Arsip untuk ‘Pengetahuan’

2010/07/27

: Konferensi Etika Katolik di Trento

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Boleh jadi Dr Bernard Kieser, pastor dari Kota Baru Yogyakarta, yang memberi rekomendasi agar saya diundang untuk memberikan sebuah pidato kunci dalam Konferensi Internasional Kedua Lintas Kultural bagi Para Etisi Teologis Katolik sedunia yang berlangsung di Trento (Italia), 24-27 Juli 2010.

Ketua Etika Teologis Katolik dari Gereja Dunia, James F Keenan SJ dari Departemen Teologi, Kolej Boston, Amerika Serikat, ditugasi mengontak saya pada November 2008, hampir dua tahun silam. Setelah dipertimbangkan, undangan itu saya terima. Pada 22 Juli ini, saya akan berangkat ke sana untuk menyampaikan pidato dan mengikuti konferensi sampai dengan 27 Juli. Kemudian, pada 29 Juli, saya akan menghadiri sebuah seminar di Munchen, Jerman, untuk menyampaikan makalah tentang Pancasila sebagai kekuatan pemersatu bangsa Indonesia.

Menurut surat Keenan tertanggal 7 November 2008, pada konferensi pertama bulan Juli 2006 di Padova, juga di Italia, peserta sebanyak 400 pakar etika teologis yang hadir seluruhnya dari kalangan Katolik. Pada konferensi kedua ini yang dihadiri oleh sekitar 600 diundang pula seorang pembicara dari pihak Islam. Waktu yang disediakan untuk saya 20 menit, sudah ditetapkan sejak lama. Dengan demikian, saya harus disiplin membuat makalah untuk tidak melebihi waktu yang tersedia. Selain saya, ada tiga pembicara kunci lainnya, seorang dari Ghana, Dr Mercy Amba Oduyoye, dan seorang lagi dari Venisia, Kardinal Angelo Scola.

2010/07/17

ABAYA SQ AISYAWARA (via Koleksi Produk-Produk Cantik)

Coba fungsi reblog di wordpress.com

ABAYA SQ AISYAWARA Send to a friend Cetak Abaya Sq Aisyawara___ . Rp 160,000.- ___ . Bahan kain songket, kombinasi kain satin halus. Rp160,000.00 Jumlah … Read More

via Koleksi Produk-Produk Cantik

2010/07/13

Membaca Teks Percakapan

wawancara maupun percakapan, ada pihak yang bertanya dan pihak yang menjawab. Perbedaannya, dalam percakapan, penanya dan penjawab dapat berbicara bergantian, sedangkan dalam wawancara tidak demikian.

Membaca teks percakapan merupakan salah satu kegiatan membaca nyaring. Selama membaca teks percakapan, kamuharus memerhatikan tanda baca dan jenis kalimat yang dibacanya. Misalnya, bertanya, menyuruh, menjawab, meminta, atau yang lain. Setiap jenis kalimat yang dibaca memiliki intonasi yang berbeda.

Bacalah contoh teks percakapan berikut.

Beti : ”Ke mana saja kamu selama liburan, Ran?”

Rani : ”Aku jalan-jalan ke rumah Paman yang kebetulan baru datang dari luar negeri.”

Beti : ”Wah, asyik, dong?”

Rani : ”Tentu, Ti. Aku senang sekali karena Paman banyak membawa oleh-oleh. Aku diberi oleh-oleh berupa buku kumpulan dongeng Anderson.”

Beti : ”Apa saja yang kamu baca di buku kumpulan dongeng itu?”

Rani : ”Ho…! Banyak sekali dan sangat mengagum kan.”

1. Bacalah sekali lagi teks percakapan tersebut. Gunakanlah intonasi dan pelafalan yang tepat saat membacanya.

2. Apakah judul yang tepat untuk teks percakapan tersebut?

3. Siapakah yang bercakap-cakap itu?

4. Apakah isi percakapan itu?

5. Tulislah teks percakapan yang menyatakan alasan Rani merasa senang.

2010/07/06

: Pembaruan Muhammadiyah

Kita sepakat sepenuhnya dengan apa yang disampaikan Prof Dr Din Syamsuddin dalam sambutan pembukaan muktamar seabad Muhammadiyah di Yogyakarta pada Sabtu (3/7) lalu. Yaitu bahwa persoalan besar bangsa Indonesia saat ini adalah masalah moral. Dalam istilah Din, buta aksara moral bangsa ini justru lebih berbahaya daripada buta aksara Latin dan Arab.

Ya, masalah mendasar bangsa ini adalah persoalan moral. Apalagi bila yang mengidap penyakit moral (baca: tidak mempunyai moral) ini adalah para elite, orang-orang berpendidikan tinggi, pejabat negara, para pengusaha, dan orang-orang ‘kelas atas’ negeri ini. Akibatnya bisa kita saksikan sekarang ini: korupsi merajalela. Bahkan, korupsi ini dilakukan ramai-ramai oleh para penegak hukum sendiri: polisi, jaksa, pengacara, hakim, dan seterusnya. Juga mafia hukum dan makelar peradilan.

