Forum Positif

Belajar berbagi hal-hal positif

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Naskah Drama’

Santoana – dongeng (mungkin bisa juga untuk bahan naskah drama)

Ditulis oleh dahlanforum di/pada November 5, 2009

Pada zaman dahulu di Pulau Jawa, hiduplah seekor burung cantik bernama Merak.

Bulunya mengkilat, berwarna indah. Lehernya panjang jenjang dengan kibasan ekor bagaikan kipas.

Merak yang cantik ini mendengar cerita dari teman-temannya sesama burung.

“Ada seekor burung gagah bernama Santoana. Burung ini tinggal di Pulau Sumbawa.

Hanya burung inilah yang pantas menjadi jodohmu. Kamu cantik dan Santoana gagah…”

Hampir setiap hari Merak mendengar kata-kata ini dari teman-temanya. Akhirnya, pada suatu hari, Merak memutuskan untuk mencari Santoana.

Di suatu pagi yang dingin, Merak pun pergi meninggalkan Pulau Jawa, yang ada di pikirannya hanyalah Santoana yang tampan. Perjalanan Merak memakan waktu berhari-hari. Beberapa laut dan pulau sudah dilewati.

Ketika ia bertanya pada burung di setiap pulau, jawabannya selalu sama, “Terbanglah terus! Pulau itu berada agak jauh ke timur.”

Jawaban dari para burung itu tidak membuat Merak putus asa. Ia terus terbang, terbang… sampai akhirnya ia tiba di sebuah pulau yang sangat panjang. Bertanyalah Merak dengan napas terengah-engah.

“Pulau apakah ini?”

“Ini adalah Pulau Panjang,” jawab Camar santun.

“Masih jauhkah tanah Sumbawa?” tanya Merak lagi.

“O, pulau yang terbentang di depan kita itu adalah Pulau Sumbawa.

Mendengar jawaban Camar, Merak pun sangat gembira. Setelah mengucapkan terima kasih, tanpa merasa lelah dia pun terbang lagi.

Pulau Sumbawa akhirnya berhasil ia pijak. Kini ia tinggal mencari Santoana.

Merak melangkah gemulai di sekitar pantai. Ekornya terkibas, leher jenjangnya melongok ke kiri dan ke kanan.

Setelah agak lama mengitari pantai bertemulah dia dengan burung hitam besar yang sedang mencari makan di tepi pantai. Orang Sumbawa menyebutnya Bongarasang.

Merak mendekat dan menceritakan maksud kedatangannya ke Pulau Sumbawa.

Ia juga bertanya tentang Santoana. Bongarasang sangat terpesona melihat Merak yang cantik. Timbullah akal liciknya. Bongarasang pura-pura diam dan tertunduk malu.

“Kenapa diam?” tanya Merak tak sabar.

“Aku diam dan malu karena akulah yang kau cari,” kata Bongarasang berbohong.

Merak lemas mendengar perkataan Bongarasang.

“Indah kabar daripada rupa,” keluhnya kecewa, sebab Bongarasang tidak setampan yang ia bayangkan.

Akan tetapi, karena sudah niatnya untuk menikah dengan Santoana, akhirnya Merak menikah dengan Bongarasang yang dianggapnya Santoana.

Waktu pun berlalu. Akhirnya pasangan itu mempunyai anak. Merak dan Bongarasang berencana mengadakan pesta besar. Bongarasang juga ingin memperkenalkan istrinya yang cantik kepada semua undangan.

Hari pesta pun tiba. Semua undangan berdatangan. Burung tua ketua adat juga datang. Merak dan anaknya sudah berdandan di tengah ruangan. Semua tamu memuji kecantikan ibu muda yang berasal dari Pulau Jawa itu. Bongarasang tersenyum bangga.

Ketika acara gunting bulu untuk keselamatan bayi burung akan dimulai, berkatalah ketua adat, “Tunggu sebentar, Santoana belum datang.”

