba Merak terbang meninggalkan keramaian pesta. Hatinya sakit tak terkira menyangka kalau selama ini dia sudah dibohongi. Sambil menitikkan air mata, ia melantunkan lagu sedih daerah Sumbawa.

Kulempat let biru do,

Ku buya sanak parana

Kudapat taruna kokoh

(Kulewati beberapa pulau dan samudra, untuk mendapat jodoh yang sepadan, namun bertemu dengan lelaki pembohong)

Akhirnya Merak meninggalkan Pulau Sumbawa dengan perasaan malu dan kecewa. Anaknya ikut malu dan bersembunyi di dalam tanah. Sampai sekarang anak burung itu tetap bersarang di dalam tanah. Namanya Bartong. Santoana kemudian dikenal dengan nama Ayam hutan.

Menurut cerita, itulah sebabnya burung Merak tidak ada di Pulau Sumbawa sampai sekarang.

(Cerita rakyat Sumbawa – Nusa Tenggara Barat, diceritakan kembali oleh Agung TE Syahbuddin) Sumber: Bobo, 14 September 2006

dari buku sekolah

2009/10/07

Naskah Drama dari internet untuk mengerjakan tugas sekolah

Di tahun-tahun terakhir ini, banyak tugas sekolah yang disarankan oleh guru untuk menyelesaikannya dengan memanfaatkan internet. Salah satu yang banyak dicari adalah tugas bahasa dan tugas bioloagi. Naskah drama banyak dicari oleh pelajar sebagai contoh dalam menyelesaikan tugas sekolah.

Untuk tugas lain seperti kelainan alat reproduksi, dan dulu juga pernah tentang zat aditif, pencemaran lingkungan, limbah industri, dan lain-lain. Sedangkan untuk tugas kuliah, banyak para mahasiswa yang dengan inisiatif sendiri mencari sumber jawaban atas masalah akademiknya di internet.

Yang tidak kalah banyak dalam memanfaatkan internet untuk mencari sesuatu yang dibutuhkan adalah para karyawan. Dan ini sepertinya adalah pengguna internet terbanyak untuk masyarakat Indonesia. Para karyawan ini mencari hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaannya, yang tentu saja sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Naskah drama hanya salah satu contoh yang dicari di internet. Dan ini merupakan sesuatu yang baru untuk saat ini. Beberapa tahun yang lalu, sangat jarang anak sekolah yang memanfaatkan internet untuk menyelesaikan tugas sekolahnya. Dan untuk saat ini, para guru pun memang menyarankan untuk mendapatkannya di internet. Bahkan untuk sekolah yang belum tersedia jaringan internet disitu. Apalagi jika ada internet di sekolah.

Ya. Selamat datang internet untuk tugas sekolah di sekolah-sekolah. Untuk beberapa tahun terakhir ini.

Teman-teman ada masukkan lain tentang hal ini? Atau punya pengalaman yang menarik dalam pencarian suatu artikel untuk menyelesaikan tugas sekolah?

Silakan bagikan pada kita semua, pada form komentar di bawah!

Ada yang menawarkan jasa pembuatan naskah drama dengan harga yang sangat murah di http://tanyatugas.blogspot.com/

.

Kaitkata: ,
2009/09/08

Naskah Drama

Berikut Posting yang ada hubungannya dengan naskah drama, dan contohnya.

JAKA TUMBAL – Contoh Cuplikan naskah Drama

kutipan dialog naskah (drama) dari Albert Camus yang sudah diterjemahkan oleh Ahmad Asnawi

IMPIAN DITENGAH MUSIM – Contoh Cuplikan Naskah drama – Karya Shakespeare

Sudah – Naskah drama

Contoh Naskah Drama

kutipan dialog naskah (drama) dari Albert Camus yang sudah diterjemahkan oleh Ahmad Asnawi

KAMUS MINI “KESENIAN”

Botak – Naskah Cerita
Rama Bargawa -Naskah Drama

Rama Bargawa -Naskah Drama

Bunga Rumah Makan -Naskah Drama

contoh naskah drama

SANGKURIANG – Contoh Naskah drama untuk latihan pemeranan
Seniman Pengkhianat – (naskah drama karya HB. Jassin)

Tumbang -Naskah Drama

MANGIR -Pelaku, Naskah Drama

“BUNG BESAR” karya Misbach Yusa Biran -penggalan Naskah Drama

BABAK PERTAMA -ADEGAN I – Penggalan Naskah Drama

Tikus-Tikus Nakal -Naskah Drama

Kaitkata:
2009/08/18

/ contoh naskah drama

Pelaku:

- Pak Hanafi

- Ibu AsPendan Kristal Swarovski Kubus AKS09

- Calon Menantu

- Purwoko

- Istri Purwoko

Suasana:

Adegan terjadi malam hari di suatu ruangan (Bu As sedang membuka-buka brosur wisata ke luar negeri)

Pak Hanafi : (dalam hati) “Dasar orang miskin, bisanya cuma mimpi. Emangnya, kalau sudah buka-buka brosur begitu. Lantas sudah merasa berada di luar negeri …?

