Forum Positif

Belajar berbagi hal-hal positif

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Bahasa Indonesia’

Syair – Pengertian dan contoh

Ditulis oleh dahlanforum di/pada November 11, 2009

Syair adalah salah satu jenis puisi lama. Ia berasal dari Persia (sekarang Iran) dan telah dibawa masuk ke Nusantara bersama-sama dengan kedatangan Islam. Kata syair berasal dari bahasa Arab syu’ur yang berarti perasaan. Kata syu’ur berkembang menjadi kata syi’ru yang berarti puisi dalam pengertian umum. Syair dalam kesusastraan

Melayu merujuk pada pengertian puisi secara umum. Akan tetapi, dalam perkembangannya syair tersebut mengalami perubahan dan modifikasi sehingga menjadi khas Melayu, tidak lagi mengacu pada tradisi sastra syair di negeri Arab. Penyair yang berperan besar dalam membentuk syair khas Melayu adalah Hamzah Fansuri dengan karyanya, antara lain:

Syair Perahu, Syair Burung Pingai, Syair Dagang, dan Syair Sidang Fakir.

Menurut isinya, syair dapat dibagi menjadi lima golongan, sebagai berikut.

1. Syair Panji

Syair panji menceritakan tentang keadaan yang terjadi dalam istana dan keadaan orang-orang yang berada atau berasal dari dalam istana.

Contoh syair panji adalah Syair Ken Tambuhan yang menceritakan tentang seorang putri bernama Ken Tambuhan yang dijadikan persembahan kepada Sang Ratu Kauripan.

2. Syair Romantis

Syair romantis berisi tentang percintaan yang biasanya terdapat pada cerita pelipur lara, hikayat, maupun cerita rakyat. Contoh syair romantis yakni Syair Bidasari yang menceritakan tentang seorang putri raja yang telah dibuang ibunya. Setelah beberapa lama ia dicari Putra Bangsawan (saudaranya) untuk bertemu dengan ibunya. Pertemuan pun terjadi dan akhirnya Bidasari memaafkan ibunya, yang telah membuang dirinya.

3. Syair Kiasan

Syair kiasan berisi tentang percintaan ikan, burung, bunga atau buahbuahan.

Percintaan tersebut merupakan kiasan atau sindiran terhadap peristiwa tertentu. Contoh syair kiasan adalah Syair Burung Pungguk yang isinya menceritakan tentang percintaan yang gagal akibat perbedaan pangkat, atau seperti perumpamaan “seperti pungguk merindukan bulan”.

4. Syair Sejarah

Syair sejarah adalah syair yang berdasarkan peristiwa sejarah.

Sebagian besar syair sejarah berisi tentang peperangan. Contoh syair sejarah adalah Syair Perang Mengkasar (dahulu bernama Syair Sipelman), berisi tentang perang antara orang-orang Makassar dengan Belanda.

Syair berbahasa Arab yang tercatat paling tua di Nusantara adalah catatan di batu nisan Sultan Malik al Saleh di Aceh,

bertarikh 1297 M.

5. Syair Agama

Syair agama merupakan syair terpenting. Syair agama dibagi menjadi empat yaitu: (a) syair sufi, (b) syair tentang ajaran Islam, (c) syair riwayatcerita nabi, dan (d) syair nasihat.

Perlu kita ketahui, setiap syair pasti mengandung pesan tertentu. Pesan tersebut dapat kita simpulkan setelah memahami isi sebuah syair.

dari buku sekolah

Ditulis dalam Bahasa Indonesia | Bertanda: , | 5 Komentar »

Istilah-istilah dalam bidang Sastra

Ditulis oleh dahlanforum di/pada Agustus 27, 2009

Argumen : alasan yang dapat dipakai untuk memperkuat atau menolak pendapat, pendirian, atau gagasan.

Biografi : riwayat hidup yang ditulis oleh orang lain.

Diskriminatif : pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan suku, agama, ekonomi, dan sebagainya).

Diskusi : pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran mengenai suatu masalah.

Edukatif : bersifat mendidik.

Ekspresi : pengungkapan atau proses menyatakan maksud, gagasan, perasaan, dan sebagainya.

Fakta : hal (keadaan, peristiwa) yang merupakan kenyataan; sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi.

Generalisasi : perihal membentuk gagasan atau simpulan umum dari suatu kejadian, hal, dan sebagainya.

Identitas : ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang atau jati diri.

Implementasi : pelaksanaan; penerapan.

Informasi : pemberitahuan kabar.

Intonasi : ketepatan tinggi rendah nada.

Kaderisasi : hal mendidik menjadikan seseorang menjadi kader.

Kritik : kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian atau pertimbangan baik buruk terhadap hasil karya atau pendapat.

Kualitas : tingkat baik buruk sesuatu; kadar.

Mahir : sangat terlatih.

Mimik : peniruan dengan gerak anggota badan dan raut muka.

Nada : tingi rendah bunyi.

Paradigma : kerangka berpikir.

Program : acara

Proposal : rencana yang dituangkan dalam bentuk rancangan kerja.

Telekomunikasi : komunikasi jarak jauh melalui kawat (telegrap, telepon) dan radio.


Persewaan Alat PestaKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah okRek.com · DutaPulsa


dari buku sekolah

Ditulis dalam Bahasa Indonesia, Sastra | Bertanda: , | Leave a Comment »

SANGKURIANG – Contoh Naskah drama untuk latihan pemeranan

Ditulis oleh dahlanforum di/pada Agustus 16, 2009

Karya UTUY TATANG SONTANI

BABAK IV- ADEGAN 1

Malam hari

LAKONPERTAMA

Di halaman rumah. Sayup-sayup sampai di kejauhan terdengar suara gemuruh

Dayang Sumbi keluar dan rumah dengan suluh ditangan

1. DAYANG SUMBI: Rasa-rasa dalam mimpi

        • bahwa di malam ini

          sedang diciptakan telaga

          beserta perahunya,

          dimana aku akan berlayaran

          sebagai istri dan anakku sendiri

          Rasa-rasa dalam mimpi

          bahwa tadi

          aku dipinang anakku

          dan nanti

          akan menjadi ibu dari cucuku sendiri

          Ah, satu diantara dua :

          aku atau anakku,

          itulah yang sebenarnya bermimpi

          di malam ini

          Dan karena kini

          asal tadi dan bakal nanti,

          maka siapa yang bermimpi malam ini,

          itulah yang besok pagi kesiangan,

          itulah pemimpi sepanjang jaman

BUJANG MUNCUL

2. DAYANG SUMBI: Bagaimana ?

      • Apa yang nampak di mata ?

