Arsip untuk ‘Sastra’

2011/12/21

ANDAI KUTAHU (Contoh syair lagu Oleh: Ungu)

Disalin dari: http://www.bukupr.com/2011/12/andai-kutahu-contoh-syair-lagu-oleh.html

Andai kutahu kapan tiba ajalku
Kuakan memohon Tuhan tolong panjangkan umurku
Andai kutahu kapan tiba masaku
Kuakan memohon Tuhan jangan kau ambil nyawaku

Aku takut akan semua dosa-dosaku
Aku takut dosa yang terus membayangiku

Andai kutahu malaikat-Mu kan menjemputku
Izinkan aku mengucap kata tobat pada-Mu

Aku takut akan semua dosa-dosaku
Aku takut dosa yang terus membayangiku
Ampuni aku dari segala dosa-dosaku
Ampuni aku menangis kubertobat pada-Mu

Aku manusia yang takut neraka
Namun aku juga tak pantas di surga
Andai kutahu kapan tiba ajalku
Izinkan aku mengucap kata tobat pada-Mu

(Oleh: Ungu)
Kaitkata:
2011/02/05

Apresiasi sastra merupakan salah satu bentuk reaksi kinetik dan reaksi verbal

Mengapresiasi Sastra

Apresiasi sastra merupakan salah satu bentuk reaksi kinetik dan reaksi verbal seorang pembaca terhadap karya sastra yang didengar atau dibacanya.

Kata apresiasi diserap dari kata bahasa Inggris appreciation yang berarti penghargaan. Apresiasi sastra berarti penghargaan terhadap karya sastra. Apresiasi sastra berusaha menerima karya sastra sebagai sesuatu yang layak diterima dan mengakui nilai-nilai sastra sebagai sesuatu yang benar. Penghargaan terhadap karya sastra ini dilakukan melalui proses bertahap.

1. Tahap mengenal dan menikmati

Pada tahap ini, kita berhadapan dengan suatu karya. Kemudian kita mengambil suatu tindakan berupa membaca, melihat atau menonton, dan mendengarkan suatu karya sastra.

2. Tahap menghargai

Pada tahap ini kita merasakan manfaat atau nilai karya sastra yang telah dinikmati. Manfaat di sini berkaitan dengan kegunaan karya sastra tersebut. Misalnya memberi kesenangan, hiburan, kepuasan, serta memperluas wawasan dan pandangan hidup.

3. Tahap pemahaman

Pada tahap ini kita melakukan tindakan meneliti serta menganalisis unsur-unsur yang membangun karya sastra, baik unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsiknya. Akhirnya kita menyimpulkan karya sastra tersebut. Apakah karya sastra tersebut termasuk baik atau tidak, bermanfaat atau tidak bagi masyarakat sastra?

4. Tahap penghayatan

Pada tahap ini kita membuat analisis lebih lanjut dari tahap sebelumnya, kemudian membuat interpretasi atau penafsiran terhadap karya sastra serta menyusun argumen berdasarkan analisis yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya.

5. Tahap aplikasi atau penerapan

Segala nilai, ide, wawasan yang diserap pada tahap-tahap terdahulu diinternalisasi dengan baik, sehingga masyarakat penikmat sastra dapat mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam sikap dan tingkah laku sehari-hari.

Dengan demikian, kegiatan apresiasi sastra diartikan sebagai suatu proses mengenal, menikmati, memahami, dan menghargai suatu karya sastra secara sengaja, sadar, dan kritis sehingga tumbuh pengertian dan penghargaan terhadap sastra.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sastra adalah:

1) bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari).

2) karya tulis yang jika dibandingkan dengan tulisan lain memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya.

Sastra dalam pengertian umum adalah karya tulis yang merupakan ungkapan pengalaman manusia melalui bahasa yang mengesankan. Dalam sastra terkandung ide, pikiran, perasaan, dan pengalaman yang khas manusiawi, serta diungkapkan dengan bahasa yang indah. Jakob Sumardjo mengatakan bahwa sastra memiliki badan dan jiwa. Jiwa sastra berupa pikiran, perasaan, dan pengalaman manusia. Badannya berupa ungkapan bahasa yang indah. Karya sastra mempunyai tiga ciri yang melekat padanya.

1) Sastra itu memberikan hiburan.

Dalam lubuk hati manusia terpatri kecintaan akan keindahan. Manusia adalah makhluk yang suka keindahan. Karya sastra adalah ekspresi dari keindahan itu. Karena itu, karya sastra yang baik selalu menyenangkan untuk dibaca.

2) Sastra menunjukkan kebenaran hidup manusia.

Dalam karya sastra terungkap berbagai pengalaman hidup manusia: baik-buruk, benar-salah, menyenangkan-menyedihkan, dan sebagainya. Karena itu, manusia lain dapat memetik pelajaran dari karya sastra tersebut.

3) Sastra melampaui batas bangsa dan zaman.