Bukan hanya yang terkait dengan hukum, masalah moral ini juga menyangkut perilaku menyimpang lainnya. Intinya, segala cara menjadi halal untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan ini bisa berupa kekuasaan, kekayaan, ketenaran, dan kepuasan pribadi. Termasuk melakukan seks bebas alias berzina tanpa mempedulikan norma-norma agama, kesopanan, dan adat-istiadat.

Negeri ini membutuhkan orang-orang yang bermoral. Bukan hanya memerlukan orang pintar, berpendidikan tinggi, dan pengusaha kaya. Orang pandai namun tidak bermoral hanya akan memanfaatkan kepandaiannya untuk memintari (menipu) orang lain. Para guru dan dosen yang tak bermoral hanya akan mengajar tanpa mendidik. Para pejabat yang tak bermoral hanya akan mengejar kekuasaan meskipun harus mengorbankan kepentingan rakyat.

Aparat hukum yang tak bermoral hanya akan menyiasati ayat-ayat dan pasal-pasal dalam undang-undang untuk kepentingan diri sendiri tanpa menangkap semangat dibuatnya undang-undang tersebut. Para selebritas yang tak bermoral hanya akan menularkan contoh yang buruk kepada masyarakat, dan sebagainya dan sebagainya.

Di sinilah peran ormas kemasyarakatan dan keagamaan seperti Muhammadiyah dituntut. Apalagi usia Muhammadiyah kini sudah satu abad. Kita berharap memasuki abad kedua usianya, ormas ini tidak berhenti melakukan pembaruan, yang memang merupakan ciri khas dari ormas yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini.

Hanya saja, orientasi pembaruannya yang barangkali perlu diubah. Selama ini Muhammadiyah dikenal sebagai pembaru dalam berbagai bidang. Terutama dalam memerangi penyakit TBC. Yaitu takhayul (T), bid’ah (B), dan khurafat (C). Penyakit TBC dalam beberapa hal memang masih ada di masyarakat, namun sudah bukan lagi prioritas.

Sebut sebagai misal, jumlah rakaat dalam shalat tarawih, kunut dalam shalat Subuh, tahlilan, ziarah makam para wali, talkin dalam proses pemakaman jenazah, jumlah azan dalam khutbah Jumat, dan seterusnya. Dahulu hal-hal tadi selalu menjadi topik bahasan yang hangat. Namun, kini, masalah-masalah itu tampaknya sudah menjadi hal yang tak perlu diperdebatkan.

Orientasi pembaruan yang kini dituntut dari Muhammadiyah adalah memerangi penyakit masyarakat dalam bentuk dan jenis lain. Yakni, masalah moralitas bangsa yang merosot, kebodohan, kemiskinan, dan ketertinggalan.

Bersama dengan ormas-ormas lain seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah harus menjadikan hal-hal tadi sebagai agenda utama pada hari-hari mendatang. Kita berharap muktamar satu abad Muhammadiyah yang sedang berlangsung sekarang ini bukan hanya fokus pada pemilihan ketuan umum dan pengurus teras yang baru, tapi juga membahas hal-hal strategis yang terkait dengan kemajuan bangsa.

Tepatnya bagaimana Muhammadiyah ke depan dapat melakukan pembaruan dalam memerangi berbagai penyakit masyarakat: moralitas yang merosot, kebodohan, ketertinggalan, dan kemiskinan. Juga meningkatkan keimanan dan ketakwaan umat serta memparalelkan kesalehan rituan dengan kesalehan sosial.

2010/07/05

: Menilik Peran Sosial Muhammadiyah

BI PURWANTARI

Menjelang usia satu abad, Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam di Indonesia dinilai memainkan peran sosial yang penting di masyarakat. Jejak Muhammadiyah tertancap kuat di berbagai bidang kehidupan, baik politik, ekonomi, maupun sosial. Namun, publik khawatir institusi ini akan menjadi alat partai politik.

Sejarah pendirian Muhammadiyah tahun 1912, organisasi ini berkaitan dengan ide pembaruan Islam. Ide yang digagas KH Ahmad Dahlan itu mencakup bidang yang luas, mulai dari praktik beragama hingga praktik sosial kemasyarakatan. Dalam praktik beragama, misalnya, Ahmad Dahlan memelopori pelurusan arah kiblat berdasarkan ilmu falak (astronomi), pengorganisasian zakat, haji, serta shalat Idul Fitri dan Idul Adha di lapangan. Pendirian masjid dan mushala di tempat umum dan perkantoran juga adalah salah satu buah pemikiran Ahmad Dahlan (Abdul Munir Mulkhan, Jejak Pembaruan Sosial dan Kemanusiaan Kiai Ahmad Dahlan, 2010).

