Forum Positif

Belajar berbagi hal-hal positif

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Perusahaan’

Model Manajemen SDM

Ditulis oleh dahlanforum di/pada Mei 21, 2009

PERENCANAAN

-       Perencanaan SDM

-       Desain dan analisis pekerjaan

-       Struktur Organisasi

PROSES INPUT

-       Rekrutmen

-       Seleksi

-       Penempatan

TRANSFORMASI

-       Transfer, promosi, dan demosi

-       Pelatihan

-       Pengembangan organisasi dan manajemen

-       Manajemen kompensasi

-       Tunjangan dan pemberian fasilitas

-       Program Keselamatan dan Keselamatan Kerja

-       Kegiatan hubungan pekerja

-       Peraturan Perusahaan

PROSES OUTPUT

-       Penilaian kinerja

-       Produktivitas

-       Evaluasi program dan strategi

Dari Praktek

Terima kasih: Duta Pulsa -

Ditulis dalam Manajemen, Perusahaan | Bertanda: , | Leave a Comment »

LAPORAN HASIL TEST PRODUKSI JUMAT, 2 MARET

Ditulis oleh dahlanforum di/pada Mei 12, 2009

Test kali ini untuk mencoba produksi D7,0. Menggunakan 13 Stand yaitu 1 stand roughing (terdiri dari 7 pass), 6 stand intermediate, dan 6 stand finishing. Speed motor F1=706,   F2=865 RPM, F3=994, F4=1095, F5=1067, dan F6=1022 RPM.

BILLET

PUKUL

URAIAN

17

16.10

Macet pada I5 (stand 6) karena terjadi trip pada motornya.

Ada potongan material sepanjang ± 12 meter dikeluarkan sebelum I3 (stand 4). Sementara itu, juga dilakukan perbaikan pada pisau crop shear karena tidak lurus dengan jalannya material.

27

17.00

Material dipotong menjadi dua bagian sebelum masuk I3.

Potongan yang dimasukkan lewat jalur luar tidak dapat masuk I3, sedangkan yang lewat jalur dalam berhasil hingga repeater.

37

Material kembali tidak dapat masuk I3 (stand 4) karena saluran tidak lurus dengan entry guide sebelum I3. Meskipun ujung material dipotong, masih tetap tidak dapat masuk, sehingga terpaksa material dikeluarkan.

47

Dengan menggunakan crop shear, material dipotong menjadi dua bagian. Satu potong tidak dapat masuk I3, dan satu potong lagi macet di entry guide sebelum F1 (stand 8) dan ekornya macet di saluran setelah I6.

57

17.50

Couble di saluran repeater jalur dalam, dan sebagian material berhasil hingga cooling bed ± 60 meter, dengan ukuran 7,1 dan terdapat kuping.

67

Speed motor F1=706,   F2=865 RPM, F3=994, F4=1095, F5=1067, dan F6=1022 RPM.

Couble di saluran repeater jalur dalam, dan sebagian material berhasil hingga cooling bed ± 26 meter, dengan hasil masih terdapat kuping.

Setelah itu dilakukan setting pada saluran I6, work roll F4, dan guide F4.

77

19.35

Terjadi couble di I5 (stand 6), dan terdapat potongan material yang dikeluarkan sebelum I3 sepanjang ± 3 meter.

87

Couble di F5 (stand 12) dan I6 (stand 7) karena air cylinder tidak berfungsi disebabkan valve udara rusak.

97

Dikeluarkan sebelum I3 karena kesulitan masuk entry guide sebelum I3 disebabkan ujung material sudah hitam.

107

Material keluar jalur ketika dipotong dengan crop shear, disebabkan mata pisau crop shear pecah.

Test produksi berakhir hingga pukul 20.10 yaitu selama 4 jam melakukan percobaan dengan menggunakan 10 potong billet ukuran 60×60 dan masih belum berhasil.

Kesulitan yang dihadapi masih berfariasi, dari terjadinya trip pada motor, kegagalan di repeater, hingga kerusakan pada pisau crop shear, juga masih terdapat tension yang terlalu besar di stand-stand finishing karena kesulitan dalam setting RPM motor DC. Couble yang terjadi kemungkinan disebabkan karena setting guide yang kurang sempurna dan hasil caliber dari rolling di stand sebelumnya yang kurang sesuai dengan desain yang telah dibuat sehingga tidak cocok dengan entry guide pada stand berikutnya. Hingga laporan ini dibuat, masih dilakukan perbaikan pada semua stand dan semua komponen produksi terutama setting work roller dan entry guide serta delivery guide yang paling menentukan pada hasil produksi.