Nilai-nilai kebenaran, ide atau gagasan dalam karya sastra yang baik bersifat universal sehingga dapat dinikmati oleh bangsa mana pun. Karya sastra yang baik juga dapat menerobos batas-batas waktu. Artinya, karya sastra tersebut tetap relevan sepanjang zaman.

2011/01/29

World of The Word – Puisi

Dengan kata aku buat kau hidup,

Kuciptakan duniamu saat itu juga, lalu kuhempaskan berbagai masalah untukmu

Sampai akhirnya kuhancurkan duniamu.

Dengan kata kubuat kau merasakan cinta

Kubuat kau tersiksa akan rindu

Kubuat kau menangis, tersenyum, menderita, bahagia.

Lalu kumatikan kau dengan satu kata

Dengan kata aku bisa membuatmu

Membolak balik sifatmu

Mengubah setiap takdirmu

Membelokkan fikiranmu seketika

Dengan kata aku bisa memberikan secercah harap dalam dirimu

Takdir yang menyakitkan,

Dengan kata aku bisa ikut campur dalam kehidupanmu.

Dengan kata aku bisa berbuat semauku padamu, duniamu, hatimu, segalanya

Dengan kata aku bisa membagi kehidupanmu

Akulah yang memiliki kata

Akulah yang berkuasa

By Ayuna Kusuma

Kaitkata: ,
2009/08/27

Istilah-istilah dalam bidang Sastra

Argumen : alasan yang dapat dipakai untuk memperkuat atau menolak pendapat, pendirian, atau gagasan.

Biografi : riwayat hidup yang ditulis oleh orang lain.

Diskriminatif : pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan suku, agama, ekonomi, dan sebagainya).

Diskusi : pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran mengenai suatu masalah.

Edukatif : bersifat mendidik.

Ekspresi : pengungkapan atau proses menyatakan maksud, gagasan, perasaan, dan sebagainya.

Fakta : hal (keadaan, peristiwa) yang merupakan kenyataan; sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi.

Generalisasi : perihal membentuk gagasan atau simpulan umum dari suatu kejadian, hal, dan sebagainya.

Identitas : ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang atau jati diri.

Implementasi : pelaksanaan; penerapan.

Informasi : pemberitahuan kabar.

Intonasi : ketepatan tinggi rendah nada.

Kaderisasi : hal mendidik menjadikan seseorang menjadi kader.

Kritik : kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian atau pertimbangan baik buruk terhadap hasil karya atau pendapat.

Kualitas : tingkat baik buruk sesuatu; kadar.

Mahir : sangat terlatih.

Mimik : peniruan dengan gerak anggota badan dan raut muka.

Nada : tingi rendah bunyi.

Paradigma : kerangka berpikir.

Program : acara

Proposal : rencana yang dituangkan dalam bentuk rancangan kerja.

Telekomunikasi : komunikasi jarak jauh melalui kawat (telegrap, telepon) dan radio.


Persewaan Alat PestaKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah okRek.com · DutaPulsa


dari buku sekolah

2009/08/07

Seniman Pengkhianat – (naskah drama karya HB. Jassin)

“Orang-orang yang sudah menjual jiwa dan kehormatannya kepada fasis Jepang disingkirkan dari pimpinan revolusi kita (orang-orang yang pernah bekerja di propaganda polisi rahasia Jepang, umumnya di dalam usaha kolone 5 Jepang). Orang-orang ini harus dianggap sebagai pengkhianat perjuangan dan harus diperbedakan dari kaum buruh biasa yang bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.” (Perjuangan Kita, oleh Sjahrir, h. 24).

X : “Belum juga dia datang. Janjinya pukul sebelas. Sekarang sudah lewat setengah jam.”

Y : “Ah, dia banyak urusannya barangkali. Sandiwara sangat maju.”

X : “Itu dia! Manuskripku sekarang ada padanya.”

Y : “Manuskrip yang mana?”

X : “Sandiwara 4 babak, Kesuma Negara.”

Y : “Oh, yang baru lagi?”

X : “Ya, abis? Kemauan zaman. Kita mesti turut zaman, bukan?”

Y : “Aku heran melihat engkau. Apa saja acaranya, engkau membuatnya menjadi sajak, cerita pendek, sandiwara, dan sebagainya.”

X : “Apa susahnya. Bikin saja, asal u sama u, a sama a, b sama b, sudah beres. Bikin cerita pendek syaratnya asal jangan lupa: menghancurkan musuh, musuh jahanam, musuh biadab; kemenangan tinggal tunggu hari lagi. Pihak kita: kesayangan Tuhan, Tuhan telah menjanjikan kita kemenangan dan sebagainya yang muluk-muluk, yang jelek-jelek pada pihak lawan.”

Y : “Kuheran. Engkau dapat menulis demikian.”

X : “Mengapa heran? Engkau juga bisa, kalau engkau mau.”

Y : “Biarpun aku meu, aku tidak bisa.”