Jejak kearifan praktik sosial kemasyarakatan ditandai sikap terbuka Ahmad Dahlan menyerap puncak peradaban tanpa memandang bangsa dan agama pengemban peradaban itu. Berbagai aksi sosial yang dikembangkan banyak terinspirasi pengalaman orang Kristiani dan warga Belanda, Inggris, atau Portugis. Pendirian rumah sakit, panti sosial, taman pustaka, penerbitan, serta sekolah modern merupakan karya yang terinspirasi oleh pengelolaan kehidupan sosial dan kesehatan kaum non-Muslim (Abdul Munir Mulkhan, 2010).

Tak bisa dilupakan pula bagaimana Ahmad Dahlan menggerakkan perempuan memperoleh ilmu dan melakukan aksi sosial di luar rumah. Kaum perempuan didorong meningkatkan kecerdasan melalui pendidikan formal dan nonformal seperti pengajian dan kursus. Pada 1922 berdiri perkumpulan perempuan yang kelak diberi nama Aisyiah. Satu lompatan nilai sosial terjadi ketika Siti Walidah, istri Kiai Dahlan, tanpa suami, menghadiri undangan Musyawarah Ulama di Serambi Masjid Besar Solo dalam kapasitasnya sebagai ulama perempuan.

Kini, Muhammadiyah adalah salah satu gerakan Islam terbesar di Indonesia yang diorganisasikan secara modern. Unit kegiatannya tersebar merata ke seluruh pelosok negeri yang meliputi pendidikan, kesehatan, santunan sosial, hingga kegiatan ritual ibadah dan pengajian. Menurut buku Profil Muhammadiyah (2000), saat ini terdapat tak kurang dari ribuan taman kanak-kanak, 2.907 SD/madrasah ibtidaiyah, 1.731 SLTP/madrasah tsanawiyah, 929 SLTA/madrasah aliyah, 55 pesantren, lebih dari 184 perguruan tinggi, 312 lembaga pelayanan kesehatan, 240 panti asuhan, 19 Bank Perkreditan Rakyat (BPR), lebih dari 800 koperasi, dan 190 Baitulmaalwat Tamwil.

Gambaran itu memperlihatkan Muhammadiyah memiliki peran sosial yang kuat. Peran sosial inilah yang dirasakan masyarakat, seperti tergambar dalam jajak pendapat yang digelar Litbang Kompas pada 30 Juni hingga 2 Juli 2010. Hasil jajak pendapat menampilkan evaluasi dan ekspektasi masyarakat terhadap kiprah Muhammadiyah.

Praktik sosial menonjol yang terungkap terutama adalah keberhasilan Muhammadiyah dalam pelayanan pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Sebagian besar responden (71 persen) menyatakan, Muhammadiyah berhasil turut serta membantu memajukan kualitas pendidikan masyarakat. Secara khusus, 73,1 persen responden mengakui Muhammadiyah berhasil dalam menyampaikan visi keislaman dalam pendidikan. Di bidang ekonomi dan kesehatan hampir separuh jumlah responden (43,7 persen dan 42,5 persen) setuju, Muhammadiyah membantu memajukan perekonomian dan menyediakan pelayanan kesehatan yang berkualitas untuk masyarakat.

Praktik sosial menonjol yang terungkap terutama adalah keberhasilan Muhammadiyah dalam pelayanan pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.

Namun, responden memberikan catatan khusus menyangkut kiprah Muhammadiyah dalam memerhatikan kepentingan rakyat kecil. Terdapat 42,5 persen responden yang menyatakan Muhammadiyah belum berhasil membela kepentingan perekonomian rakyat kecil dan 46,4 persen yang mengungkapkan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan Muhammadiyah belum menjangkau masyarakat bawah.

Lembaga independen

Perjalanan Muhammadiyah yang hampir satu abad tak luput dari persinggungannya dengan kondisi politik bangsa. Era reformasi menjadi penanda khusus karena saat itu beberapa tokoh Muhammadiyah turut membidani lahirnya Partai Amanat Nasional (PAN). Dalam perjalanannya, dukungan terhadap PAN terus menurun, bahkan beberapa tokoh Muhammadiyah mencabut dukungannya dan mendirikan Partai Matahari Bangsa (PMB) pada 2006.

Dinamika politik ini tak bisa mengubah Muhammadiyah sebagai organisasi independen yang tidak mau terikat pada satu parpol pun. Hal ini tecermin pula dalam jajak pendapat yang merekam ekspektasi publik berkaitan dengan hubungan Muhammadiyah dan partai.