(Calon menantu duduk di samping Pak Hanafi)

Calon menantu : “Ibu mau pergi ke mana untuk merayakan Tahun Baru?”

Bu As : “Lha ini, aku sedang bingung. Pokoknya rahun ini aku harus keluar dari orbit ibu-ibu kompleks sini.

Sudah bosen merayakan Tahun Baru dengan mereka. Perayaan Tahun Barunya tidak mengesankan.

Hanya bakar sate, lantas apa lagi goreng singkong.

Nggak berkesan!”

Pak Hanafi : “Lha itu, Bu, untuk membeli kenangan alangkah mahalnya, harus pergi ke hotel, atau tempat lain.

Tabungan dikuras.”

Bu As : “Yang penting puas. Pak. Bapak kok iri sama orang berduit?”

Calon menantu : “Terus, Ibu mau ke mana?”

Bu As : “Aku sedang bingung. Mau Tahun Baru ke Prancis, di sana sedang ada pemogokan. Transportasi lumpuh.

Masak, pergi ke Prancis cuma mendekam di rumah Saudara. Kan, nggak enak. Mau nengok famili di Kanada, di sana sedang musim dingin.”

Pak Hanafi : (mencibirkan bibirnya)

Calon menantu : “Kan, ada baju tebal.”

Bu As : “Bukan perkara baju tebal, tetapi rematikku ini, lho.

Bisa kambuh nanti.”

Calon menantu : “Ke Australia saja, Bu As. Di sana kan sedang musim panas.”

Bu As : “Ya, ngapain ke sana. Cuma melihat kanguru.

Sudah ada, tuh, di sini. Di kebun binatang. Kenapa mesti ke sana.”

Pak Hanafi : “Alasan rematik, alasan kanguru, orang tidak punya tabungan saja, Ibu berlagak ….”

Bu As : “Siapa tahu ada yang mengongkosi ….”

Pak Hanafi : (agak marah) “Bu, di depan calon menantu jangan ngomong begitu, nanti dikira nyindir ….”

Calon menantu : (sambil meringis) “Saya sudah kebal kok, Pak, oleh sindiran. Saya memang orang yang benar-benar tidak punya.”

Bu As : (menjadi berang) “Bapak menuduh asal-asalan.

Memangnya aku minta diongkosi oleh menantu ….”

Pak Hanafi : “Yaa … misalnya, orang lain, mau Bu?”

Bu As : (Wajah berangnya kontan hilang, berubah terbelalak penuh harap). “Lho, siapa, Pak, yang mau mengongkosi?”

Pak Hanafi : “Ada, mau?”

Bu As : (sambil melihat kesungguhan suaminya). “Ya, mau.”

Pak Hanafi : “Ibu loncat pagar saja di kedutaan!”

Calon menantu : (tertawa terbahak-bahak).

Bu As : (kebingungan) “Lho, bisa toh, Nak?”

Calon menantu : “Ya, bisa, Bu, tetapi itu namanya minta suaka politik.”

Pak Hanafi : “Ya, nggak apa-apa, Bu. Ibu bilang saja pada orang kedutaan, sudah bosan tinggal di Indonesia. Punya suami sudah gaek, tidak bisa apa-apa. Di luar negeri jadi gelandangan juga diberi uang, kok, Bu.”

Bu As : “Huu, menghina, jadi gelandangan …. nggak, nggak sudi yaa ….”

Tiba-tiba terdengar suara “bluk” di belakang rumah.

Bu As : “Lho, apa itu?”

Calon menantu lari ke belakang. Bu As dan Pak Hanafi menyusul. Di pojok belakang ada sesosok lelaki terduduk. Kelihatannya habis loncat dari pagar dan kakinya sedikit kesakitan.

Bu As : (teriak) “Maliiiiing!”