Dari Praktek


Terima kasih: Duta PulsaPersewaan Alat PestaToko JilbabKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah


Ditulis dalam Pengetahuan, Perusahaan, Praktek, Proyek | Bertanda: , | Leave a Comment »

Job Description KEPALA BAGIAN PRODUKSI, MEKANIK, BENGKEL, LISTRIK

Ditulis oleh dahlanforum di/pada Mei 8, 2009

Job Description KEPALA BAGIAN PRODUKSI

Jabatan             : KEPALA BAGIAN PRODUKSI

Melapor           : MANAGER PRODUKSI

Mengawasi       : FOREMAN FURNACE

FOREMAN ROUGHING & IM 1-2

FOREMAN IM 3-6 & FINISHING

FOREMAN COOLING BED & PACKING

FOREMAN ADMINISTRASI PRODUKSI DAN TOOL ROOM

RINGKASAN PEKERJAAN

Bertanggung  jawab  atas  perencanaan,  pengkoordinasian,  pengarahan,  dan pengawasan atas pelaksanaan produksi besi beton.

URAIAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB

  1. Bekerja  sama  dengan  kepala  bagian  PPC  dalam  penyusunan  rencana  dan  jadwal produksi.
  2. Mengkoordinir dan mengawasi serta memberikan pengarahan kerja kepada setiap seksi di bawahnya untuk menjamin terlaksananya kesinambungan dalam proses produksi.
  3. Memonitor pelaksanaan rencana produksi agar dapat dicapai hasil produksi sesuai jadwal, volume, dan mutu yang ditetapkan.
  4. Bertanggung jawab atas pengendalian bahan baku dan efisiensi penggunaan tenaga kerja, mesin, dan peralatan.
  5. Selalu menjaga agar fasilitas produksi berfungsi sebagaimana mestinya.
  6. Selalu berusaha untuk meningkatkan keterampilan setiap penanggung jawab dan karyawan di bawah tanggung jawabnya dengan memanfaatkan tenaga ahli yang didatangkan oleh perusahaan.
  7. Membantu supervisor listrik, bengkel, mekanik dalam pemeliharaan semua instalasi yang ada di pabrik.
  8. Membuat laporan harian dan berkala mengenai kegiatan di bagiannya sesuai dengan sistem pelaporan yang berlaku.
  9. Berusaha mencari cara-cara penekanan biaya dan metode perbaikan kerja yang lebih  efisien.
  10. Menjaga disiplin kerja dan menilai prestasi kerja bawahannya secara berkala.
  11. Melakukan penilaian terhadap prestasi kerja bawahannya secara berkala.
  12. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh manager produksi.

Job Description KEPALA BAGIAN MEKANIK

Jabatan             : KEPALA BAGIAN MEKANIK

Melapor           : MANAGER PRODUKSI

Mengawasi       : FOREMAN ROLL DAN GUIDE

FOREMAN MAINTENANCE

FOREMAN REPAIR/ASSEMBLING

RINGKASAN PEKERJAAN

Bertanggung  jawab  atas  perencanaan,  pengkoordinasian,  pengarahan,  dan pengawasan atas pelaksanaan kegiatan maintenance dan repair mesin dan peralatan mekanik produksi.

URAIAN TUGAS PAN TANGGUNG JAWAB

  1. Mengkoordinir dan memberikan pengarahan kerja dan mengawasi pelaksanaan kegiatan seksi-seksi di bawahnya agar dapat meningkatkan efisiensi di dalam bagiannya.
  2. Menyusun jadwal pemeliharaan dan perbaikan mesin, peralatan, dan fasilitas produksi agar proses produksi dapat berjalan dengan lancar.
  3. Menyusun  pedoman  dan  petunjuk-petunjuk  lainnya  mengenai  pemeliharaan  dan perbaikan mesin atau peralatan produksi, air dan udara.
  4. Mengawasi pelaksanaan pemeriksaan dan pemeliharaan berkala perbaikan atas mesin atau peralatan produksi, air dan udara.
  5. Mengawasi  pelaksanaan  pencatatan  pengeluaran  biaya-biaya  yang  terjadi  dengan pelaksanaan kegiatan pemeliharaan dan perbaikan.
  6. Memeriksa  dan  memastikan  bahwa  pendingin  mesin dan  udara  dapat  berfungsi sebagaimana mestinya.
  7. Mengawasi bekerjanya mesin-mesin, pompa air, dan compressor, secara terus menerus dan dalam jumlah yang sesuai kebutuhan.
  8. Mengawasi  pelaksanaan  hasil  pekerjaan  bagian  bengkel  yang  dipesan,  seperti pembubutan dan sebagainya.
  9. Berusaha mencari cara-cara penekanan biaya dan metode perbaikan kerja yang lebih  efisien.
  10. Menjaga disiplin kerja dan menilai prestasi kerja bawahannya secara berkala.
  11. Melaksanakan tugas-tugas lainnya yang diberikan oleh manajer produksi.