Jajak pendapat ini mengungkap bagian terbesar responden (51,2 persen) menyatakan tidak perlu dibentuk sebuah partai yang secara khusus mewadahi kepentingan dan gagasan Muhammadiyah. Bahkan, dengan tegas sebagian besar (83,9 persen) responden menyatakan Muhammadiyah harus tetap mempertahankan eksistensinya sebagai organisasi independen. Pola penyikapan seperti ini didorong oleh kekhawatiran sebagian responden (53,5 persen), Muhammadiyah akan sekadar menjadi alat partai untuk merebut kekuasaan.

Ulama dan akademisi

Pada 3-8 Juli 2010 Muhammadiyah menggelar muktamar yang ke-46 di Yogyakarta. Pada kesempatan ini pula akan dipilih pemimpin baru yang akan membawa organisasi ini mengarungi satu abad lebih perjalanannya. Bagi publik, sebuah organisasi keagamaan sebesar Muhammadiyah selayaknya dipimpin sosok yang memiliki beberapa kriteria tersendiri.

Sosok ulama, tak pelak, menjadi syarat utama terpenting yang dikemukakan separuh responden (50 persen). Kriteria penting kedua bagi publik adalah latar belakang akademik yang dimiliki seorang ketua Muhammadiyah. Tak kurang dari 19,7 persen responden menyatakan calon pemimpin Muhammadiyah seyogianya juga seorang akademisi. Hal ini dipastikan mengacu pada sosok pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, tokoh intelektual pembaru yang membawa gagasan bernas melampaui zamannya. Intelektualitas tidak terbatas pada bidang agama, tetapi juga memasuki ranah sosial politik kemasyarakatan.

Ekspektasi publik juga disandarkan kepada generasi muda untuk memimpin Muhammadiyah di masa datang, seperti terekam dalam pendapat 9,9 persen responden. Pilihan terhadap kaum muda berkait erat dengan upaya kaderisasi yang sejak lama dilakukan Muhammadiyah.

Pemimpin baru Muhammadiyah nantinya akan menghadapi tantangan baru. Tantangan ini utamanya menyangkut arah organisasi, apakah akan dibawa kepada institusi yang berjiwa eksklusif atau semakin inklusif membuka diri seperti harapan hampir seluruh responden jajak pendapat ini (94,7 persen).

(Litbang Kompas)

2010/07/02

: Terobosan Kiai Dahlan

Oleh: Zaim Uchrowi

Terobosan. Bahasa ‘keren’-nya transformasi. Istilah itu yang selalu terbayang setiap teringat nama Kiai Achmad Dahlan. Membuat yang jauh lebih dekat. Membikin tertembus yang terhalang. Menjadikan suatu keadaan berubah secara mendasar dalam waktu yang relatif singkat. Itu terjadi sekitar 100 tahun lalu.

Saat itu, kemakmuran Belanda tengah melesat. Keadaan yang membuat negara kecil itu tak kalah pamor dengan para tetangganya yang lebih besar, seperti Inggris dan Prancis. Apalagi, dibandingkan Spanyol yang justru sedang surut. Kemakmuran itu terbangun dari akumulasi kapital di tanah jajahannya ini. Hindia Belanda.

Perkebunan yang digarap lewat program tanam paksa pasca-Perang Diponegoro dan Perang Paderi telah memberikan kemakmuran luar biasa. Dawam Raharjo menyebutkan, jika akumulasi modal itu ditanamkan untuk industrialisasi di sini, Nusantara akan menjadi kawasan paling maju di dunia. Lebih dari Amerika Serikat atau bangsa lain manapun. Tahun 1901, Raja Thailand berkunjung ke Jawa untuk belajar industri pertanian.

Alih-alih anak negeri ini mendapat berkah dari kemakmuran itu, yang terjadi justru sebaliknya. Kemiskinan adalah potret utama bangsa ini. Ditambah kebodohan dan satu lagi, kemalasan, menjadikan bangsa ini sempurna sebagai bangsa terjajah. Keadaan itu mengusik hati kiai muda Yogya yang baru pulang ‘mesantren’ di Makkah. Ia sangat yakin, bangsa dan umat harus berubah. Perubahan yang diperlukan adalah perubahan mentalitas yang berakar pada kesadaran beragama, kesadaran berbangsa, serta kesadaran sosial.

Meluruskan arah kiblat di Masjid Agung Yogya yang menggemparkan hanya salah satu sarana Kiai Dahlan untuk membuka kesadaran beragama. Beragama tak cukup dengan taklid dan dogma. Beragama perlu landasan kesadaran rasional. Peradaban Barat selama berabad-abad gelap akibat cengkeraman dogmatis lembaga keagamaan. Renaisans membebaskannya dengan kesadaran rasional hingga Barat mencapai kemajuan seperti sekarang. Kiai Dahlan membangun Renaisans serupa bagi umat dan bangsanya.