Mendengar kata ketua adat itu, seketika wajah Merak berubah merah. Ia sangat marah kepada suaminya yang telah berbohong. Bongarasang tertunduk takut Merak menunggu dengan dada berdebar. Seperti apakah gerangan Santoana?

Dari kejauhan, Santoana datang dengan gagahnya. Bulunya indah mengkilat tertimpa sinar mentari. Suaranya terdengar nyaring. Pinggulnya melenggok dengan ekor berwarna hijau tua. Berjuntai tertiup angin. Bulu-bulu halus dengan perpaduan warna yang sangat indah, membungkus badan dan lehernya.

Tiba-tiba Merak terbang meninggalkan keramaian pesta. Hatinya sakit tak terkira menyangka kalau selama ini dia sudah dibohongi. Sambil menitikkan air mata, ia melantunkan lagu sedih daerah Sumbawa.

Kulempat let biru do,

Ku buya sanak parana

Kudapat taruna kokoh

(Kulewati beberapa pulau dan samudra, untuk mendapat jodoh yang sepadan, namun bertemu dengan lelaki pembohong)

Akhirnya Merak meninggalkan Pulau Sumbawa dengan perasaan malu dan kecewa. Anaknya ikut malu dan bersembunyi di dalam tanah. Sampai sekarang anak burung itu tetap bersarang di dalam tanah. Namanya Bartong. Santoana kemudian dikenal dengan nama Ayam hutan.

Menurut cerita, itulah sebabnya burung Merak tidak ada di Pulau Sumbawa sampai sekarang.

(Cerita rakyat Sumbawa – Nusa Tenggara Barat, diceritakan kembali oleh Agung TE Syahbuddin) Sumber: Bobo, 14 September 2006

dari buku sekolah

Ditulis dalam Cerita, Dongeng, Naskah Drama | Bertanda: , , | Leave a Comment »

Naskah Drama dari internet untuk mengerjakan tugas sekolah

Ditulis oleh dahlanforum di/pada Oktober 7, 2009

Di tahun-tahun terakhir ini, banyak tugas sekolah yang disarankan oleh guru untuk menyelesaikannya dengan memanfaatkan internet. Salah satu yang banyak dicari adalah tugas bahasa dan tugas bioloagi. Naskah drama banyak dicari oleh pelajar sebagai contoh dalam menyelesaikan tugas sekolah.

Untuk tugas lain seperti kelainan alat reproduksi, dan dulu juga pernah tentang zat aditif, pencemaran lingkungan, limbah industri, dan lain-lain. Sedangkan untuk tugas kuliah, banyak para mahasiswa yang dengan inisiatif sendiri mencari sumber jawaban atas masalah akademiknya di internet.

Yang tidak kalah banyak dalam memanfaatkan internet untuk mencari sesuatu yang dibutuhkan adalah para karyawan. Dan ini sepertinya adalah pengguna internet terbanyak untuk masyarakat Indonesia. Para karyawan ini mencari hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaannya, yang tentu saja sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Naskah drama hanya salah satu contoh yang dicari di internet. Dan ini merupakan sesuatu yang baru untuk saat ini. Beberapa tahun yang lalu, sangat jarang anak sekolah yang memanfaatkan internet untuk menyelesaikan tugas sekolahnya. Dan untuk saat ini, para guru pun memang menyarankan untuk mendapatkannya di internet. Bahkan untuk sekolah yang belum tersedia jaringan internet disitu. Apalagi jika ada internet di sekolah.

Ya. Selamat datang internet untuk tugas sekolah di sekolah-sekolah. Untuk beberapa tahun terakhir ini.

Teman-teman ada masukkan lain tentang hal ini? Atau punya pengalaman yang menarik dalam pencarian suatu artikel untuk menyelesaikan tugas sekolah?

Silakan bagikan pada kita semua, pada form komentar di bawah!

Ada yang menawarkan jasa pembuatan naskah drama dengan harga yang sangat murah di http://tanyatugas.blogspot.com/

.