Job Description KEPALA BAGIAN BENGKEL

Jabatan             : KEPALA BAGIAN BENGKEL

Melapor           : MANAGER PRODUKSI

Mengawasi       : KEPALA SHIFT WORKSHOP

RINGKASAN PEKERJAAN

Bertanggung jawab atas kelancaran operasional mekanis dan mesin-mesin dan peralatan produksi.

URAIAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB

  1. Menyusun, mengatur, dan mengawasi kegiatan pemeliharaan dan repair dan mesin-mesin peralatan pabrik agar tidak mengganggu jalannya operasi perusahaan.
  2. Mengajukan permintaan pembelian spare part dan kebutuhan-kebutuhan lainnya yang diperlukan untuk pemeliharaan dan repair semua peralatan pabrik.
  3. Bertanggung  jawab  atas  penggunaan  suku  cadang  dan  biaya-biaya  yang terjadi sehubungan dengan pelaksanaan kegiatan maintenance dan repair.
  4. Mengadakan pengecekan langsung bekerjanya dan kondisi semua peralatan pabrik.
  5. Mengadakan pencatatan mengenai besarnya biaya yang dikeluarkan oleh masing-masing mesin/peralatan pabrik.
  6. Menyusun jadwal pemeliharaan peralatan-peralatan pabrik agar tidak menghambat jalannya proses produksi.
  7. Memeriksa kerusakan yang timbul dan menentukan bahan-bahan atau spare part yang diperlukan untuk memperbaiki kerusakan tersebut.
  8. Berusaha mencari cara-cara penekanan biaya dan metode perbaikan kerja yang lebih  efisien.
  9. Menjaga disiplin kerja dan menilai prestasi kerja bawahannya secara berkala.
  10. Membuat laporan harian dan berkala kegiatan yang dilakukan seksinya.
  11. Melaksanakan tugas-tugas lainnya yang diberikan oleh manajer produksi

Job Description KEPALA BAGIAN LISTRIK

Jabatan             : KEPALA BAGIAN LISTRIK

Melapor           : MANAGER PRODUKSI

Mengawasi       : SUPERVISOR LISTRIK

ELECTRICIAN

RINGKASAN PEKERJAAN

Bertanggung jawab atas pemeliharaan dan perencanaan seluruh instalasi listrik perusahaan, AC, sistem komunikasi, serta peralatan listrik lainnya.

URAIAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB

  1. Menyusun,  mengatur,  dan  mengawasi  kegiatan pemeliharaan  dan perbaikan  seluruh instalasi listrik perusahaan dan peralatan yang menggunakan tenaga listrik untuk menjamin kelancaran jalannya operasi perusahaan.
  2. Mengajukan permintaan pembelian suku cadang dan kebutuhan lainnya yang diperlukan.
  3. Bertanggung jawab  atas  penggunaan  suku  cadang  dan  biaya-biaya  yang  lainnya sehubungan dengan pelaksanaan kegiatan pemeliharaan dan perbaikan.
  4. Merencanakan perluasan kegiatan jaringan listrik sesuai dengan kebutuhan.
  5. Mengadakan  pemeriksaan  atas  instalasi  listrik,  AC,  dan  sistem komunikasi  yang berhubungan dengan tenaga listrik.
  6. Menjamin keselamatan kerja bagi operator bawahannya.
  7. Menjamin keamanan dan ketepatan pemasangan semua peralatan tenaga listrik.
  8. Berusaha mencari cara-cara penekanan biaya dan metode perbaikan kerja yang lebih  efisien.
  9. Menjaga disiplin kerja dan menilai prestasi kerja bawahannya secara berkala.
  10. Mampu memimpin dan memerintahkan bawahannya untuk lembur bila perusahaan membutuhkan.