Sekolah, rumah sakit, panti asuhan, hingga ‘rumah miskin’ adalah jejak Renaisans dari Kiai Dahlan. Begitu pula, para kadernya yang menyebar di seluruh wilayah Nusantara. Jejak-jejak tersebut tak terbentuk begitu saja. Sangat banyak tantangan hingga larangan pemerintah penjajah yang harus dihadapi. Baru tahun 1912, Kiai Dahlan boleh resmi mengorganisasikan gerakannya. Saat itu, politik etis Belanda menguat. Mereka merasa bersalah telah menjajah secara keterlaluan. Mereka ingin menjajah secara lebih manusiawi. Iklim politik diperlonggar, kegiatan kelompok keagamaan diizinkan. Bukan hanya Muhammadiyah, melainkan juga Katolik yang sebelumnya terlarang karena Hindia Belanda ini sudah dipatok sebagai wilayah misi Protestan.

Terobosan Kiai Dahlan berbuah pada kebangkitan bangsa dan umat. Indonesia merdeka. Muhammadiyah ada di mana-mana. Tapi, Renaisans umat dan bangsa belum selesai. Potret kemiskinan, kebodohan, serta moral rendah masih mendominasi wajah bangsa ini. Keadaan yang akan memaksa para kader Muhammadiyah memilih. Cukup puas mengelus-elus organisasi warisan Kiai Dahlan atau akan kembali mengobarkan semangat terobosannya?

Saya percaya para pewaris Kiai Dahlan akan memilih jalan kedua: Menggali dan mengobarkan jiwa terobosan Pak Kiai. Walaupun dengan jalan terjal. Termasuk dengan membongkar total organisasi. ‘Ormas’ sudah harus ditinggalkan, diganti lembaga dakwah, pendidikan, dan sosial modern. Indonesia sekarang dan masa depan tak lagi perlu ormas. Negara-negara maju dan makmur tidak punya ormas, tetapi lembaga profesional. Landasannya bukan lagi massa, melainkan ukuran kinerja yang jelas. Bila Muhammadiyah seperti itu, sekolahnya yang berserak diangkat untuk sekelas Al-Hikmah, Penabur, atau Insan Cendekia yang lebih maju. Muhammadiyah juga akan mampu membuat sekolah bermutu gratis seperti yang sudah mulai dikembangkan lembaga lain.

"Bangsa dan umat ini perlu berubah secara mendasar untuk maju." Keyakinan itu yang menjadi landasan sikap dan gerak Kiai Dahlan. Keyakinan itu semestinya dimiliki seluruh umat dan bangsa ini agar dapat mengejar ketertinggalan dibandingkan bangsa dan umat lain. Tentu juga oleh Muhammadiyah yang saat ini masih berupa ormas dengan struktur dan kepengurusan ‘nggedabyah’. Muhammadiyah perlu menjadi ormas pelopor: berani dan mampu mengubah diri menjadi lembaga modern. Lembaga yang ramping, efektif, berspirit tinggi, dengan ukuran kinerja jelas. Muhammadiyah seperti itulah, bukan Muhammadiyah ‘kopong’ seperti sekarang, yang dibangun Kiai Dahlan.

Sejarah menunggu apakah Din Syamsuddin dan para tokoh Muhammadiyah lain memang mempunyai integritas dan kapasitas sebagai pewaris Kiai Dahlan, yang mampu membuat terobosan bagi umat dan bangsa. Muktamar Muhammadiyah sekarang menjadi cerminnya.

2010/07/02

: Mengubah Takdir dengan Husnuzhan

Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Selain doa dan ikhtiar, ada amalan lain yang juga bisa mengantarkan proses ‘perubahan takdir’. Amalan itu adalah amalan hati, yaitu selalu berbaik sangka (husnuzhan) dengan semua keputusan Allah SWT. Berbaik sangka merupakan produk dari olahan kekuatan iman. Tidak mungkin seseorang memiliki kemuliaan akhlak berupa husnuzhan, jika tidak yakin dengan segala sesuatu yang sudah diputuskan Allah.

Seseorang yang mengaku beriman sadar benar bahwa dari setiap peristiwa maka Allah telah mentransformasikan mutiara hikmah untuk manusia. Yakni, sesuatu yang berharga yang hilang milik orang beriman (al-Hikmatu zhalatul mu’minin). Artinya, kejadian yang menimpa kita, pasti ada kadar atau nilai berharga yang sudah dipersiapkan untuk kita. Namun, sementara ini belum ditemukan. Karena itulah, kata Imam Ali karramallahu wajhah, ”Jika kita menemukannya, segeralah diambil; fain wajadaha akhadzaha.”

Pertanyaannya, bagaimana bisa mengambil barang berharga itu, sementara kita sulit untuk mendeteksinya. Di sinilah peranan amalan hati, yaitu husnuzhan. Jika kita mempersangkakan bahwa ada banyak kebaikan yang telah Allah sediakan untuk kita dari takdir-Nya itu, akan benarlah persangkaan kita.