3. BUJANG : Bagai tenaga raksasa yang dicurahkan.

4. DAYANG SUMBI: Bagaimana ?

5. BUJANG : Bumi gemuruh

    • pohon-pohon pada tumbang

      batu-batu bergulingan

      membendung air,

      Dilanda air

      Dan siapa yang mengerjakan

      haiam tidak kelihatan

      Tapi yang tidak bisa dipungkin lagi

      telaga luas akan segera terbukti

6. DAYANG SUMBI: Dan perahu ?

7. BUJANG : Itupun hampir selesai

8. DAYANG SUMBI: Kalau begitu,

        • kita tidak boteh lalai

          Mang Aida Lepa dan kawan-kawannya, mesti segera diminta datang

9. BUJANG : Baik, Nyai, biar sekarang juga

    • bibi bangunkan semua

BUJANG TURUN

10. DAYANG SUMBI: Riuh gemuruh dikejauhan,

        • alamat telaga sedang dibangun.

          Riuh gemuruh di dalam dadaku,

          karena hati naik turun

          Ah, hatiku !

          hati manusia yang tahu tiada upaya,

          tapi juga hati seoiang ibu

          yang diancam bahaya

          Sebagai manusia,

          Ya. Dewata

          Hatiku turun ke bawah telapak

          kaki-Mu,

          hidmat menyembah kebesaran-Mu,

          menyerah

          mengalah kepada kehendak-Mu

          yang benar selalu

          Tapi sebagai ibu,

          ya, anakku !

          Hatiku naik ke atas puncak citamu,

          keras menolak keingmanmu,

          bertindak

          berontak menentang kebenaranmu

          yang tiada benar bagiku

BUJANG MUNCUL DIIRINGI ARDA LEPA DAN KAWAN-KAWAN

11. ARDA LEPA : Ada apa, Nyai ?

      • kami dipanggil di malam sepi ?

12. DAYANG SUMBI: Mamang, malam ini

        • bukan malam sepi.

          Malam ini malam yang seram

          malam yang berat mengancam

          Anakku Sang Kuriang

          mulai tadi siang

          menyatakan pendapatnya

          yang tidak disangka-sangka

          Dia tidak mau percaya

          bahwa mi bukan ibunya

13. ARDA LEPA : Tapi jika semua orang

      • sependapat dengan Sang Kunang,

        apa yang hendak kite katakan, kawan?

        Kita semua tidak menyaksikan

        kapan Sang Kunang dilahirkan,

        bukan?

14. BERSAMA : Biar buta I Biar mati!

      • Tak pernah kita mengetahui.

15. DAYANG SUMBI: Memang, kalau semua orang

        • sependapat dengan Sang Kuriang,

          itu terserah kepada mereka

          Tapi bagiku aku adalah ibunya.

          Kalau aku bukan ibu Sang Kuriang

          aku tidak akan menolak dia meminang.

          Dan mamang sekarang

          tidak akan diminta datang

          Apakah mamang setuju

          anak mengawini ibu ?

16. ARDA LEPA : Anak mengawini ibu ?

      • Yey, itu tidak lucu !

17. BERSAMA : Itu mesti disapu !

      • Lebih haram dan jinah !

        Lebih hewan dari hewan !

18. ARDA LEPA : Kalau betul Nyai ibu Sang Kunang

      • kalau betul Sang Kuriang meminang

        Sang Kunang mesti kami buang !

        Kalau tidak,

        kami semua ikut berjinah

        Kami menjadi hewan.

19. DAYANG SUMBI: Nantidulu

        • Dengar dulu!

          Sebagai ibu yang kasih sayang teRhadap

          anak, pinangan anakku tidak terangterangan

          ditolak,

          Aku berjanji mau kawin dengan dia,

          asal besok ban sedia perahu dan telaga,

          Ternyata sekarang

          Perahu dan telaga sudah hamper siap

          Berarti Sang Kuriang

          akan dapat memenuhi permintaan ku.

20. ARDA LEPA : Jadi sekarang Nyai ingin

      • supaya tidak jadi kawin ?

        supaya peiahu dan telaga

        besok tidak bukti ?

21 DAYANG SUMBI: Betul.

        • Karena itu ku menginginkan

          supaya kalian membakar hutan,

          biar apinya bersinar-sinar;

          menyerupai sinar fajar,

          biar anakku Sang Kuriang

          Melihat siang akan mendatang !

          biar maksudnya diurungkan,

          lantaran merasa kesiangan

22. ARDA LEPA : Ai, ai, Nyai ingin

      • Sang Kunang diajak bermam ?

        Itu lucu !

23. BERSAMA : Tapi apa mungkin ?

      • Sang Kuriang lain dan yang lain

24. DAYANG SUMBI: Sang Kuriang memang lain dari yang lain

      • tapi Sang Kuriang manusia

        Dan kepada manusia aku tetap yakin:

        ada Dewata dalam dirinya

        Dan selama ada Dewata

        di dalam din manusia

        kewajiban kita

        bukan menundukan membmasakan

        tapi menyalakan api keDewataan

        yang bersemayam di tubuh lawan

        Semoga api pembakar hutan

        menjadi api kedewataan

        yang bersinar terang-benderang

        dalam tubuh Sang Kunang !

25 ARDALEPA : Bagaimana kawan.

      • kita sekarang membakar hutan ?

26. BERSAMA : Asal terang

      • ada anak memang ibu

27. ARDA LEPA : Yang sudah terang

      • semua manusia adalah satu

        Orang lain masih kita juga.

        Karena itu,

        marilah kita ajak Sang Kuriang

        bermain bersama kita

        dengan api di tangan kita

        Inilah panggilan kita

        di dalam hidup bersama



Dari buku Sekolah

<<Ada juga naskah drama yang lain di sini>>

Ditulis dalam Drama, Naskah Drama, Pendidikan | Bertanda: , | 1 Komentar »

Aris Nugraha: Membuat Skenario Komedi Tidak Lebih Mudah daripada Membuat Pesawat Ulang Alik

Ditulis oleh dahlanforum di/pada Juli 4, 2009

Bajaj Bajuri adalah sinetron komedi yang sukses dan digemari banyak kalangan. Meskipun bukan buat anak-anak, banyak anak yang menyukainya. Siapa ya penggagas sinetron Bajaj Bajuri? Dia adalah Pak Aris Nugraha. Beliau adalah penulis skenario, sutradara, dan produser sinetron tersebut.

Ketika kamu terbahak-bahak menonton Bajaj Bajuri, pernahkah kamu membayangkan sulitnya membuat skenario sinetron komedi?

Menurut Pak Aris, dibanding sinetron drama, membuat sinetron komedi jauh lebih susah.

“Kita harus bekerja dua kali.