Dari Praktek


Terima kasih: Duta PulsaPersewaan Alat PestaToko JilbabKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah


Ditulis dalam Perusahaan, Praktek | Bertanda: , | 2 Komentar »

LAPORAN KEGIATAN JANUARY

Ditulis oleh dahlanforum di/pada April 29, 2009

- Mengetahui alur produksi mulai dari bahan baku Billet sampai menjadi hasil produksi besi cor.

- Mengetahui bagian-bagian dari sistem mesin pabrik dan cara kerjanya.

- Membuat gambar, mendata komponen dan mengetahui kerja dari panel low voltage MCC yang ada, pada kondisi aktual yang terpasang (sangat penting untuk keperluan trouble shouting), meliputi:

- Gambar panel, komponen yang dipakai dan tata letaknya.

- Single line diagram.

- Three line diagram.

- Control circuit.

- Mengawasi kontinuitas pelaksanaan pekerjaan di saluran kabel, tempat trafo, peletakan meja kontrol, pemasangan motor pada mesin.

- Meminta penawaran harga renovasi panel listrik untuk motor 3,3 Kv , dari:

- ABB ()

- Metro Abdibina Sentosa ()

- Sarantek ()

- Mencari informasi pemakaian motor 3,3 Kv / 60 Hz pada jala-jala PLN 3,3Kv / 50 Hz.

- Meminta penawaran harga testing motor 3,3 Kv / 60 Hz, agar dapat diperoleh data aktualnya jika dioperasikan pada jala-jala 50 Hz, dalam hal :

- R P M

- Arus dari : - ABB Sakti ()

- Torsi - Sarantek ()

- Power

PERMASALAHAN:

- Kepastian sistem pemasangan motor 3,3 Kv / 60 Hz belum ada, alternatif yang dapat dipilih:

- Mencoba langsung dengan supply PLN 3,3 Kv / 50 Hz.

(Supply tersebut saat ini belum tersedia, lokasi trafo belum siap)

- Menambah AC converter untuk menyamakan frekwensinya.

(Harga AC converter mahal)

- Menggulung ulang motor 60 Hz menjadi motor 50 Hz.

(Berdasarkan info dari Teko, butuh waktu sekitar 4 bulan dan harganya tidak terpaut jauh dari harga motor baru).

- Menambahkan trafo step down 3,3Kv / 50 Hz ke 3Kv / 50Hz untuk supply motor 3,3 Kv/60Hz

(Penurunan tegangan dibutuhkan untuk mendapatkan Torsi yang konstan akibat perubahan frekwensi power supply, seperti di Beton Jaya yang mengalami kasus yang sama), dan memakai lagi trafo 1000 Kva untuk supply motor 3,3 Kv / 50Hz / 1000 Hp.

- Merubah tegangan output trafo Trafindo 3,3Kv menjadi 3,135 Kv (fasilitas tersedia di trafo, tegangan mendekati 3Kv) untuk supply motor-motor 3,3 Kv / 60 Hz (800Hp, 700Hp, 500Hp) dan memakai lagi trafo 1000Kva untuk mensupply motor 3,3 Kv / 50 Hz / 1000Hp.

- Membeli motor baru 3,3 Kv / 50 Hz.

Saran :

Melaksanakan testing motor 3,3 Kv / 60 Hz dengan jala-jala PLN 50 Hz secepatnya, sehingga pemilihan alternatif dapat dilakukan dengan cepat dan baik.

- Crane / Hoist

Current collector (merk: Chiao Hwe ) yang dibutuhkan untuk crane MHE Demag sulit didapat, karena tidak umum dipakai. Bp.  membantu mencarikan di Taiwan.

Saran :

Bila harganya tidak terlalu mahal, perlu tambah 1 buah lagi untuk spare.

- Panel Furnace ex Litung

Instruksi dan gambar control circuit tidak ada, telah dilakukan pembuatan gambar oleh Bp., tetapi masih ada masih ada komponen yang tidak ada manualnya (temperatur control RKC – C900 dan pressure control CHINO – DB1000).

Saat ini sedang berusaha mencari tahu siapa yang menjual barang tersebut, Ibu Een diharapkan juga ikut membantu untuk memperoleh informasi.

Bp.  juga sudah membawa gambarnya ke Jakarta untuk ditanyakan ke orang yang mungkin tahu.