Karena itu, bagaimana rupa takdir kita ke depan, turut ditentukan dari persangkaan kita terhadap-Nya. Simak Hadis Qudsy berikut, Anaa ‘inda zhanni ‘abdi bih, wa Ana ma’aka idza da’awtani, "Aku mengikuti persangkaan hamba-Ku tentang Aku. Dan aku bersamamu jika memohon kepada-Ku."

Dengan demikian, husnuzhan bisa mengantarkan seseorang meraih apa yang diharapkan. Kalaulah saat ini kita sedang berduka karena kegagalan, bersegeralah husnuzhan bahwa akan ada kebaikan setelah kegagalan itu. Yakinlah bahwa takdir kita ke depan pasti dipenuhi dengan takdir kesuksesan. Tetaplah optimis. Selama hari masih menjelang, kesempatan meninggalkan kegelapan malam masih selalu terbuka. Dan, kita akan berada di jalur siang yang terang benderang.

Keberuntungan orang yang husnuzhan, tak hanya didapatkan di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak. Rasul menyebut orang yang husnuzhan sebagai pemegang kunci surga. Dalam sebuah taklim di hadapan para sahabatnya, Rasul mengatakan bahwa sebentar lagi akan masuk seorang yang kelak akan memegang kunci surga. Semua sahabat terpana. Sampai seorang Umar bin Khattab ‘iri’ dengan penyematan istilah tersebut. Tidak lama kemudian masuklah orang yang dimaksud.

Orang ini penampilannya biasa-biasa saja. Tidak ada ciri khusus. Karena penasaran, Umar meminta izin untuk menginap di rumah orang tersebut. Tiga hari Umar RA menginap di rumah orang ini. Namun, dia tidak menemukan amalan khusus orang tersebut.

Ketika Umar bertanya, apa rahasianya. Orang itu menjawab, "Ibadah dan amalanku sebenarnya biasa saja, wahai Umar. Hanya selama hidupku, aku diajari oleh ibuku untuk tidak punya perasaan buruk sangka terhadap apa pun dan siapa pun. Barangkali itulah amalan yang dimaksud Rasulullah SAW."

2010/07/01

: Wasiat KH Ahmad Dahlan

Oleh A Malik Fadjar
(Ketua PP Muhammadiyah, 2005-2010)


Hidup-hiduplah Muhammadiyah, Jangan Mencari Hidup di Muhammadiyah

Itulah wasiat yang berupa pesan singkat (semacam "SMS") dari pendiri Persyarikatan Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, kepada para pengikut dan pendukungnya menjelang akhir kepemimpinan dan hayatnya (1923). Dan, wasiat itu, oleh Pak AR Fachruddin (ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah terlama, 1968-1990), dinilai sangat mendasar dan mendalam. Tetapi, wasiat itu akhir-akhir ini nyaris tak terdengar lagi. Tenggelam dalam dinamika dan perubahan zaman.

Padahal, di dalam wasiat itu, tersurat dan tersirat ajakan ataupun seruan agar generasi penerus tidak menyimpang dan kehilangan arah serta orientasinya dalam ber-Muhammadiyah. Karena, pembentukan organisasi yang dinamai Muhammadiyah yang dalam Ensiklopedi Islam berarti merujuk pada kata "Muhammad", yaitu nama Rasulullah SAW, yang mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW, adalah merupakan wadah atau alat, dan/atau kendaraan untuk menjalankan dan meneruskan "Risalah Islamiyah" yang rahmatan lil ‘alamin. Bukan organisasi yang hanya sebatas mewadahi massa dengan simbol-simbol dan ikatan-ikatan emosionalnya, melainkan merupakan wadah pergerakan yang mengusung cita-cita yang abadi serta mulia dan mewujudkannya dalam bentuk perbuatan nyata.

Sesungguhnyalah Muhammadiyah itu bukan merupakan organisasi gerakan yang gemuruh dengan gegap-gempitanya massa yang diorganisasi dan dimobilisasi. Ia-Muhammdiyah-itu menurut tokoh nasionalis Roeslan Abdulgani, "jiwa dari gerakannya menuju kemajuan yang ruhnya adalah pembebasan dari belenggu-belenggu kedangkalan pandangan, pencemaran akidah, keterbelakangan amaliah, kerapuhan etika, dan kemiskinan dalam penalaran dan gagasan." Sebuah pergerakan keagamaan dan sosial kemasyarkatan yang berkelanjutan.

Ikhwal Wasiat
Mengapa ada wasiat itu? Adakah sesuatu yang mengkhawatirkan? Bukankah kiai cukup paham akan arti pentingnya organisasi? Apa pula yang dimaksud dengan "jangan mencari hidup di Muhammadiyah?"

Konon, di balik wasiat itu, memang ada semacam kekhawatiran pada diri kiai. Bahkan, cukup lama kiai berpikir dan menimbang-menimbang permintaan dan desakan para pengikut dan pendukungnya untuk membentuk organisasi guna mewadahi gerakan yang telah dirintis selama lebih kurang 10 tahun, seperti pengajian, pendidikan, kesehatan, dan penyantunan fakir miskin serta yatim piatu.