X : “Bohong! (berbisik). Mengapa engkau begini bodoh? (sambil menunjuk ke sepatu Y). Lihat! Sepatumu sudah ternganganganga.

Bajumu telah berjerumat. Kalau engkau mau… kantor kami senantiasa akan menerima engkau.”

Y : “Kerjaku menjadi apa?”

X : “Biasa. Seperti aku sekarang. Sekali-sekali ada bestelan sajak, atau cerita pendek, atau sandiwara, atau lelucon.”

Y : “Lantas kalau ada bestelen, engkau yang bikin?”

X : “Mau apa lagi?”

Y : “Engkau bisa tulis?”

X : “Bisa.”

Y : “Wah! Engkau ini orang aneh. Misalkan, pemerintah memerlukan rambutan untuk santapan serdadunya. Lantas dia menginginkan rambutan yang jitu, temponya tiga hari, engkau bisa bikin?”

X : “Gampang, tiga hari terlalu lama. Pukul sebelas dibestel jam dua belas sharp, tanggung siap.”

Y : “Tapi engkau toh mengerti, bahwa pekerjaan yang demikian tidak ada jiwanya?”

X : “Jiwa? Perlu apa jiwa sekarang? Jiwa diobral di medan perang.

Hanya engkau yang meributkan perkara jiwa.”

Y : “Bukan demikian. Padaku sesuatu itu mesti ada ‘aku’-ku di dalamnya. Kalau tidak, aku tidak puas.”

X : “Kalau sekarang engkau hendak memasukkan ‘aku’–mu ke dalam suatu pekerjaan, nanti engkau akan mendapat panggilan dari Gambir Barat1.

Y : “Oleh karena itulah, engkau tidak bisa menulis seperti kehendakmu itu.”

X : “Bung! Aku bilang saja terus terang.

Gerak gerikmu sekarang diamat-amati oleh Gambir Barat.”

Y : “Aku sudah tahu lama. Tapi itu aku tidak ambil perduli.”

X : “Engkau harus hati-hati. Omonganmu jangan terlalu lancang.”

Y : “Aku tahu. Aku lemah. Aku tidak punya karaben. Tapi, kalau aku disuruhnya menulis-menulis, seperti yang engkau laksanakan, lebih baik aku makan tanah.”

X : “Apa hinanya? Dia kuanggap majikan, aku buruh. Aku makan gaji. Apa yang dia suruh, toh aku mesti bikin?”

Y : “Engkau mesti ingat. Engkau bukan buruh biasa. Engkau seorang seniman.”

X : “Tidak! Aku tidak pernah bilang aku seorang seniman. Aku orang biasa. Namaku X.”

Y : “Tapi pekerjaanmu? Pekerjaanmu mempropaganda ini itu kepada rakyat.”

X : “Rakyat toh mesti diberi penerangan?”

Y : “Betul! Tapi bukan penerangan yang menjerumuskan itu, kalau engkau bikin propaganda tentang laut, misalnya.”

X : “Aku tidak tahu.”

Y : “Memang. Engkau tidak tahu. Tapi mereka, anak-anak muda yang terpedaya oleh ajak, atau cerita pendek, atau sandiwaramu tentang laut, apa engkau bisa tanggung?”

X : “Mereka mesti tahu sendiri.”

“Sobat! Engkau bangsa apa?”

X : “Aku bangsa Indonesia.”

Y : “Tulen?”

X : “Tulen!”

Y : “Tidak ada campuran?”

X : “Tidak! Ibu bapak 100% bangsa Indonesia.”

Y : “Kalau begitu aku tidak tahu, mengapa engkau mau menggali kubur untuk bangsamu sendiri.”

X : “Aku tidak menggali kubur. Aku makan gaji.”

Y : “Tapi gajimu berlumuran darah bangsamu sendiri.”

X : “Tidak dengan pekerjaanku, bangsa kita toh sudah berlumuran darah.”

Y : “Jadi engkau hendak menambahnya lagi?”

X : “Pekerjaanku ini seperti titik dalam lautan. Tidakkan menambah dan tidak akan mengurangi.”

Y : “Oleh sebab itu, engkau kerjakan?”

X : “Mengapa aku saja yang engkau terkam?”

Y : “Karena aku anggap engkau wakil dari gerombolanmu.”

X : “Bukan golonganku saja yang diperbudak. Semua golongan, tidak ada terkecualinya.”

Y : “Aku juga tahu. Yang menjerit-jerit berteriak-teriak di lapangan besar, seperti orang edan, juga bangsa kita. Juga tukang tipu rakyat.”

X : “Nah. Itu dia. Jadi bukan aku saja.”

Y : “Itu bukan alasan untuk melakukan pekerjaanmu seperti sekarang ini.”

X : “Lantas maumu aku mesti makan angin?”

Y : “Bukan. Engkau dapat bekerja di lapangan lain. Pendidikanmu cukup.”

X : “Maaf. Tapi aku tidak dapat hidup seperti engkau.”

Y : “Engkau mempunyai cita-cita?”

X : “Penuh.”