Pertama, kita harus membuat jalan cerita, setelah itu baru kita menambah unsur lucu dalam cerita tadi. Lucu itu biasanya berasal dari kesalahan. Baik itu salah bicara, salah melakukan, salah paham, atau salah mengerti,” jelas Pak Aris.

Jadi, jelas membuat sinetron komedi, seperti Bajaj Bajuri, tidak mudah. Pak Aris membutuhkan waktu dua tahun untuk menyiapkannya.

Persiapan yang paling banyak memakan waktu adalah membuat karakter tokoh. Setiap karakter yang dibuat haruslah sedetail mungkin.

Mulai dari penampilan fisik, daerah asal, latar belakang pendidikan, sampai sejarah singkat hidup tokoh.

Tidak lupa Pak Aris juga menambahkan ciri khas lisan (ucapan) pada setiap tokoh yang dibuat.

Misalnya, Mpok Minah dengan kata “maaf”-nya, dan Said dengan “ane ente”nya. Semua itu adalah salah satu usaha Pak Aris untuk memberi ciri khas pada setiap tokoh yang dibuatnya.

Setelah sukses menggarap seratus episode pertama, Pak Aris mulai berencana membuat sinetronkomedi lain. Untuk itu, ia mulai menyerahkan penulisan naskah dan penyutradaraan Bajaj Bajuri kepada orang lain. Hal ini dilakukan agar sinetron tidak kehabisan ide. Pak Aris pun kemudian mulai melatih para penulis naskah muda. Saat ini, Pak Aris memiliki 16 penulis yang ia latih sendiri. Setelah ‘melepaskan’ Bajaj Bajuri, Pak Aris mulai membuat sinetron komedi lain, yaitu Radio Repot dan Tante Tuti.

Walaupun menggarap sinetron komedi, Pak Aris mengerjakannya dengan sangat serius. Ia selalu menyisipkan pesan moral dalam setiap episode yang ia buat.

“Setiap episode yang saya buat, harus mengandung kesimpulan mengenai kebenaran atau memberi pelajaran,” begitu katanya.

Pak Aris juga menolak memasukkan unsur kekerasan. Inilah yang membuat pekerjaannya semakin sulit. Selain harus membuat cerita lucu yang ada pesan moralnya, ia juga harus menghindari kekerasan dan tayangan yang tidak pantas. “Kalau dipikir-pikir, membuat naskah komedi itu tidak lebih mudah daripada membuat Apollo atau pesawat ulang-alik, lho!” kata Pak Aris menggambarkan rumitnya pekerjaan menulis skenario komedi yang baik.

Kepedulian Pak Aris tentang pesan moral dan anti kekerasan memang beralasan. Hal ini ada hubungannya dengan cita-cita Pak Aris sejak kecil, menjadi guru.

Walaupun ia tidak berhasil meraih cita-citanya tersebut, namun ia masih dapat mendidik masyarakat melalui sinetron yang dibuatnya.

Keterlibatan Pak Aris dalam dunia penulisan naskah sinetron, tidak datang begitu saja. Ia memulainya dari bawah dengan menjadi kru film yang disebut clapper. Itu, lho, yang tugasnya membawa papan, pada setiap pengambilan gambar, lalu berteriak “take one!”

Untuk menjadi seorang clapper, Pak Aris harus meninggalkan profesi wartawannya. la rela meninggalkan pekerjaan tersebut karena ia sangat ingin menjadi seorang penulis skenario.

Walaupun Pak Aris memeroleh keahliannya itu tanpa mengikuti jalur formal, ia tidak menganjurkan hal tersebut. Kata Pak Aris, di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ada Jurusan Penulisan Skenario, tepatnya di Fakultas Film dan Seni. “Kalian juga harus terbiasa membaca atau menonton tayangan yang bagus. Dengan begini, ketika kalian membuat sebuah karya, karya itu pasti bagus.”


Terima kasih: Duta PulsaPersewaan Alat PestaTokonya Arek SuroboyoToko JilbabKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah


Ditulis dalam Bahasa Indonesia, Pendidikan, Sastra | Bertanda: , , | 1 Komentar »

Sudah – Naskah drama

Ditulis oleh dahlanforum di/pada Juni 8, 2009

Karya Darto Temala

Para pelaku:

1. Igun

2. Yusrina

3. Hanafi

Pentas menggambarkan sebuah kebun, halaman belakang gedung perpustakaan suatu SMA. Di tengah terdapat bangku panjang, tempat duduk yang terbuat dari semen. Bagian depan sebelah kanan terdapat bak air kecil yang tak ada airnya dan bisa untuk duduk. Ada beberapa tanaman bunga dan pot bunga ada di situ.

Latar belakangnya gedung perpustakaan.

Yusrina

(Sedang tekun membaca buku catatan, belajar. Tas, buku ada di sisinya, di bangku tersebut. Setelah terdengar bel, beberapa saat berlalu dalam sepi)

Igun

(Masuk dari kiri) Sudah lama?

Yusrina

(Acuh tak acuh) Sudah!

Igun

(Duduk di sampingnya) Tentu saja. Tadi kau tidak ikut pelajaran yang keenam. (Membuka buku catatan)

Pak Hadi tadi juga menanyakan kamu. Lalu, teman teman menjawab sekenanya. Kau pulang lantaran sakit perut. (Pause) Jam keenam sudah lewat?

Yusrina

(Sambil membaca) Sudah!

Igun

Terang sudah. (Pause) Hmmmmm, sekarang jam pelajaran ketujuh. Jam kedelapan ulangan Fisika, jadi masih ada waktu untuk belajar…. (Melihat jam tangan) Tiga puluh tujuh menit. Kau sudah belajar tadi malam?

Yusrina

(Sambil membaca) Sudah!

Igun

Aku juga tahu, tapi cuma sepintas lalu saja. O, ya, soal-soal minggu kemarin sudah kau kerjakan?

Yusrina

(Sambil membaca) Sudah!

Igun

Semua? (Diam saja) Biasanya kau hanya mengerjakan empat dari sepuluh soal itu. Itu pun yang mudah saja.

lya, kan? Aku sendiri paling malas bila berhadapan dengan soal-soal Fisika. (Membuka catatannya) Eh, Yus, sudah nonton “Mighty Man”?

Yusrina

(Kesal) Sudah!

Igun

Bagaimana kesannya? Bagus? Aku juga nonton, juga lihat kamu. Kau nonton dengan….

Yusrina

(Cepat memotong) Sudah!

Igun

Asyik ya, nonton duaan!

Yusrina

(Kesal) Suuuudah!

Igun

(Menggoda) Kau tidak salah memilih cowok macam

Agus?

Yusrina

(Marah) Sudah! Sudah!

Igun

Dia itu cowok ideal. Gagah lagi. Face-nya lumayan, tidak terlalu ngepop, juga tidak kampungan.