Konon pula, pokok persoalan dan yang menjadikan dasar pertimbangannya, ialah bahwa setelah organisasinya terbentuk, para penerusnya lebih asyik dan sibuk dengan persoalan-persoalan rutin dan menyempit. Elan vitalnya sebagai organisasi gerakan dakwah yang berwawasan pembaruan atau tajdid menjadi tumpul. Kurang peka terhadap persoalan-persoalan nyata yang dihadapi oleh umat dan bangsanya.

Berpegang Wasiat
Bersyukurlah generasi penerus cukup istikamah dan penuh rasa tawadu dapat terus menumbuhkembangkan Muhammadiyah, baik kegiatan dan organisasinya maupun pemikiran dan wawasan keagamaannya. Meski harus melalui liku-liku perjalanan panjang, baik sebelum maupun sesudah Indonesia merdeka, berbagai rintangan dan tantangan, terutama dalam menghadapi dan menyikapi kebijakan politik kebangsaan dan kenegaraan, dapat dilalui hingga mampu hidup dan berperan melintasi zaman dan mencapai usia "satu abad" (1330-1431 H). Tetap utuh, tidak cerai-berai. Dan, terhindar dari apa yang digambarkan Alquran dalam bentuk metafora: "Seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai-berai kembali."

Sebagai organisasi yang mempunyai massa berlapis-lapis dan kegiatan keagamaan serta sosial kemasyarakatan di tingkat komunitas basis, Muhammadiyah keberadaannya memang telah menyatu dan menjadi bagian dari bangunan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Karena itu, berbagai aktivitas maupun kelembagaannya juga menyatu dan menjadi bagian tak terpisahkan dengan aktivitas maupun kelembagaan yang ada, tumbuh, dan berkembang di masyarakat, termasuk di bidang politik. Dan, di bidang politik inilah sikap dan kebijakan pimpinan Muhammadiyah sering mengalami atau dihadapkan pada pilihan sulit (dilema) antara tetap mempertahankan untuk "tidak masuk" dan "masuk" dalam percaturan maupun "tarik-menarik" kepentingan dan kekuatan politik.

Pak AR Fachrudding melalui sketsa liku-liku perjalanan Muhammadiyah yang berjudul, Muhammadiyah adalah Organisasi Dakwah Islamiyah, menuturkan seputar pilihan sulit yang dialaminya. Pertama, tatkala pimpinan dan tokoh-tokoh Muhammadiyah ikut mendirikan dan mempertahankan satu-satunya partai politik Islam "Masyumi". Kedua, tatkala menyikapi kebijakan politik Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme) Presiden Soekarno. Ketiga, tatkala menyikapi kebijakan politik "Asas Tunggal Pancasila" Presiden Soeharto.

Begitu pula di era reformasi. Hampir semua jajaran pimpinan dan warga Muhammadiyah terlibat dan melibatkan diri langsung maupun tidak langsung dalam perpolitikan reformasi. Mulai dari memprakarsai berdirinya Partai Amanat Nasional (PAN), pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung, dan pemilihan umum kepala daerah dan wakilnya, hingga pendirian Partai Matahari Bangsa (PMB) oleh generasi mudanya. Boleh dikatakan, selama era reformasi ini penuh diliputi dan disibukkan oleh euforia politik. Dengan demikian, gerak dakwah dan tajdidnya kurang tampak terasakan.

Peneguhan Wasiat
Juli 2010. Tepatnya tanggal 3-8 Juli, Muhammadiyah menggelar muktamarnya yang ke-46. Di kota kelahirannya, Yogyakarta, muktamar ini sekaligus menandai "satu abad" perjalanan dan kiprahnya sebagai organisasi dakwah dan tajdid. Tema yang diusung adalah "Gerak Melintasi Zaman Dakwah dan Tajdid Menuju Peradaban Utama".

2010/07/01

: Jadilah Pemain, Jangan Cuma Menonton

Oleh KH Didin Hafidhuddin

Keberkahan hidup merupakan dambaan setiap orang, keluarga, maupun masyarakat dan bangsa. Sebab, dengan keberkahan itu setiap orang dipastikan mampu mengatasi berbagai persoalan hidup dan kehidupannya, baik yang berat dan kompleks, apalagi yang ringan dan sederhana.

Sebaliknya, tanpa keberkahan hidup, setiap orang pasti tidak akan mampu menyelesaikan masalah. "Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali …" (QS An-Nahl [16]: 92).

Keberkahan hanyalah akan diraih dengan keimanan dan keyakinan kepada Allah SWT sebagai bingkai dan landasan kehidupannya. Keimanan yang bersih, tulus, dan jauh dari perbuatan syirik dalam segala kehidupannya.