Ditulis dalam Drama, Internet, Naskah Drama | Bertanda: , | 41 Komentar »

Naskah Drama

Ditulis oleh dahlanforum di/pada September 8, 2009

Ditulis dalam Drama, Naskah Drama | Bertanda: | Leave a Comment »

SANGKURIANG – Contoh Naskah drama untuk latihan pemeranan

Ditulis oleh dahlanforum di/pada Agustus 3, 2009

Karya UTUY TATANG SONTANI

BABAK IV- ADEGAN 1

Malam hari

LAKONPERTAMA

Di halaman rumah. Sayup-sayup sampai di kejauhan terdengar suara gemuruh

Dayang Sumbi keluar dan rumah dengan suluh ditangan

1. DAYANG SUMBI: Rasa-rasa dalam mimpi

        • bahwa di malam ini

           

          sedang diciptakan telaga

          beserta perahunya,

          dimana aku akan berlayaran

          sebagai istri dan anakku sendiri

          Rasa-rasa dalam mimpi

          bahwa tadi

          aku dipinang anakku

          dan nanti

          akan menjadi ibu dari cucuku sendiri

          Ah, satu diantara dua :

          aku atau anakku,

          itulah yang sebenarnya bermimpi

          di malam ini

          Dan karena kini

          asal tadi dan bakal nanti,

          maka siapa yang bermimpi malam ini,

          itulah yang besok pagi kesiangan,

          itulah pemimpi sepanjang jaman

BUJANG MUNCUL

2. DAYANG SUMBI: Bagaimana ?

      • Apa yang nampak di mata ?

3. BUJANG : Bagai tenaga raksasa yang dicurahkan.

4. DAYANG SUMBI: Bagaimana ?

5. BUJANG : Bumi gemuruh

    • pohon-pohon pada tumbang

       

      batu-batu bergulingan

      membendung air,

      Dilanda air

      Dan siapa yang mengerjakan

      haiam tidak kelihatan

      Tapi yang tidak bisa dipungkin lagi

      telaga luas akan segera terbukti

6. DAYANG SUMBI: Dan perahu ?

7. BUJANG : Itupun hampir selesai

8. DAYANG SUMBI: Kalau begitu,

        • kita tidak boteh lalai

           

          Mang Aida Lepa dan kawan-kawannya, mesti segera diminta datang

9. BUJANG : Baik, Nyai, biar sekarang juga

    • bibi bangunkan semua

BUJANG TURUN

10. DAYANG SUMBI: Riuh gemuruh dikejauhan,

        • alamat telaga sedang dibangun.

           

          Riuh gemuruh di dalam dadaku,

          karena hati naik turun

          Ah, hatiku !

          hati manusia yang tahu tiada upaya,

          tapi juga hati seoiang ibu

          yang diancam bahaya

          Sebagai manusia,

          Ya. Dewata

          Hatiku turun ke bawah telapak

          kaki-Mu,

          hidmat menyembah kebesaran-Mu,

          menyerah

          mengalah kepada kehendak-Mu

          yang benar selalu

          Tapi sebagai ibu,

          ya, anakku !

          Hatiku naik ke atas puncak citamu,

          keras menolak keingmanmu,

          bertindak

          berontak menentang kebenaranmu

          yang tiada benar bagiku

BUJANG MUNCUL DIIRINGI ARDA LEPA DAN KAWAN-KAWAN

11. ARDA LEPA : Ada apa, Nyai ?

      • kami dipanggil di malam sepi ?

12. DAYANG SUMBI: Mamang, malam ini

        • bukan malam sepi.

           

          Malam ini malam yang seram

          malam yang berat mengancam

          Anakku Sang Kuriang

          mulai tadi siang

          menyatakan pendapatnya

          yang tidak disangka-sangka

          Dia tidak mau percaya

          bahwa mi bukan ibunya

13. ARDA LEPA : Tapi jika semua orang

      • sependapat dengan Sang Kunang,

         

        apa yang hendak kite katakan, kawan?