Yusrina

(Marah) Suuuuuuudah! Sudah!

Igun

Apalagi anak pejabat tinggi.

Yusrina

(Masih marah) Sudah, sudah, sudah!

Igun

Sudah. Sudah,! Sudah! Lagi, ah! Dari tadi sudah melulu. Apa tidak ada kata-kata lain? Bahasa Indonesia kan banyak perbendaharaan katanya.

Sudah, sudah, sudah, dari tadi sudah, sudah, sudah melulu. (Menggoda) Jangan begitu, Yus, dia itu benarbenar cakep, Iho.

Yusrina

(Marah) Sudah, ah!

Igun

Sudah! Baru bertengkar, apa? Sedang Perang Sabil, ya? Jangan, ah! Dia itu cowok ideal. Sungguh! Cuma sayang. Kau kelihat-annya masih terlalu kecil. Aku kira kau belum pantas pacaran macam malam Minggu kemarin itu. Soalnya….

Yusrina

(Membanting bukunya) Sudah, sudah, sudah. Huuuuu… sudah, sudah, sudah. Cerewet terus. (Mengambil bukunya kembali) Sudah, aku mau belajar!

Igun

(Menirukan) Sudah, sudah, sudah, sudah. Huuuu… sudah, sudah, sudah! Cerewet terus. Sudah, aku mau belajar!

Yusrina

(Mencibir) Huuuuuh!

Igun

(Menirukan) Huuuuuh!

Hanafi

(Masuk dari kanan) Nah, ini. Ini baru bisa disebut pelajar teladan. Serius juga kelihatannya. (Mendekati Yusrina) Yus, mau ulangan, ya?

Yusrina

(Sambil membaca) Sudah, sudah, sudah!

Hanafi

Lho! Kelewat serius, nih! (Duduk di antara mereka) Sedang yang ini? Aku agak sangsi. Ini belajar atau melamun? Gun!

Igun

(Sambil membaca) Sudah, ah. Berisik saja. Ada orang lagi belajar ini.

Hanafi

Apa? Orang macam kamu belajar? Lantas kebudayaan menyontekmu kau ke manakan?

Igun

Sori saja, tidak musim sekarang.

Hanafi

Omong kosong! (Mengeluarkan sebatang rokok)

Pinjam koreknya.

Igun

Buat apa? Pinjam korek pada orang lagi belajar. Ini baru sepaning, mau ulangan Fisika tahu?!

Hanafi

Mau ulangan Fisika saja pakai sepaning segala. Tanya, nih, calon profesor. Beres!

Igun

Profesor gombal!

Hanafi

Tidak usah menghafal rumus-rumus. Buang waktu dan energi saja. Langsung pada soal, sekaligus

jawaban.

Igun

Hah!? Apa kelasmu sudah ulangan?

Hanafi

Sudah!

Igun

Sudah?

Hanafi

Sudah!

Igun

Kapan?

Hanafi

Jumat kemarin.

Igun

Lho! Bukankah Jumat kemarin Pak Asnawi masih opname di rumah sakit?

Hanafi

Ya, tapi Pak Asnawi kan guru tulen! Dia itu punya segudang soal ulangan sekaligus jawaban yang sudah jadi. Suatu saat ada ulangan, pakai soal yang itu. Ada ulangan lagi? Pakai soal yang ini. Dan dia itu bisa saja….

Sumber: Kumpulan Naskah Drama Remaja

Terima kasih: Duta Pulsa –  Buku MurahToko Barang PilihanPersewaan Alat PestaIklanBaris GratisTokonya Arek Suroboyo

Ditulis dalam Cerita, Drama, Pendidikan | Bertanda: , | Leave a Comment »

Prinsip-Prinsip Resensi Buku Sastra

Ditulis oleh dahlanforum di/pada Juni 5, 2009

Resensi berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata kerja revidere atau recensere. Artinya melihat kembali, menimbang, atau menilai. Arti yang sama untuk istilah itu dalam bahasa Belanda dikenal dengan recensie, sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah review. Tiga istilah itu mengacu pada hal yang sama, yakni mengulas sebuah buku. Tindakan meresensi buku dapat berarti memberikan penilaian, mengungkap kembali isi buku, membahas, atau mengkritik buku. Dengan pengertian yang cukup luas itu, maksud ditulisnya resensi buku tentu menginformasikan isi buku kepada masyarakat luas.

Apakah hanya buku yang bisa diresensi? Sebenarnya bidang garapan resensi cukup luas. Apabila diklasifikasikan, ada tiga bidang garapan resensi, yaitu (a) buku, baik fiksi maupun nonfiksi; (b) pementasan seni, seperti film, sinetron, tari, drama, musik, atau kaset; (c) pameran seni, baik seni lukis maupun seni patung.

1. Tujuan Resensi

Sebelum meresensi, hendaknya peresensi memahami tujuan resensi.

Apa sebenarnya tujuan resensi. Jika diamati, pemuatan resensi buku sekurang-kurangnya mempunyai lima tujuan, yaitu sebagai berikut.

a. Memberikan informasi atau pemahaman yang komprehensif tentang apa yang tampak dan terungkap dalam sebuah buku.

b. Mengajak pembaca untuk memikirkan, merenungkan, dan mendiskusikan lebih jauh fenomena atau problema yang muncul dalam sebuah buku.

c. Memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah buku itu

pantas mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.

d. Menjawab pertanyaan yang timbul jika seseorang melihat buku yang baru terbit, seperti berikut.

- Siapa pengarangnya?

- Mengapa ia menulis buku itu?

- Apa pernyataannya?

- Bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis karya pengarang yang sama?

- Bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis yang dihasilkan oleh pengarang-pengarang lain?

e. Untuk segolongan pembaca, resensi mempunyai tujuan berikut:

- membaca agar mendapatkan bimbingan dalam memilih buku;

- setelah membaca resensi berminat untuk membaca atau mencocokkan seperti apa yang ditulis dalam resensi;

- tidak ada waktu untuk membaca buku, kemudian mengandalkan resensi sebagai sumber informasi.

2. Dasar-Dasar Resensi

Sebelum meresensi, peresensi perlu memahami dasar-dasar resensi. Apa sajakah dasar-dasarnya? Berikut ini penjelasannya.

a. Peresensi memahami sepenuhnya tujuan pengarang buku itu.