Purwoko : “Bu, saya bukan maling, tetapi tetangga di belakang rumah Ibu.”

Bu As : “Lho, Nak Purwoko ….”

Purwoko : “Iya, Bu ….”

Pak Hanafi : (mendekat). “Dik, ini bukan kedutaan. Jangan minta suaka di sini. Apalah saya ini. Saya tidak permah melamar jadi duta besar, kok Adik mencari suaka di rumah saya ….”

Purwoko : “Maaf, saya … ng … saya mau dibunuh istri saya ….”

Bu As : “(geleng kepala). “Wah, ini perkara perselingkuhan.

Pasti ini. Biarlah suami istri orang Inggris saja yang pada selingkuh. Kenapa pada tiru-tiru.”

Pak Hanafi : (tertawa). “Perselingkuhan lagi nge-trend, kok, Bu.Menurut ramalanku, tahun 1996, bakalan banyak perselingkuhan.”

Purwoko tidak menghiraukan ocehan-ocehan tersebut dan hendak meninggalkan mereka, tetapi ….

Pak Hanafi : (sambil mengajak masuk ke dalam rumah). “Sudah, ditenangkan dulu.”

Purwoko : “Saya ini, ‘kan orang kapal, Bu. Sering keliling dunia ….”

Pak Hanafi melirik Bu As.

Pak Hanafi : “Itu, Bu, kalau mau keliling dunia secara gratis, Ibu jadi orang kapal saja ….”

Bu As : “Sembarangan. Orang kapal ….”

Purwoko : (menengah) “Saya sudah bosan jadi orang kapal.

Saya mau jadi orang daratan saja, Bu. Eee … istri saya malah marah. Katanya, di daratan banyak pengangguran. Lantas ia memaksa saya untuk berlayar lagi, tetapi saya tidak mau. Istri saya marah.

Lantas saya menuduh dia lebih senang saya tinggalkan. Biar bisa bersenang-senang dengan lelaki lain ….”

Pak Hanafi : (sambil mengangkat tangan). “Lho, bukan saya.

Saya sudah tua, lho ….”

Purwoko : (tersenyum) “Terus dia marah dan bawa pisau dapur. Saya mau ditusuk. Lantas saya lari.”

Calon Menantu : “Masak, tidak bisa dicegah sendiri. ‘Kan lelaki lebih kuat.”

Purwoko : “Saya menangkis dengan bantal dan guling sampai bantal dan guling itu ‘bodol’, tetapi dia tetap saja mengamuk. Lantas saya lari.”

Pak Hanafi : “Wah, ini pertanda berita tentang pembunuhan pada tahun 1996 semakin banyak. Tabloid-tabloid tidak bakal kekurangan bahan. Baiklah, Nak Purwoko di sini dulu. Saya mau tengok istri Nak Purwoko.

(sambil menepuk bahu calon menantu) “Ayo, temani Bapak ….”

Bu As : “Biar, aku saja ….”

Sumber: Nova, 17 Desember 1996


Persewaan Alat PestaKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah okRek.com · DutaPulsa


dari buku sekolah

Kaitkata:
2009/08/16

SANGKURIANG – Contoh Naskah drama untuk latihan pemeranan

Karya UTUY TATANG SONTANI

BABAK IV- ADEGAN 1

Malam hari

LAKONPERTAMA

Di halaman rumah. Sayup-sayup sampai di kejauhan terdengar suara gemuruh

Dayang Sumbi keluar dan rumah dengan suluh ditangan

1. DAYANG SUMBI: Rasa-rasa dalam mimpi

        • bahwa di malam ini

          sedang diciptakan telaga

          beserta perahunya,

          dimana aku akan berlayaran

          sebagai istri dan anakku sendiri

          Rasa-rasa dalam mimpi

          bahwa tadi

          aku dipinang anakku

          dan nanti

          akan menjadi ibu dari cucuku sendiri

          Ah, satu diantara dua :

          aku atau anakku,

          itulah yang sebenarnya bermimpi

          di malam ini

          Dan karena kini

          asal tadi dan bakal nanti,

          maka siapa yang bermimpi malam ini,

          itulah yang besok pagi kesiangan,

          itulah pemimpi sepanjang jaman

BUJANG MUNCUL

2. DAYANG SUMBI: Bagaimana ?

      • Apa yang nampak di mata ?