        Kita semua tidak menyaksikan

        kapan Sang Kunang dilahirkan,

        bukan?

14. BERSAMA : Biar buta I Biar mati!

      • Tak pernah kita mengetahui.

15. DAYANG SUMBI: Memang, kalau semua orang

        • sependapat dengan Sang Kuriang,

           

          itu terserah kepada mereka

          Tapi bagiku aku adalah ibunya.

          Kalau aku bukan ibu Sang Kuriang

          aku tidak akan menolak dia meminang.

          Dan mamang sekarang

          tidak akan diminta datang

          Apakah mamang setuju

          anak mengawini ibu ?

16. ARDA LEPA : Anak mengawini ibu ?

      • Yey, itu tidak lucu !

17. BERSAMA : Itu mesti disapu !

      • Lebih haram dan jinah !

         

        Lebih hewan dari hewan !

18. ARDA LEPA : Kalau betul Nyai ibu Sang Kunang

      • kalau betul Sang Kuriang meminang

         

        Sang Kunang mesti kami buang !

        Kalau tidak,

        kami semua ikut berjinah

        Kami menjadi hewan.

19. DAYANG SUMBI: Nantidulu

        • Dengar dulu!

           

          Sebagai ibu yang kasih sayang teRhadap

          anak, pinangan anakku tidak terangterangan

          ditolak,

          Aku berjanji mau kawin dengan dia,

          asal besok ban sedia perahu dan telaga,

          Ternyata sekarang

          Perahu dan telaga sudah hamper siap

          Berarti Sang Kuriang

          akan dapat memenuhi permintaan ku.

20. ARDA LEPA : Jadi sekarang Nyai ingin

      • supaya tidak jadi kawin ?

         

        supaya peiahu dan telaga

        besok tidak bukti ?

21 DAYANG SUMBI: Betul.

        • Karena itu ku menginginkan

           

          supaya kalian membakar hutan,

          biar apinya bersinar-sinar;

          menyerupai sinar fajar,

          biar anakku Sang Kuriang

          Melihat siang akan mendatang !

          biar maksudnya diurungkan,

          lantaran merasa kesiangan

22. ARDA LEPA : Ai, ai, Nyai ingin

      • Sang Kunang diajak bermam ?

         

        Itu lucu !

23. BERSAMA : Tapi apa mungkin ?

      • Sang Kuriang lain dan yang lain

24. DAYANG SUMBI: Sang Kuriang memang lain dari yang lain

      • tapi Sang Kuriang manusia

         

        Dan kepada manusia aku tetap yakin:

        ada Dewata dalam dirinya

        Dan selama ada Dewata

        di dalam din manusia

        kewajiban kita

        bukan menundukan membmasakan

        tapi menyalakan api keDewataan

        yang bersemayam di tubuh lawan

        Semoga api pembakar hutan

        menjadi api kedewataan

        yang bersinar terang-benderang

        dalam tubuh Sang Kunang !

25 ARDALEPA : Bagaimana kawan.

      • kita sekarang membakar hutan ?

26. BERSAMA : Asal terang

      • ada anak memang ibu

27. ARDA LEPA : Yang sudah terang

      • semua manusia adalah satu

         

        Orang lain masih kita juga.

        Karena itu,

        marilah kita ajak Sang Kuriang

        bermain bersama kita

        dengan api di tangan kita

        Inilah panggilan kita

        di dalam hidup bersama

Dari buku Sekolah

Ada yang menawarkan jasa pembuatan naskah drama dengan harga yang sangat murah di http://tanyatugas.blogspot.com/

JAKA TUMBAL – Contoh Cuplikan naskah Drama

IMPIAN DITENGAH MUSIM – Contoh Cuplikan Naskah drama



Ditulis dalam Naskah Drama | Bertanda: | 9 Komentar »