Tujuan pengarang dapat diketahui dari kata pengantar atau bagian pendahuluan buku. Kemudian, dicari apakah tujuan itu direalisasikan dalam seluruh bagian buku.

b. Peresensi menyadari sepenuhnya tujuan meresensi karena sangat menentukan corak resensi yang akan dibuat.

c. Peresensi memahami betul latar belakang pembaca yang menjadi sasarannya: selera, tingkat pendidikan, dari kalangan macam apa asalnya, dan sebagainya. Atas dasar itu, resensi yang dimuat surat kabar atau majalah tidak sama dengan yang dimuat pada surat kabar atau majalah yang lain.

d. Peresensi memahami karakteristik media cetak yang akan memuat resensi. Setiap media cetak ini mempunyai identitas, termasuk dalam visi dan misi. Dengan demikian, kita akan mengetahui kebijakan dan resensi macam apa yang disukai oleh redaksi. Kesukaan redaksi ini akan tampak pada frekuensi jenis buku yang dimuat. Demikian pula, jenis buku yang dimuat biasanya sesuai dengan visi dan misinya. Misalnya, majalah sastra tidak menampilkan resensi buku tentang teknik. Jenis buku yang dimuat pasti buku yang berkaitan dengan masalah ekonomi. Demikian pula dengan majalah teknik dan filsafat.

Selain itu, peresensi ada baiknya mengetahui media yang akan dituju, seperti surat kabar (nasional atau daerah), dan majalah (ilmiah, ilmiah populer, atau hiburan).

3. Nilai Buku

Kegiatan meresensi buku pada hakikatnya melakukan penilaian terhadap buku. Menilai berarti mengulas, mempertimbangkan, mengkritik, dan menunjukkan kelebihan-kelebihan serta kekurangan-kekurangan buku dengan penuh tanggung jawab. Dengan penuh tanggung jawab artinya mengajukan dasar-dasar atau argumen terhadap pendapatnya, dan kriteria-kriteria yang dipergunakan untuk membentuk pendapatnya itu, serta data yang meyakinkan (dengan

menyajikan kutipan-kutipan yang tepat dan relevan). Akan tetapi, sasaran penilaian (organisasi, isi, bahasa, dan teknik) itu sering sulit diterapkan secara mekanis. Suatu unsur, sering lebih mendapat tekanan daripada unsur yang lain. Hal yang patut diperhatikan sebaiknya tidak menggunakan salah satu unsur untuk menilai keseluruhan buku.

Nilai buku akan lebih jelas apabila dibandingkan dengan karyakarya sejenis, baik yang ditulis oleh pengarang itu sendiri maupun yang ditulis oleh pengarang lain.

4. Bahasa Resensi

Bahasa resensi biasanya bernas (singkat-padat), tegas, dan tandas. Pemilihan karakter bahasa yang digunakan disesuaikan dengan karakter media cetak yang akan memuatnya dan karakter pembaca yang akan menjadi sasarannya.

Pemilihan karakter bahasa berkaitan erat dengan masalah penyajian tulisan. Misalnya, tulisan yang runtut kalimatnya, ejaannya benar, tidak panjang lebar (bertele-tele), dan tidak terlalu banyak coretan atau bekas hapusan.

Di samping itu, penyajian tulisan resensi bersifat padat, singkat, mudah ditangkap, menarik, dan enak dibaca. Tulisan yang menarik dan enak dibaca artinya enak dibaca baik oleh redaktur (penanggung jawab rubrik) maupun pembaca. Kita perlu membiasakan diri membaca resensi itu dengan menempatkan diri sebagai redaktur atau pembaca. Untuk itu, kita mengambil jarak. Jadikanlah diri kita seolah-olah redaktur atau pembaca. Dengan cara ini, emosi kita sebagai penulis bisa ditanggalkan. Kita akan mampu melihat kekuatan dan kelemahan resensi kita.

5. Kelebihan Resensi

a. Tidak Basi

Jika dibandingkan dengan tulisan lain, seperti berita, artikel, dan karangan khas (features), resensi lebih tahan lama. Artinya, andaipun resensi dikembalikan oleh redaksi, resensi itu masih dapat dikirim ke media lain. Demikian pula buku yang diresensi tidak harus buku yang baru terbit. Kita boleh meresensi buku yang terbit setahun yang lalu, asalkan buku itu belum pernah dimuat di media yang akan dituju. Meskipun demikian, pada umumnya buku yang diresensi, buku-buku yang baru terbit.

b. Menambah Wawasan

Informasi dari buku sangat berguna untuk menambah wawasan berpikir dan mengasah daya kritis. Kita juga bisa menilai apakah buku itu bermutu atau tidak.

c. Keuntungan Finansial

Jika resensi kita dimuat, kita tidak menerima honor dari redaksi saja, tetapi juga dari penerbit. Kalau fotokopi resensi itu dikirim ke penerbit, minimal buku baru yang kita dapat (jika penerbit tidak bersedia memberi honor). Biasanya penerbit akan memberi beberapa buah buku baru untuk diresensi kalau resensi buku kita sering dimuat di media cetak. Jadi, lumayan koleksi buku kita bertambah tanpa harus membeli.

6. Pola Tulisan Resensi

Ada tiga pola tulisan resensi buku, yaitu meringkas, menjabarkan, dan mengulas.

a. Meringkas (sinopsis) berarti menyajikan semua persoalan buku secara padat dan jelas. Sebuah buku biasanya menyajikan banyak persoalan. Persoalan-persoalan itu sebaiknya diringkas. Untuk itu, perlu dipilih sejumlah masalah yang dianggap penting dan ditulis dalam suatu uraian yang bernas.

b. Menjabarkan (deskripsi) berarti mengungkapkan hal-hal menonjol dari sinopsis yang sudah dibuat. Jika perlu, bagian-bagian yang mendukung uraian itu dikutip.

c. Mengulas berarti menyajikan uraian sebagai berikut:

- isi pernyataan atau materi buku yang sudah dipadatkan dan dijabarkan kemudian diinterpretasikan;

- organisasi atau kerangka buku;

- bahasa;

- kesalahan cetak;

- membandingkan (komparasi) dengan buku-buku sejenis, baik karya pengarang sendiri maupun karya pengarang lain;

- menilai, mencakup kesan peresensi terhadap buku, terutama yang berkaitan dengan keunggulan dan kelemahan buku.

Urutan pola meringkas, menjabarkan, dan mengulas itu dapat pula dipertukarkan. Kita bisa langsung mengulas, menjabarkan, dan meringkas. Misalnya, kita mulai dari kesan terhadap buku, membandingkan, lalu masuk ke bagian meringkas. Sesudah itu, kita memadatkan persoalan utama atau bagian terpenting dalam uraian yang singkat dan jelas. Kemudian, kita perlu menjabarkan bagian-bagian terpenting dari sinopsis. Kita pun dapat mulai dari menjabarkan, meringkas, dan mengulas. Namun, satu hal terpenting, isi pernyataan dalam buku itu dipahami terlebih dahulu.

Dari pemahaman itu, kita akan tahu pola mana yang tepat untuk menyajikannya.