3. BUJANG : Bagai tenaga raksasa yang dicurahkan.

4. DAYANG SUMBI: Bagaimana ?

5. BUJANG : Bumi gemuruh

    • pohon-pohon pada tumbang

      batu-batu bergulingan

      membendung air,

      Dilanda air

      Dan siapa yang mengerjakan

      haiam tidak kelihatan

      Tapi yang tidak bisa dipungkin lagi

      telaga luas akan segera terbukti

6. DAYANG SUMBI: Dan perahu ?

7. BUJANG : Itupun hampir selesai

8. DAYANG SUMBI: Kalau begitu,

        • kita tidak boteh lalai

          Mang Aida Lepa dan kawan-kawannya, mesti segera diminta datang

9. BUJANG : Baik, Nyai, biar sekarang juga

    • bibi bangunkan semua

BUJANG TURUN

10. DAYANG SUMBI: Riuh gemuruh dikejauhan,

        • alamat telaga sedang dibangun.

          Riuh gemuruh di dalam dadaku,

          karena hati naik turun

          Ah, hatiku !

          hati manusia yang tahu tiada upaya,

          tapi juga hati seoiang ibu

          yang diancam bahaya

          Sebagai manusia,

          Ya. Dewata

          Hatiku turun ke bawah telapak

          kaki-Mu,

          hidmat menyembah kebesaran-Mu,

          menyerah

          mengalah kepada kehendak-Mu

          yang benar selalu

          Tapi sebagai ibu,

          ya, anakku !

          Hatiku naik ke atas puncak citamu,

          keras menolak keingmanmu,

          bertindak

          berontak menentang kebenaranmu

          yang tiada benar bagiku

BUJANG MUNCUL DIIRINGI ARDA LEPA DAN KAWAN-KAWAN

11. ARDA LEPA : Ada apa, Nyai ?

      • kami dipanggil di malam sepi ?

12. DAYANG SUMBI: Mamang, malam ini

        • bukan malam sepi.

          Malam ini malam yang seram

          malam yang berat mengancam

          Anakku Sang Kuriang

          mulai tadi siang

          menyatakan pendapatnya

          yang tidak disangka-sangka

          Dia tidak mau percaya

          bahwa mi bukan ibunya

13. ARDA LEPA : Tapi jika semua orang

      • sependapat dengan Sang Kunang,

        apa yang hendak kite katakan, kawan?

        Kita semua tidak menyaksikan

        kapan Sang Kunang dilahirkan,

        bukan?

14. BERSAMA : Biar buta I Biar mati!

      • Tak pernah kita mengetahui.

15. DAYANG SUMBI: Memang, kalau semua orang

        • sependapat dengan Sang Kuriang,

          itu terserah kepada mereka

          Tapi bagiku aku adalah ibunya.

          Kalau aku bukan ibu Sang Kuriang

          aku tidak akan menolak dia meminang.

          Dan mamang sekarang

          tidak akan diminta datang

          Apakah mamang setuju

          anak mengawini ibu ?

16. ARDA LEPA : Anak mengawini ibu ?

      • Yey, itu tidak lucu !

17. BERSAMA : Itu mesti disapu !

      • Lebih haram dan jinah !

        Lebih hewan dari hewan !

18. ARDA LEPA : Kalau betul Nyai ibu Sang Kunang

      • kalau betul Sang Kuriang meminang

        Sang Kunang mesti kami buang !

        Kalau tidak,

        kami semua ikut berjinah

        Kami menjadi hewan.

19. DAYANG SUMBI: Nantidulu

        • Dengar dulu!

          Sebagai ibu yang kasih sayang teRhadap

          anak, pinangan anakku tidak terangterangan

          ditolak,

          Aku berjanji mau kawin dengan dia,

          asal besok ban sedia perahu dan telaga,

          Ternyata sekarang

          Perahu dan telaga sudah hamper siap

          Berarti Sang Kuriang

          akan dapat memenuhi permintaan ku.

20. ARDA LEPA : Jadi sekarang Nyai ingin

      • supaya tidak jadi kawin ?

        supaya peiahu dan telaga

        besok tidak bukti ?

21 DAYANG SUMBI: Betul.

        • Karena itu ku menginginkan

          supaya kalian membakar hutan,

          biar apinya bersinar-sinar;

          menyerupai sinar fajar,

          biar anakku Sang Kuriang

          Melihat siang akan mendatang !

          biar maksudnya diurungkan,

          lantaran merasa kesiangan

22. ARDA LEPA : Ai, ai, Nyai ingin

      • Sang Kunang diajak bermam ?