Y : “Cita-citamu akan dapat menahan segala deritaan.”

X : “Aku tidak bisa. Tinggal di gubuk rebeh seperti engkau, maaf saja. Aku biasa tinggak di Laan. Baju mesti saban hari ganti, sepatu mesti necis, jangan sampai ternganga. Jajan tidak bisa di pinggir jalan, nongkrong seperti engkau. Aku bisa duduk di Oen.”

Y : “Tapi jangan anggap, buah penamu telah kercap seni. Di luar kantomu ini, masih banyak pemuda-pemuda yang benar-benar berdarah seni, 100% lebih bersih dari darahmu. Mereka sekarang gelisah menanti akhirnya penindasan ini. Tapi dalam sementara itu, mereka menangis melihat kelakuan gerombolanmu yang melontekan diri sebagai alat propaganda.”

X : “Engkau cemburu melihat kedudukanku sekarang ini. Itu sebabnya engkau caci-caci aku.”

Y : “Aku tidak ingin kedudukanmu. Aku tidak ingin menjadi beo.

Aku tidak ingin menjadi ekor. Aku tidak ingin menjadi lonte seperti engkau.”

X : “Kalau tidak ingin, engkau boleh tutup mulutmu.”

Y : “Aku tidak akan menutup mulutku.Aku akan meneriak-neriakkan pengkhianatanmu terhadap bangsamu sendiri, yang engkau jadikan mangsa kebengisan tokehmu dan yang engkau coba meliputinya dengan tulisan-tulisanmu, untuk kepentingan kantongmu sendiri. Seandainya leherku yang kurus ini engkau suruh penggal pada tokehmu, aku akan terus berteriak: meneriakkan pengkhianatanmu selama ini!”

Sumber: Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang, HB. Jassin, Balai Pustaka, hal. 88- 92.


Persewaan Alat PestaKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah okRek.com · DutaPulsa


dari buku sekolah

Kaitkata:
2009/08/03

BERTINO VULKAN – PENYAIR DARI TANJUNG MORAWA

Sebuah sajak bernada sedih ditulis Bertino Vulkan pada tahun 1977. Puisi sedih itu menggambarkan suasana musim panas pada saat magrib tiba. Keadaan sunyi dan seolah-olah mati. Angin pun tak ada karena itu mungkin dedaunan pun tak bergerak, ‘dedaunan tak satu menari’. Pada bait berikutnya, penyair menggambarkan suasana yang lengang. Pemandangan luas tapi kosong, hanya ada ilalang seluas-luasnya mata memandang. Kata penyair:

    • Magrib musim panas

      sunyi dan mati

      daunan tak satu menari

      sejauh mata memandang

      kosong merata

      padang ilalang lengang

      sungai Blumei tak beriak

      sumur mati

      tanah kering tak berseri

      di kaki bukit

      di bawah pohon tua

      daunan kering merata

      mentari turun ke beting senja

      dengung kumbang pulang ke sarang

      dan jengkrik yang mengerik

      pilu mengisahkan

      musim panas yang panjang

Puisi yang dimulai dengan kalimat: Maghrib musim panas ini diberi judul Maghrib Musim Panas Apa yang dapat ditangkap pembaca pada bait pertama adalah suasana sedih pada saat maghrib tiba. Suasana sunyi dan bahkan mati. Untuk memperkuat sunyi dan mati itu, ditambah dengan baris daunan tak satu menari.

Rasa sedih dan sepi tak hanya digambarkan pada dedaunan yang tak bergerak, tapi juga pada sungai yang biasanya mengalir riang. Namun di mata hati Bertino, sungai Blumei tak riang beriak / sumur mati / tanah kering tak berseri.

Penyair Bertino Vulkan memiliki nama asli Suparno, kemudian membuat nama samaran Bertino Vulkan. Penyair Bertino lahir di Tanjung Morawa, Deli Serdang, 8 Juni 1933. Pendidikan yang ditempuhnya hanya hingga SMP. Kemudian, ia berkecimpung dalam dunia kewartawanan.

Ketika terjun ke dunia pers itulah, Bertino mengembangkan bakatnya dalam penulisan kreatif. Ia menulis, puisi, cerita pendek, dan juga naskah drama. Karya-karyanya berupa puisi dan prosa itu pernah dimuat di majalah Mimbar Indonesia, Konfrontasi, Indonesia, Budaya, dan Horison. Karyakaryanya juga sudah tentu dimuat di ruang budaya koran-koran yang terbit di Medan, Sumatra Utara.

Dalam puisi Maghrib Musim Panas, selain suasana sedih, sebenarnya juga kita dapat menangkap rasa religius yang kental pada penyair membuat suasana sedih dapat tergambar dalam puisi itu.