7. Langkah-Langkah Meresensi Buku

Langkah-langkah meresensi buku sebagai berikut.

a. Penjajakan atau pengenalan terhadap buku yang diresensi.

- Mulai dari tema buku yang diresensi, disertai deskripsi isi buku.

- Siapa yang menerbitkan buku itu, kapan dan di mana diterbitkan, tebal (jumlah bab dan halaman), format, hingga harga.

- Siapa pengarangnya: nama, latar belakang pendidikan, reputasi dan prestasi, buku atau karya apa saja yang ditulis, hingga mengapa ia menulis buku itu.

- Buku itu termasuk golongan buku yang mana: ekonomi, teknik, politik, pendidikan, psikologi, sosiologi, filsafat, bahasa, atau sastra.

b. Membaca buku yang akan diresensi secara komprehensif, cermat, dan teliti. Peta permasalahan dalam buku itu perlu dipahami secara tepat dan akurat.

c. Menandai bagian-bagian buku yang diperhatikan secara khusus dan menentukan bagian-bagian yang dikutip untuk dijadikan data.

d. Membuat sinopsis atau intisari dari buku yang akan diresensi.

e. Menentukan sikap dan menilai hal-hal berikut.

- Organisasi atau kerangka penulisan; bagaimana hubungan antara bagian yang satu dan bagian yang lain, bagaimana sistematikanya, dan bagaimana dinamikanya.

- Isi pernyataan; bagaimana bobot ide, analisis, penyajian data, dan kreativitas pemikirannya.

- Bahasa; bagaimana ejaan yang disempurnakan diterapkan, kalimat dan penggunaan kata, terutama untuk buku ilmiah.

- Aspek teknis; bagaimana tata letak, tata wajah, kerapian dan kebersihan, dan pencetakannya (banyak salah cetak atau tidak).

Sebelum menilai, alangkah baiknya jika terlebih dahulu dibuat semacam garis besar (outline) resensi itu. Outline ini sangat membantu kita ketika menulis. Mengoreksi dan merevisi hasil resensi dengan menggunakan dasar dan kriteria yang kita tentukan sebelumnya.

8. Unsur-Unsur Resensi

Kita perlu mengetahui unsur-unsur yang membangun resensi buku. Apa saja unsur-unsur yang membangun resensi buku?

a. Membuat Judul Resensi

Judul resensi yang menarik dan benar-benar menjiwai seluruh tulisan atau inti tulisan, tidak harus ditetapkan terlebih dahulu. Judul dapat dibuat sesudah resensi selesai. Hal yang perlu diingat, judul resensi selaras dengan keseluruhan isi resensi.

b. Menyusun Data Buku

Data buku biasanya disusun sebagai berikut:

- judul buku (Apakah buku itu termasuk buku hasil terjemahan.

Kalau demikian, tuliskan juga judul aslinya.);

- pengarang (Kalau ada, tulislah juga penerjemah, editor, atau penyunting seperti yang tertera pada buku.);

- penerbit;

- tahun terbit beserta cetakannya (cetakan ke berapa);

- tebal buku;

- harga buku (jika diperlukan).

c. Membuat Pembukaan (lead)

Pembukaan dapat dimulai dengan hal-hal berikut:

- memperkenalkan siapa pengarangnya, karyanya berbentuk apa saja, dan prestasi apa saja yang diperoleh;

- membandingkan dengan buku sejenis yang sudah ditulis, baik oleh pengarang sendiri maupun oleh pengarang lain;

- memaparkan kekhasan atau sosok pengarang;

- memaparkan keunikan buku;

- merumuskan tema buku;

- mengungkapkan kritik terhadap kelemahan buku;

- mengungkapkan kesan terhadap buku;

- memperkenalkan penerbit;

- mengajukan pertanyaan;

- membuka dialog.

d. Tubuh atau Isi Pernyataan Resensi Buku

Tubuh atau isi pernyataan resensi biasanya memuat hal-hal berikut:

a. sinopsis atau isi buku secara bernas dan kronologis;

b. ulasan singkat buku dengan kutipan secukupnya;

c. keunggulan buku;

d. kelemahan buku;

e. rumusan kerangka buku;

f. tinjauan bahasa (mudah atau berbelit-belit);

g. adanya kesalahan cetak.

Terima kasih: Duta Pulsa –  Buku MurahToko Barang PilihanPersewaan Alat PestaIklanBaris GratisTokonya Arek Suroboyo

Ditulis dalam Bahasa Indonesia, Pendidikan, Pengetahuan, Sekolah | Bertanda: , | Leave a Comment »

Pada Suatu Hari Nanti

Ditulis oleh dahlanforum di/pada Mei 10, 2009

Pada suatu hari nanti

Jasadku tak akan ada lagi

Tapi dalam bait-bait sajak ini

Kau takkan kurelakan sendiri

Pada suatu hari nanti

Suaraku tak terdengar lagi

Tapi di antara larik-larik sajak ini

Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti

Impianku pun tak dikenal lagi

Namun di sela-sela huruf sajak ini

Kau takkan letih-letihnya kucari

Karya Sapardi Djoko Damono

Sumber: Kumpulan puisi Hujan Bulan Juni, 1994

Dari Buku Sekolah


Terima kasih: Duta PulsaPersewaan Alat PestaToko JilbabKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah


Ditulis dalam Bahasa Indonesia, Puisi, Renungan | Bertanda: , | Leave a Comment »

Pedagang yang Budiman

Ditulis oleh dahlanforum di/pada Mei 8, 2009

Sera adalah seorang pedagang keliling. Ia ramah dan selalu gembira. Sambil menyusuri jalan ia menjajakan barang jualannya, “Barang bagus! Barang bagus! Siapa mau beli? Siapa mau beli?”

Sera senang jika ibu-ibu mau membelikan anak-anak mereka barang yang bagus. Hatinya puas melihat anak-anak tersenyum bahagia. Suatu hari, saat Sera sedang menyusuri jalan, ia melihat pedagang keliling lain bernama Taro.

“Pergi Sera!” seru Taro marah. “Ini jalanku! Aku lebih dulu berada di jalan ini! Kau boleh berdagang di sini setelah aku pergi!”

Sera segera pindah ke jalan lain. Taro mengetuk pintu rumah pertama.

Seorang gadis kecil membuka pintu.

“Oh, Nenek!” katanya. “Maukah Nenek membelikanku sesuatu?”

“Kita tidak punya uang,” kata Nenek. “Tapi coba tanya pedagang itu. Apa dia mau menukar barang yang kamu suka dengan kendi hitam kita?”