        Itu lucu !

23. BERSAMA : Tapi apa mungkin ?

      • Sang Kuriang lain dan yang lain

24. DAYANG SUMBI: Sang Kuriang memang lain dari yang lain

      • tapi Sang Kuriang manusia

        Dan kepada manusia aku tetap yakin:

        ada Dewata dalam dirinya

        Dan selama ada Dewata

        di dalam din manusia

        kewajiban kita

        bukan menundukan membmasakan

        tapi menyalakan api keDewataan

        yang bersemayam di tubuh lawan

        Semoga api pembakar hutan

        menjadi api kedewataan

        yang bersinar terang-benderang

        dalam tubuh Sang Kunang !

25 ARDALEPA : Bagaimana kawan.

      • kita sekarang membakar hutan ?

26. BERSAMA : Asal terang

      • ada anak memang ibu

27. ARDA LEPA : Yang sudah terang

      • semua manusia adalah satu

        Orang lain masih kita juga.

        Karena itu,

        marilah kita ajak Sang Kuriang

        bermain bersama kita

        dengan api di tangan kita

        Inilah panggilan kita

        di dalam hidup bersama



Dari buku Sekolah

<<Ada juga naskah drama yang lain di sini>>

Kaitkata: ,
2009/08/03

SANGKURIANG – Contoh Naskah drama untuk latihan pemeranan

Karya UTUY TATANG SONTANI

BABAK IV- ADEGAN 1

Malam hari

LAKONPERTAMA

Di halaman rumah. Sayup-sayup sampai di kejauhan terdengar suara gemuruh

Peluang Usaha – Reseller Mode OkRek . . . . . . .  . . . . . . . . . . . . . . . Iklan
Peluang menjadi RESELLER untuk produk yang banyak dicari. Mudah dan gratis.

Adsense Indonesia
Menampilkan iklan lokal di blog dan dibayar. Untuk Anda yang ingin memulai bisnis internet dengan blog Anda.

Dayang Sumbi keluar dan rumah dengan suluh ditangan

1. DAYANG SUMBI: Rasa-rasa dalam mimpiAnting Batu ABB01

          • bahwa di malam inisedang diciptakan telagabeserta perahunya,

        dimana aku akan berlayaran

        sebagai istri dan anakku sendiri

        Rasa-rasa dalam mimpi

        bahwa tadi

        aku dipinang anakku

        dan nanti

        akan menjadi ibu dari cucuku sendiri

        Ah, satu diantara dua :

        aku atau anakku,

        itulah yang sebenarnya bermimpi

        di malam ini

        Dan karena kini

        asal tadi dan bakal nanti,

        maka siapa yang bermimpi malam ini,

        itulah yang besok pagi kesiangan,

        itulah pemimpi sepanjang jaman

BUJANG MUNCUL

2. DAYANG SUMBI: Bagaimana ?

      • Apa yang nampak di mata ?

3. BUJANG : Bagai tenaga raksasa yang dicurahkan.Anting American Diamond Model AAD01

4. DAYANG SUMBI: Bagaimana ?

5. BUJANG : Bumi gemuruh

      • pohon-pohon pada tumbangbatu-batu bergulinganmembendung air,

    Dilanda air

    Dan siapa yang mengerjakan

    haiam tidak kelihatan

    Tapi yang tidak bisa dipungkin lagi

    telaga luas akan segera terbukti

6. DAYANG SUMBI: Dan perahu ?

7. BUJANG : Itupun hampir selesai

8. DAYANG SUMBI: Kalau begitu,

        • kita tidak boteh lalaiMang Aida Lepa dan kawan-kawannya, mesti segera diminta datang

9. BUJANG : Baik, Nyai, biar sekarang juga

    • bibi bangunkan semua

BUJANG TURUN

10. DAYANG SUMBI: Riuh gemuruh dikejauhan,

          • alamat telaga sedang dibangun.Riuh gemuruh di dalam dadaku,karena hati naik turun

        Ah, hatiku !

        hati manusia yang tahu tiada upaya,

        tapi juga hati seoiang ibu

        yang diancam bahaya

        Sebagai manusia,

        Ya. Dewata

        Hatiku turun ke bawah telapak

        kaki-Mu,

        hidmat menyembah kebesaran-Mu,

        menyerah

        mengalah kepada kehendak-Mu

        yang benar selalu

        Tapi sebagai ibu,

        ya, anakku !