Puisi lainnya yang bersuasana religius yang lahir dari tangan Bertino berjudul Dzikir. Berikut ini kutipannya:

    • Hening malam hening diriku

      Merasuklah engkau

      Menyatu dalam dzikir

      Dalam nada-nada terakhir

      Engkau Alif keesaan

      Hilang segalanya

      Diriku tiada

      Hening malam hening diriku

      Menyatu dalam cipta

      Rasa

      Dan ruh yang bahagia

      Dalam nur

Apakah yang didambakan oleh seorang manusia yang taat menyembah Allah ? Mungkin salah satu adalah: menyatu dalam dzikir. Hilang segalanya, diriku tiada. Yang ada hanya Engkau. Adalah rasa bahagia yang tinggi telah dicapai bila ruh bahagia berada dalam nur.

Sebagai penyair, Bertino telah memperlihatkan diri dalam sosok puisi.

Puisi-puisinya selain dimuat di koran dan majalah, juga dapat ditemukan dalam sejumlah antologi. Misalnya: Terminal Puisi 77 dan Seribu Sajak. Sebuah sajaknya yang bercerita tentang ladang, dikutip petikannya di bawah ini.

    • LADANG HIJAU

      Dari bukit ke bukit turun

      hijau menghampar

      derai deru daun bambu

      sebelah timur batas ladangku

      kacang kuning jua berbulu

      tanah hitam yang longgar subur

      dan gatal daun jagung

      goresan-goresan pedih merangkum

      harapan hasil tahun ke tahun

      mengambang merangsang

      hari depan dalam ciptaan

Akhir-akhir ini, penyair dari Tanjung Morawa ini banyak menaruh perhatian pada cerita anak-anak. Ia telah menulis sejumlah cerita anak-anak, namun belum sempat diterbitkan. Konon, sang penyair sedang menunggu penerbit yang bersedia menerbitkan karya cerita anak-anaknya.

Contoh menginterpretasi sebuah puisi :

    STASI KELIMA

    Di sini anak-anak bangsa diuji

    Mau jadi pedagang, tukang pukul atau pegawai asuransi

    Di sini anak-anak rakyat jelata ditempa

    Untuk menantang nasib, menggarap hidupnya Jakarta

    Bersama ribuan sopir, pengecer tekstil

    Pedagang buah, pencatut karcis dan makelar mobil

    Kuberi Chris perasaan sukses

    Seperti seorang direktur pemasaran

    Insinyur pertanian dan opsir-opsir di lapangan

    Kubuat ia tersenyum di pasar, di pentas lumba-lumba

    Di kerumunan Lenong dan Topeng Betawi

    Bersama para badut yang bersuara lembek

    Yang mengemis perhatian ekstra

    Sebagai bekas jongos dan babu

    Lalu bicara tentang masa depan bangsa

    Memadukan harapan dan mimpi sederhana

    Dengan jiwa merantau Minangkabau

    Keberanian Bugis, kelugasan Batak

    Kearifan Jawa. Keluwesan Bali

    Ketegaran Aceh dan keanggunan Menado

    Maka jadilah Chris, jadilah Jakarta Jadilah Chris Jakarta

    (Karya: ka udEiantBa)

Sajak Christoper Eka Budianta itu melukiskan tokoh aku (Tuhan) Yang Mahamurah (Kuberi Chris perasaan sukses) dan Mahakuasa (Kubuat ia tersenyum….) yang berkisah tentang perjuangan seorang urban (tokoh Chris) menghadapi kehidupan Jakarta yang amat keras. Bagi urban, rakyat jelata yang papa, seperti Chris, supir, pedagang buah, pencatut, Jakarta yang keras lebih banyak mendatangkan tekanan bathin daripada kesenangan.

Untunglah, Tuhan selalu dekat dan kasih dengan orang papa. Tuhan menghibur orang papa itu dengan memberi harapan dan mimpi. Artinya, Tuhan hanya memberi perasaan sukses, bukan sukses itu sendiri.

Mimpi si papa itu memang luar biasa. Ia bermimpi bagai seorang eksekutif (direktur pemasaran) yang sukses dan manajer operasional (insinyur pertanian atau opsir) yang jagoan. Lebih hebat lagi, si papa itu bermimpi mampu mengatur dan menentukan masa depan bangsa, mempu memadukan puncak-puncak nilai atau watak kelompok etnik seperti kearifan Jawa dan keberanian Bugis.

Akhir kisah, jadilah Chris , si papa itu, Chris Jakarta, Chris pemimpi, si papa pemimpi.

Sajak Budianta di atas adalah sebuah ironi. Sajak ini menyampaikan pesan dengan cara kebalikan, dengan sindiran kelabu. Dalam realitas, kaum papa ini memang pemimpi berat. Coba saja kita amati, orang yang rajin ber-togel-ria adalah orang-orang dari lapisan bawah. Orang-orang ini umumnya memiliki banyak waktu luang, tetapi mereka tidak cukup memiliki kreativitas dan keterampilan untuk memanfaatkan waktu luang itu. Tentu cara yang paling gampang untuk memanfaatkan waktu luang itu adalah bermimpi menjadi jutawan lewat togel (pasang togel).