Ketika si gadis keluar, ia memperlihatkan kendi hitam pada Taro. Taro mengamati lalu membuat goresan kecil pada kendi itu. Ia sangat terkejut, ternyata kendi hitam itu terbuat dari emas. Timbul ide liciknya. Wanita tua ini tidak tahu kendinya terbuat dari emas. Akan kukatakan kendi ini jelek. Lantas aku pergi.

Nanti aku kembali dan membelinya dengan harga yang sangat murah. Begitu pikir Taro. Lalu ia berkata,

“Kendi ini tidak bagus!” Setelah mengembalikan kendi pada gadis, ia segera pergi.

Tak lama kemudian, Sera melewati jalan itu. “Barang bagus!” serunya. “Siapa mau beli? Siapa mau beli?”

Saat gadis kecil itu melihat Sera, ia berkata, “Nenek, boleh aku bertanya ke pedagang itu? Mungkin dia mau menukar barang yang kubutuhkan dengan kendi ini…”

“Kata pedagang yang tadi kendi ini jelek,” sahut Nenek. “Tapi coba tanya pada pedagang ini.”

Gadis kecil itu memanggil Sera. “Maukah Bapak menukar kendi nenekku dengan barang bagus yang kubutuhkan?”

Sera mengamati kendi itu. Ia melihat goresan yang telah dibuat oleh Taro.

“Nyonya!” katanya pada si Nenek. “Kendi ini terbuat dari emas!”

Nenek memandang dengan takjub. “Tetapi kata pedagang yang tadi, kendi ini tidak bagus!” sahutnya.

“Oh tidak,” kata Sera. “Kendi ini terbuat dari emas. Aku akan membayar dengan semua uangku yang ada. Lalu aku akan kembali membawa uang lebih banyak.”

Ia tersenyum pada gadis kecil itu. “Gadis kecil, ambillah beberapa barang yang kamu mau,” katanya.

Setelah Sera pergi, datanglah Taro si pedagang pertama tadi. Ia berkata, “Aku telah berjalan jauh. Tapi aku teringat pada cucumu yang ingin barang daganganku.

Aku akan memberi beberapa yang ia mau. Tukarlah dengan kendi hitam tua milikmu.”

Nenek lalu menceritakan apa kata Sera tentang kendi tuanya. “ia memberi kami uang banyak. Nanti ia akan kembali membawa uang lebih banyak.”

“Uang lebih banyak?” seru Taro kecewa. “Dia harus memberiku uang juga.

Bagaimanapun, aku yang pertama melihat kendi itu!” Taro terus bersungut-sungut.

Gadis kecil dan neneknya hanya tersenyum geli melihatnya. Mereka bersyukur bertemu Sera si pedagang yang jujur.

Besoknya, Sera berhasil menjual kendi dengan harga tinggi. Ia membayar lebih banyak pada Nenek. Saat pulang, ia berkata pada istrinya, “Aku telah melakukan yang terbaik untuk kendi itu. Aku telah melakukan yang terbaik, sangat baik.”

“Apakah kamu akan kaya?” tanya istrinya.

“Benar,” kata Sera. “Aku merasa kaya sekarang, karena bisa memberikan sesuatu kepada orang yang tidak mampu. Mampu membantu orang lain yang kesusahan, membuatku merasa sangat bahagia…”

(Diterjemahkan Oleh Tututha, dari Some Pretty Little Thing)

Sumber: Bobo, 19 April 2007

Dari Buku Sekolah


Terima kasih: Duta PulsaPersewaan Alat PestaToko JilbabKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah


Ditulis dalam Artikel, Cerita, Renungan | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

300 Tael perak

Ditulis oleh dahlanforum di/pada Mei 5, 2009

Oleh Rina Ruslaini

Dahulu kala, di daratan Cina tinggalah Kakek dan Nenek Chen. Mereka tidak mempunyai anak. Hidup mereka sehari-hari hanya mencari kayu bakar di hutan. Kayu itu nantinya dijual Kakek Chen ke kota.

Pada suatu pagi, Kakek dan Nenek Chen bersiap-siap berangkat ke hutan.

Nenek tak lupa membawa bekal untuk makan siang mereka di hutan. Ketika sudah tiba di hutan, mereka melihat anak burung merpati putih menggelepar di tanah. Rupanya anak burung itu terjatuh dari pohon.

“Aduh, kasihan sekali anak burung ini,” kata Nenek sambil mengangkat merpati itu. Ia meletakkan anak burung itu di bakul makanan dengan hati-hati. “Kita rawat saja ya Kek,” ujar nenek, Kakek Chen mengangguk setuju.

Sore harinya setiba di rumah, Nenek Chen merawat anak burung itu dengan hati-hati. Nenek memberinya makanan dan meletakkannya di atas kain perca di dalam kardus.

Setelah beberapa minggu, akhirnya burung itu sembuh dan mulai terbang di sekeliling rumah. Nenek amat gembira. “Lihat Kek, anak burungnya sudah sehat! Dia pasti mampu terbang kembali ke hutan!”

Kakek Chen melihat sambil tersenyum. Lalu melanjutkan pekerjaannya membelah kayu.

Setelah melihat anak burung itu terbang pergi, Nenek Chen kembali ke kamar dan mulai merapikan kamar. Tiba-tiba ia melihat benda berkilauan di balik seprai. Alangkah terkejutnya Nenek Chen saat melihat tumpukan uang perak di atas kasur.

“Kek, Kakek, kemari Kek!” seru Nenek Chen. Tergopoh-gopoh Kakek Chen masuk ke kamar. Ia sama terkejutnya dengan Nenek saat melihat tumpukan uang itu. “Mari kita hitung jumlahnya, Nek,” kata Kakek. Ternyata jumlah uang itu banyak juga, tiga ratus tael.”

Aduh Kek, uang ini dari mana ya? Kita apakan, ya? Nenek takut… kalau dicuri bagaimana? Ujar nenek bingung. Kakek Chen berpikir keras.

“Ah, kita taruh di guci kecil, lalu kita kubur di halaman saja ya Nek,” usul Kakek gembira. Nenek pun setuju.

Di saat hari mulai gelap, Kakek menggali di halaman. Ia mengubur 300 tael itu di sana. Dua hari kemudian, Nenek masih merasa gelisah. Ia berkata, “Kek bagaimana kalau kita lupa dengan tempat penyimpanan uang itu? Halaman kita begitu luas. Sekarang saja aku sudah bingung.

Apalagi bulan depan!”

“Iya, ya Nek. Apalagi kita sudah mulai pikun. Ah! Bagaimana kalau tempat penyimpanan uang kita beri tanda agar kita tidak lupa?”

Nenek Chen setuju. Malam harinya, Kakek langsung melaksanakan idenya itu. Keesokan paginya, Nenek terbangun karena suara-suara ribut di luar. Tanpa membangunkan Kakek, ia segera beranjak ke luar. Betapa terkejutnya Nenek saat melihat para tetangga sedang berkerumun di halaman rumahnya. Mereka menunjuk-nunjuk palang yang ditancapkan Kakek tadi malam. Di palang itu tertulis : TIDAK ADA UANG 300 TAEL DI SINI.