Ketundukan dan kepatuhannya kepada aturan Allah SWT, benar-benar telah terinternalisasi ke dalam struktur ruhani dan kepribadiannya, sehingga perilakunya benar-benar mencerminkan ketakwaan. Yakni, melaksanakan segala yang diperintahkan dan menjauhi semua larangan Allah, seperti ghibah, pergaulan bebas, mempertontonkan auratnya di hadapan khalayak yang ujungnya bebas melakukan perzinaan.

Keimanan dan ketakwaan inilah yang akan melahirkan keberkahan. "Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS Al-A’raf [7]: 96).

Sebaliknya, apabila keimanan dan ketakwaan melemah dan diganti dengan kecintaan kepada dunia, maka keberkahan akan diangkat dan dicabut oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, "Apabila umatku telah mengagungkan dan menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka akan dicabut kehebatan Islam. Dan, apabila mereka tidak mau melaksanakan amar makruf nahi munkar, maka akan terhalang dari keberkahan wahyu (keberkahan dari langit yang bersumber dari ridha dan ampunan Allah)." (HR Tirmidzi).

Karena itu, menghadapi berbagai persoalan yang menimpa umat dan bangsa kita sekarang ini, terutama persoalan akhlak dan moral, hendaknya setiap orang Islam aktif berbuat sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Umat Islam harus menjadi pemain, jangan menjadi penonton. Amar makruf nahi munkar dapat dilakukan dengan lisan, tulisan, harta, bahkan juga dengan kekuasaan.

Apabila hal ini menjadi bagian dari kehidupan seorang Muslim, keberkahan hidup dari Allah SWT akan diturunkan. Sebaliknya, jika tidak berbuat, apalagi cenderung setuju pada kemunkaran, maka akan tercabut dan terangkat keberkahan hidup dari Allah SWT. Wallahu a’lam

2010/06/16

: Keistimewaan Pahala Membaca Alquran

Oleh Syamsu Hilal

Salah satu keistimewaan Alquran adalah diberikan pahala bagi orang yang membacanya. Ibnu Mas’ud berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Alquran ), ia akan mendapatkan satu kebaikan yang nilainya sama dengan 10 kali ganjaran (pahala). Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." (HR Tirmidzi). Hadis dari Ibnu Mas’ud ini diperkuat dengan hadis serupa dari Abi Sa’id.

Rasulullah SAW memerintahkan kita mengkhatamkan (menyelesaikan bacaan) Alquran paling cepat dalam waktu tiga hari dan paling lambat satu bulan (30 hari). Kalau kita mengambil yang paling lambat, yaitu khatam dalam waktu satu bulan, berarti kita harus membacanya satu hari minimal satu juz. Satu juz kurang lebih terdiri atas 20 halaman. Bila 20 halaman tersebut kita bagi lima, setiap usai shalat fardhu kita cukup membaca empat halaman.

Membaca Alquran harus dilakukan dengan tartil, perlahan-lahan, dan sesuai dengan ilmu tajwid. Ibnu Mas’ud berkata, "Janganlah kalian membaca Alquran dengan amat perlahan seperti memungut buah kurma satu demi satu dan jangan pula membacanya dengan amat cepat seperti membaca syair. Namun, berhentilah pada keajaiban-keajaibannya dan resapilah dalam hati. Hendaklah perhatian kalian tidak terfokus pada akhir surat."

Berdasarkan pengalaman selama ini, membaca satu juz Alquran dengan tartil rata-rata membutuhkan waktu 30 menit. Ini berarti setiap selesai shalat fardhu kita cukup menyisihkan waktu enam menit untuk membaca Alquran agar kita bisa mengkhatamkannya satu kali dalam satu bulan.

Marilah kita hitung berapa kebaikan yang akan kita peroleh bila kita membaca Alquran setiap selesai shalat fardhu. Setiap halaman Alquran rata-rata terdiri atas 15 baris bacaan. Setiap baris bacaan rata-rata terdiri atas 35 huruf. Bila satu huruf dibalas dengan 10 pahala kebaikan dan bila membaca satu halaman Alquran; kita akan mendapat 5.250 pahala. Satu juz mendapat 105 ribu pahala. Bila satu bulan khatam, kita akan mendapat 3.150.000 pahala kebaikan.

Bila setiap selesai shalat lima waktu kita mencicil membaca Alquran minimal empat halaman-setara dengan enam menit-enam menit waktu yang kita sisihkan tersebut akan dibalas dengan 21 ribu pahala kebaikan. Subhanallah. Tentu saja ini balasan minimal dari Allah SWT. Dalam Alquran, disebutkan bahwa Allah SWT akan membalas setiap amal kebaikan tanpa batas sesuai dengan kehendak Allah SWT. Berapakah nilai satu ganjaran pahala di sisi Allah? Wallahu a’lam, tentu jauh lebih besar dari segala yang kita miliki di dunia.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 79 pengikut lainnya.