Pesan yang ditawarkan sajak itu jelas, yaitu janganlah menjadi pemimpi.

Hadapilah kehidupan Kota Jakarta yang keras ini dengan sikap yang lebih pragmatis, seperti sikap pedagang. Syukur-syukur kalau sikap pragmatis ini masih dapat dihiasi dengan bunga idealisme.

Pesan inilah salah satu jawaban atas teka-teki sajak Stasi Kelima karya Eka Budianta itu. Stasi Kelima, yang artinya penghentian kelima, adalah ajakan kepada kita untuk berhenti sejenak dalam perjalanan hidup untuk merenung, menilai, dan mencari makna kehidupan secara mendalam.

Renungan atau refleksi ini dapat membebaskan kita dari kehidupan yang rutin dan dangkal.

Tanggapan terhadap puisi di atas:

Sajak ini memang membuat orang yang membacanya penasaran terhadap maksud dari ungkapan-ungkapan penyair. Namun, dari segi diksi, bahasa penyair terlalu lugas dan penggunaan kalimatnya cukup lengkap sehingga puisi ini terkesan sebuah cerita atau prosa jika saja tipografi atau susunannya berbentuk paragraf. Jika agak alegoris sedikit mungkin lebih indah untuk dibacakan dan didengarkan. Namun sekali lagi dalam membuat puisi semua pilihan berada pada sang penyair. Tak ada aturan yang mengikat pada puisi modern. Jadi, apa pun bentuk dan cara pengungkapannya, semua sah-sah saja asal tetap mengandung banyak makna yang dapat diinterpretasikan oleh siapa saja.



Dari buku Sekolah

Kaitkata:
2009/07/16

Penulisan Naskah (Skennario) Program TV

Dengan makin banyaknya stasiun televisi di Indonesia, menumbuhkan pula industri dibidang produksi pertelevisian atau yg dikenal dengan rumah produksi (production house =PH).

Produksi program video dan juga program TV dapat dikerjakan dari yang sederhana sampai dengan menggunakan peralatan dan tehnik canggih. Sebuah produksi video/TV memerlukan pengelolaan yang rumit meliputi: pra produksi; konsep, ide/gagasan, survey, naskah/story board, anggaran; produksi; peralatan, kru, pengambilan gambar; pos produksi; editing dan penggadaan, namun demikian tiga pilar utama yang utama, yaitu : penulisan naskah produksi, Penggunaan kamera, dan editing, untuk dapat mewujudkan sebuah produksi.

Penulisan Naskah untuk film, televisi, termasuk video, lazim dengan istilah scenario (scenario). Skenario merupakan bentuk tertulis dari gagasan atau ide yang menyangkut penggabungan antara gambar dan suara, dimaksudkan sebagai pedoman dalam pembuatan film, sinetron atau program televisi. Beberapa pakar sinematografi mengemukakan bahwa scenario itu menjadi jiwa dan darah dalam produksi film atau cerita televisi.

Urutan langkah atau pentahapan dalam penyusunan naskah scenario video

a. Persiapan Menulis naskah/ Teks / Narasi

Yang harus dipersiapkan dalam menulis naskah, teks maupun narasi pada program TV adalah menemukan ide atau gagasan. Setelah ide ditemukan, seorang penulis naskah sangat perlu mempelajari substansi atau isi dari sumber-sumber yang terkait dengan substansinya, sehingga benar-benar memahami apa yang akan ditulis. Selanjutnya akan ditulis dalam bentuk apa, menjadi format program TV yang mana. Setelah ditetapkan format program yang dipilih maka baru berpikir bagaimana menulisnya. Untuk penulisan teks dapat diawali dengan penulisan kerangka tulisan (outline). Sedangkan untuk penulisan narasi dapat dilakukan menulis rencana gambaran visual yang akan diberi narasinya. Dalam hal ini narasi akan lebih memberikan penjelasan gambaran visual yang ditayangkan pada TV.

Narasi bisa berbentuk life dari pemeran ataupun dubing oleh pengisi suara. Dapat juga disuarakan oleh narator maupun presenter.

Sebelum menulis naskah untuk panduan produksi ditulis, biasanya didahului dengan membuat synopsis, dan Treatment

1) Sinopsis

Gambaran secara ringkas dan tepat tentang tema atau pokok materi yang akan dikerjakan. Tujuan utama ialah memudahkan pemesan (produsen) menangkap konsep, kesesuaian gagasan dengan tujuan yang ingin dicapai.

Setelah synopsis ditulis maka sudah harus nampak adanya: alur, isi cerita, Perwatakan pemain (bila ada), tempat, waktu, serta keterangan lain yang memperjelas synopsis.

2) Treatment

Uraian ringkas secara deskriptif, bukan tematis, yang dikembangkan dari synopsis dengan bahasa visual tentang suatu episode cerita, atau ringkasan dari rangkaian suatu peristiwa. Artinya dalam membuat treatment bahasa yang digunakan adalah bahasa visual. Sehingga apa yang dibaca dapat memberikan gambaran mengenai apa yang akan dilihat. Dengan membaca treatment bentuk program yang akan dibuat sudah dapat dibayangkan.