“Nek, Nenek menyimpan uang di sini ya?” tanya seorang tetangga begitu melihat Nenek.

“Uhmmm”, Nenek bingung. Tiba-tiba ia melihat anak burung merpati terbang di sekeliling halamannya. Itu anak burung merpati yang pernah dirawatnya dulu. Burung itu masuk ke dalam rumah, lalu berubah wujud menjadi seorang peri cantik.

“Nenek yang baik, terima kasih karena kau telah merawatku sampai sembuh. Uang itu aku berikan sebagai tanda terima kasihku padamu.

Tapi rupanya kalian tidak siap menerima pemberianku. Aku akan mengambil kembali uang itu, ” ujar peri lembut.

Saat itu juga, guci kecil berisi uang yang ditanam Kakek Chen muncul di tangan peri itu. Palang yang tertancap di halaman juga lenyap. Para tetangga kembali ke rumah masing-masing.

Nenek masih terpaku karena kaget dan bingung. Saat akan bicara, tiba-tiba peri itu menghilang. Yang ada hanya asap putih dan cahaya warna-warni dari pakaian sang peri.

Lama Nenek terdiam. Tiba-tiba ia melihat benda berkilauan di tempat peri tadi berdiri. Nenek memungut. Ternyata benda yang berkilauan itu adalah uang perak sebanyak 10 tael. Tiba-tiba terdengar sebuah suara, “Aku tinggalkan uang itu, gunakanlah dengan baik.”

Tak lama terdengar suara Kakek yang mengagetkan Nenek. “Ada apa Nek? Kenapa wajahmu pucat sekali?”

Nenek Chen memperlihatkan uang 10 tael di telapak tangannya. Lalu menceritakan peristiwa tadi. Kakek tersenyum sabar, “Kita jadi tidak repot mencari tempat menyimpan uang, kan …”

(Dongeng dari Cina)

Sumber: Bobo, 28 Desember 2006

Dari Buku Sekolah

Ditulis dalam Bahasa Indonesia, Cerita, Renungan | Bertanda: , | Leave a Comment »

Belajar Menulis Pantun – Dari Catatan Sekolah

Ditulis oleh dahlanforum di/pada Mei 3, 2009

pantun-berbalasPantun merupakan salah satu karya sastra Melayu yang sampai sekarang masih dikembangkan. Kata pantun mempunyai arti ucapan yang teratur, pengarahan yang mendidik. Pantun juga dapat berarti sindiran.

Zaman dahulu, pantun digunakan sebagai bahasa pengantar atau bahasa pergaulan.

Pantun dikenal di berbagai daerah, namun dengan nama yang berbeda. Di Jawa Tengah dikenal dengan parikan, di Toraja dikenal bolingoni, di Jawa Barat dapat ditemukan pantun dalam bentuk nyanyian doger, di Surabaya ludruk , di Banjarmasin tirik dan ahui ,

gandrung di Banyuwangi, dan di Makassar kelong-kelong. Selain merupakan ungkapan

perasaan, pantun dipakai untuk menghibur orang.

1. Ciri-ciri pantun

Pantun memiliki ciri-ciri tersebut, antara lain:

a. mempunyai bait dan isi,

b. setiap bait terdiri atas baris-baris,

c. jumlah suku kata dalam tiap baris antara delapan sampai dua belas,

d. setiap bait terdiri atas dua bagian, yaitu sampiran dan isi.

    Contoh:

    Pantun dua baris

    Anjing hutan suka melolong (sampiran)

    Jangan suka bicara bohong (isi)

    Pintu diketuk ada tamu (sampiran)

    Rajin membaca bertambah ilmu (isi)

    Pantun empat baris

    Desa sawah mulai menghijau (sampiran)

    Di tengah ada pematang (sampiran)

    Apa arti bertindak maju  (isi)

    Kalau tanpa pemikiran matang  (isi)

e. Bersajak ab ab

2. Bentuk dan jenis pantun

Pantun yang sering dipakai adalah pantun dua baris dan empat baris. Bentuk pantun bermacam-macam, misalnya: pantun anak-anak, pantun jenaka, pantun suka cita, pantun kiasan, pantun nasehat, pantun duka cita, pantun budi pekerti, pantun agama, dan lain-lain.

    Contoh:

    Pantun anak

    Enak nian buah belimbing

    Mencari ke pulau sebrang

    Main bola ada pembimbing

    Binatang apa berhidung panjang?

    Pantun jenaka

    Orang mudik bawa barang

    Pakai kain jatuh terguling

    Kamu senang dilirik orang

    Setelah sadar ternyata juling

    Indah nian sinar mentari

    Purnama datang tak berbelah

    Melihat orang malas berlari

    Ternyata sandal tinggi sebelah

    Pantun sukacita

    Gurih nian ikan gurami

    Tambah nikmat dengan kacang

    Alangkah senang hati kami

    Panen raya telah datang

    Pantun kiasan

    Luas nian samudra raya

    Pagi-pagi nelayan melaut

    Tak berguna memberi si kaya

    Bagai menebar garam di laut

    Pantun nasihat

    Jalan-jalan ke Semarang

    Bawa bandeng tanpa duri

    Belajar mulai sekarang

    Untuk hidup kemudian hari

    Pantun dukacita

    Beras miskin disebut raskin

    Yang mendapat tak semua

    Aku ini anak miskin

    Harta benda tak kupunya

    Pantun budi pekerti

    Siapa yang tak simpatik

    Melihat bunga dahlia

    Kulit putih berwajah cantik

    Sudah ayu berhati mulia

    Pantun agama

    Minum susu di pagi hari

    Tambah nikmat tambah cokelat

    Pandai-pandai membawa diri

    Siapa tahu kiamat sudah dekat

3. Pantun berbalas

Pantun berbalas adalah pantun yang dimainkan dua kelompok. Kelompok tersebut dapat dikembangkan menjadi kelompok “pro” dan “kontra” atau kelompok gadis dan kelompok jejaka.

Jumlah anggota per kelompok tiga sampai lima orang. Berbalas pantun dipimpin oleh seorang moderator yang bertugas untuk menengahi permainan. Setiap sesi berbalas pantun harus mempunyai tema. Urutan berbalas pantun terdiri atas pembukaan, isi, dan penutup.

Dari Buku Sekolah


Terima kasih: Duta PulsaPersewaan Alat PestaToko JilbabKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah


Ditulis dalam Bahasa Indonesia, Pantun, Sekolah | Bertanda: , | 2 Komentar »