        Hatiku naik ke atas puncak citamu,

        keras menolak keingmanmu,

        bertindak

        berontak menentang kebenaranmu

        yang tiada benar bagiku

BUJANG MUNCUL DIIRINGI ARDA LEPA DAN KAWAN-KAWAN

11. ARDA LEPA : Ada apa, Nyai ?

      • kami dipanggil di malam sepi ?

12. DAYANG SUMBI: Mamang, malam ini

          • bukan malam sepi.Malam ini malam yang serammalam yang berat mengancam

        Anakku Sang Kuriang

        mulai tadi siang

        menyatakan pendapatnya

        yang tidak disangka-sangka

        Dia tidak mau percaya

        bahwa mi bukan ibunya

13. ARDA LEPA : Tapi jika semua orang

        • sependapat dengan Sang Kunang,apa yang hendak kite katakan, kawan?Kita semua tidak menyaksikan

      kapan Sang Kunang dilahirkan,

      bukan?

14. BERSAMA : Biar buta I Biar mati!

      • Tak pernah kita mengetahui.

15. DAYANG SUMBI: Memang, kalau semua orang

          • sependapat dengan Sang Kuriang,itu terserah kepada merekaTapi bagiku aku adalah ibunya.

        Kalau aku bukan ibu Sang Kuriang

        aku tidak akan menolak dia meminang.

        Dan mamang sekarang

        tidak akan diminta datang

        Apakah mamang setuju

        anak mengawini ibu ?

16. ARDA LEPA : Anak mengawini ibu ?

      • Yey, itu tidak lucu !

17. BERSAMA : Itu mesti disapu !

      • Lebih haram dan jinah !Lebih hewan dari hewan !

18. ARDA LEPA : Kalau betul Nyai ibu Sang Kunang

        • kalau betul Sang Kuriang meminangSang Kunang mesti kami buang !Kalau tidak,

      kami semua ikut berjinah

      Kami menjadi hewan.

19. DAYANG SUMBI: Nantidulu

          • Dengar dulu!Sebagai ibu yang kasih sayang teRhadapanak, pinangan anakku tidak terangterangan

        ditolak,

        Aku berjanji mau kawin dengan dia,

        asal besok ban sedia perahu dan telaga,

        Ternyata sekarang

        Perahu dan telaga sudah hamper siap

        Berarti Sang Kuriang

        akan dapat memenuhi permintaan ku.

20. ARDA LEPA : Jadi sekarang Nyai ingin

      • supaya tidak jadi kawin ?supaya peiahu dan telagabesok tidak bukti ?

21 DAYANG SUMBI: Betul.

          • Karena itu ku menginginkansupaya kalian membakar hutan,biar apinya bersinar-sinar;

        menyerupai sinar fajar,

        biar anakku Sang Kuriang

        Melihat siang akan mendatang !

        biar maksudnya diurungkan,

        lantaran merasa kesiangan

22. ARDA LEPA : Ai, ai, Nyai ingin

      • Sang Kunang diajak bermam ?Itu lucu !

23. BERSAMA : Tapi apa mungkin ?

      • Sang Kuriang lain dan yang lain

24. DAYANG SUMBI: Sang Kuriang memang lain dari yang lain

        • tapi Sang Kuriang manusiaDan kepada manusia aku tetap yakin:ada Dewata dalam dirinya

      Dan selama ada Dewata

      di dalam din manusia

      kewajiban kita

      bukan menundukan membmasakan

      tapi menyalakan api keDewataan

      yang bersemayam di tubuh lawan

      Semoga api pembakar hutan

      menjadi api kedewataan

      yang bersinar terang-benderang

      dalam tubuh Sang Kunang !

25 ARDALEPA : Bagaimana kawan.

      • kita sekarang membakar hutan ?

26. BERSAMA : Asal terang

      • ada anak memang ibu

27. ARDA LEPA : Yang sudah terang

        • semua manusia adalah satuOrang lain masih kita juga.Karena itu,

      marilah kita ajak Sang Kuriang

      bermain bersama kita

      dengan api di tangan kita

      Inilah panggilan kita

      di dalam hidup bersama

Dari buku Sekolah

Ada yang menawarkan jasa pembuatan naskah drama dengan harga yang sangat murah di http://tanyatugas.blogspot.com/

JAKA TUMBAL – Contoh Cuplikan naskah Drama

IMPIAN DITENGAH MUSIM – Contoh Cuplikan Naskah drama



Kaitkata:
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 79 pengikut lainnya.