Sehingga perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

a) urutan dalam video sudah makin jelas,

b) Sudah kelihatan formatnya apakah dialog (bagaiamana pokok dialognya), narasi (bagaimana pokok narasinya),

c) Sudah dimulai adanya petunjuk-petunjuk tehnis yang diperlukan.

3) Skenario

Dari treatment kemudian dibuat naskah produksi atau scenario. Penulisan naskah produksi atau scenario harus operasional karena digunakan sebagai panduan tidak saja kerabat kerja (crew) tetapi juga pemain dan pendukung lain yang terlibat. Penulisan naskah atau scenario pada dasarnya menggambarkan sekaligus menyuarakan apa yang ingin disampaikan. Urutan synopsis-tritmen-skenario merupakan rangkaian yang baik untuk membuat naskah video (televisi), Baker (1981) mengemukakan juga pentahapan dalam membuat naskah, yaitu : concept, story board, dan script.

Setidaknya ada dua format naskah untuk penulisan naskah TV/video, yaitu double colum, dan wide margin

a) Format kolom ganda (double colum).

Format ini lazim digunakan untuk menulis naskah informasi, dokumentasi, pendidikan. Format kolom ganda, lembar kertas dibagi menjadi dua kolom utama, yaitu kolom visual (kiri) dan kolom audio (kanan).

Pada kolom kiri berisi uraian yang menyangkut visual. Misal gambar harus dimabil dengan CU, kemudian zoom out, atau keterangan lain bagi kru kamera, termasuk siapa subyeknya, diambil dari mana, beberapa waktu lamanya pengambilan, dll.

Kolom kanan berisi segala sesuatu yang menyangkut audio yang berupa narasi, dialog para pelaku atau efek-efek suara lain yang diperlukan. Untuk memudahkan narator atau juru suara (sound man) maka dalam menulis kolom kanan, semua informasi yang tidak akan dibaca (disuarakan) ditulis dengan huruf capital. Sedang narasi atau dialog yang akan dibaca atau disuarakan ditulis dengan huruf kecil.

b) Format Wide Margin

Format ini lebih lazim dipakai dalam cerita film atau sinetron. Sinetron Aku cinta Indonesia (ACI) naskahnya distulis dalam format Wide Margin.

Dengan format wide margin tiap adegan (kumpulan dari beberapa shot-scene) diuraikan atau dijelaskan dengan bahasa visual. Petunjuk dialog diketik dua spasi ditengah, sedang apa yang akan nampak (visual) dijelaskan dalam bentuk paragraf .

Dialog biasanya diketik biasa, semua penjelasan untuk camerawan pengambilan gambar, ditulis dalam huruf capital. Penjelasan untuk tingkah laku pemain ditulis dalam tanda kurung dengan huruf capital pula.

Urutan penulisannya sebagai berikut

(1) Pertama kali ditulis : adegan (scene) ke….

(2) Gambar diambil dengan tehnik apa, misalnya :

F.1, DISSOLVE, IN FRAME.

(3) Gambaran visual yang akan nampak

(4) Dialog

Dengan format seperti ini maka pengarah acara (sutradara) dan camerawan diberi kebebasan untuk berimprovisasi dalam pengambilan gambarnya, sesuai dengan keadaan yang diinginkan.

b. Menilai Naskah/Teks/Narasi

Setelah naskah/teks/narasi ditulis, maka perlu ada evaluasi atau penilaian dari produser, sebelum naskah tersebut diproduksi menjadi program TV. Penilaian teks akan menggunakan kriteria apakah telah menggunakan kaidah penulisan dan penggunaan bahasa yang benar serta keterbacaannya..

Sedangkan untuk penilaian narasi akan lebih menggunakan bahasa sehari-hari (tutur)sesuai karakter tokoh. Apakah sudah komunikatip, shg mampu menjelaskan atau dipahami penonton.

Demikian pula untuk menilai naskah/script yang akan diproduksi disamping dengan kriteria penulisan naskah harus ditaati juga akan dinilai kelayakan produksinya, apakah setelah diproduksi akan memiliki tingkat manfaat yang tinggi, memiliki daya tarik, apakah dapat diproduksi secara teknik, biaya produksi mahal atau tidak dan sebagainya.

c. Mengedit Naskah/Teks/Narasi

Setelah naskah/teks/narasi dinilai penulis naskah akan melakukan editing, mengedit sesuai saran, masukan dari produser. Untuk editing naskah program TV akan dilakukan sekaligus dalam bentuk naskah produksi yang di dalamnya telah terdapat petunjuk/perintah bagi kamerawan tentang teknik shoting dan obyek shoting. Petunjuk/perintah bagi narator/presenter dalam membacakan narasi, durasi setiap scene dan sebagainya. Naskah ini selanjutnya digunakan sebagai panduan produksi.

_____________________________

Menyusun Skenario Film

Skenario dalam Seni Pedalangan

Membuat Skenario Komedi

Kaitkata:
2009/07/04

Aris Nugraha: Membuat Skenario Komedi Tidak Lebih Mudah daripada Membuat Pesawat Ulang Alik

Bajaj Bajuri adalah sinetron komedi yang sukses dan digemari banyak kalangan. Meskipun bukan buat anak-anak, banyak anak yang menyukainya. Siapa ya penggagas sinetron Bajaj Bajuri? Dia adalah Pak Aris Nugraha. Beliau adalah penulis skenario, sutradara, dan produser sinetron tersebut.

Ketika kamu terbahak-bahak menonton Bajaj Bajuri, pernahkah kamu membayangkan sulitnya membuat skenario sinetron komedi?

Menurut Pak Aris, dibanding sinetron drama, membuat sinetron komedi jauh lebih susah.

“Kita harus bekerja dua kali.

Pertama, kita harus membuat jalan cerita, setelah itu baru kita menambah unsur lucu dalam cerita tadi. Lucu itu biasanya berasal dari kesalahan. Baik itu salah bicara, salah melakukan, salah paham, atau salah mengerti,” jelas Pak Aris.

Jadi, jelas membuat sinetron komedi, seperti Bajaj Bajuri, tidak mudah. Pak Aris membutuhkan waktu dua tahun untuk menyiapkannya.

Persiapan yang paling banyak memakan waktu adalah membuat karakter tokoh. Setiap karakter yang dibuat haruslah sedetail mungkin.

Mulai dari penampilan fisik, daerah asal, latar belakang pendidikan, sampai sejarah singkat hidup tokoh.

Tidak lupa Pak Aris juga menambahkan ciri khas lisan (ucapan) pada setiap tokoh yang dibuat.

Misalnya, Mpok Minah dengan kata “maaf”-nya, dan Said dengan “ane ente”nya. Semua itu adalah salah satu usaha Pak Aris untuk memberi ciri khas pada setiap tokoh yang dibuatnya.

Setelah sukses menggarap seratus episode pertama, Pak Aris mulai berencana membuat sinetronkomedi lain. Untuk itu, ia mulai menyerahkan penulisan naskah dan penyutradaraan Bajaj Bajuri kepada orang lain. Hal ini dilakukan agar sinetron tidak kehabisan ide. Pak Aris pun kemudian mulai melatih para penulis naskah muda. Saat ini, Pak Aris memiliki 16 penulis yang ia latih sendiri. Setelah ‘melepaskan’ Bajaj Bajuri, Pak Aris mulai membuat sinetron komedi lain, yaitu Radio Repot dan Tante Tuti.

Walaupun menggarap sinetron komedi, Pak Aris mengerjakannya dengan sangat serius. Ia selalu menyisipkan pesan moral dalam setiap episode yang ia buat.

“Setiap episode yang saya buat, harus mengandung kesimpulan mengenai kebenaran atau memberi pelajaran,” begitu katanya.

Pak Aris juga menolak memasukkan unsur kekerasan. Inilah yang membuat pekerjaannya semakin sulit. Selain harus membuat cerita lucu yang ada pesan moralnya, ia juga harus menghindari kekerasan dan tayangan yang tidak pantas. “Kalau dipikir-pikir, membuat naskah komedi itu tidak lebih mudah daripada membuat Apollo atau pesawat ulang-alik, lho!” kata Pak Aris menggambarkan rumitnya pekerjaan menulis skenario komedi yang baik.

Kepedulian Pak Aris tentang pesan moral dan anti kekerasan memang beralasan. Hal ini ada hubungannya dengan cita-cita Pak Aris sejak kecil, menjadi guru.

Walaupun ia tidak berhasil meraih cita-citanya tersebut, namun ia masih dapat mendidik masyarakat melalui sinetron yang dibuatnya.

Keterlibatan Pak Aris dalam dunia penulisan naskah sinetron, tidak datang begitu saja. Ia memulainya dari bawah dengan menjadi kru film yang disebut clapper. Itu, lho, yang tugasnya membawa papan, pada setiap pengambilan gambar, lalu berteriak “take one!”

Untuk menjadi seorang clapper, Pak Aris harus meninggalkan profesi wartawannya. la rela meninggalkan pekerjaan tersebut karena ia sangat ingin menjadi seorang penulis skenario.

Walaupun Pak Aris memeroleh keahliannya itu tanpa mengikuti jalur formal, ia tidak menganjurkan hal tersebut. Kata Pak Aris, di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ada Jurusan Penulisan Skenario, tepatnya di Fakultas Film dan Seni. “Kalian juga harus terbiasa membaca atau menonton tayangan yang bagus. Dengan begini, ketika kalian membuat sebuah karya, karya itu pasti bagus.”


Terima kasih: Duta PulsaPersewaan Alat PestaTokonya Arek SuroboyoToko JilbabKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 79 pengikut lainnya.