- Componen Panel

- Pemakaian beberapa Circuit Breaker dengan breaking capacity yang rendah (Fuji EA-33/1,5Ka) pada panel LV MCC seharusnya dihindari, karena jauh lebih kecil dari breaking capacity yang diperlukan. Circuit Breaker tersebut terpaksa dipakai agar menghemat biaya pembelian.

- Perlu dicoba pemakaian beberapa contactor dari beberapa merk (ABB, Siemens, K Moeller) selain merk Telemecanique yang saat ini mayoritas, dengan tujuan agar dapat diketahui contactor merk apa yang terbaik life timenya, untuk keperluan penggantian bila terjadi kerusakan dikemudian hari.

- Pembuatan Saluran Kabel dan perataan tanah tempat berdirinya Control Desk

Perataan tanah di tempat berdirinya Control Desk dan pembuatan saluran kabel perlu segera dipercepat pelaksanaannya, agar Control Desk dapat segera ditempatkan serta kabel dapat segera digelar dan dipasang ke motor – motor, sehingga COOL TEST dengan memakai Control Desk dan Panel Power yang sebenarnya dapat dilaksanakan.

Saat ini perataan tanah dan pembuatan saluran kabel sangat lambat, karena:

- Keterbatasan tenaga yang mengerjakannya.

- Lokasi yang akan dikerjakan terhalang pekerjaan lain.

Saran :

- Tenaga untuk pembuatan saluran kabel agar ditambah dan jangan dikurangi untuk mengerjakan pekerjaan lain.

- Pekerjaan lain di lokasi yang menghalangi pembuatan saluran kabel agar diusahakan untuk diselesaikan terlebih dahulu (penambahan fondasi tiang).

- Untuk perataan tanah oleh pekerja pemasang paving sangat tergantung pada mandornya, bila tidak ada perintah dari mandornya, maka mereka keberatan untuk mengerjakannya, diharapkan mandor paving tidak meninggalkan lokasi kerja di API untuk waktu yang lama.

- Pengadaan Elpiji dan Oksigen

Diharapkan stock Elpiji dan Oksigen dapat dijaga agar jangan sampai habis, karena mengganggu pelaksanaan pekerjaan mekanik.

Saran :

Pemesanan Elpiji dan Oksigen dilakukan saat jumlah stock sudah mencapai jumlah rata-rata pemakaian sehari dikali dengan rata-rata lamanya delivery (waktu mulai pesan sampai datang di API).

Dari Laporan Praktek


Terima kasih: Duta PulsaPersewaan Alat PestaToko JilbabKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah


Ditulis dalam Perusahaan, Praktek | Bertanda: , | Leave a Comment »

LEASING (SEWA-GUNA-USAHA) -Pengertian

Ditulis oleh dahlanforum di/pada April 24, 2009

Leasing atau sewa-guna-usaha adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk jangka waktu tertentu, berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala disertai dengan hak pilih bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa uang yang telah disepakati bersama. Dengan melakukan leasing perusahaan dapat memperoleh barang modal dengan jalan sewa beli untuk dapat langsung digunakan berproduksi, yang dapat diangsur setiap bulan, triwulan atau enam bulan sekali kepada pihak lessor.

Melalui pembiayaan leasing perusahaan dapat memperoleh barang-barang modal untuk operasional dengan mudah dan cepat. Hal ini sungguh berbeda jika kita mengajukan kredit kepada bank yang memerlukan persyaratan serta jaminan yang besar. Bagi perusahaan yang modalnya kurang atau menengah, dengan melakukan perjanjian leasing akan dapat membantu perusahaan dalam menjalankan roda kegiatannya. Setelah jangka leasing selesai, perusahaan dapat membeli barang modal yang bersangkutan. Perusahaan yang memerlukan sebagian barang modal tertentu dalam suatu proses produksi secara tibatiba,  tetapi tidak mempunyai dana tunai yang cukup, dapat mengadakan perjanjian leasing untuk mengatasinya. Dengan melakukan leasing akan lebih menghemat biaya dalam hal pengeluaran dana dibanding dengan membeli secara tunai.

Di Indonesia leasing baru dikenal melalui surat keputusan bersama Menteri Keuangan dan Menteri Perdagangan Republik Indonesia dengan No.KEP-122/MK/IV/2/1974, No.32/M/SK/2/1974, dan No.30/Kpb/I/1974 tanggal 7 Februari 1974 tentang perizinan usaha leasing. Sejalan dengan perkembangan waktu dan perekonomian Indonesia permasalahan yang melibatkan leasing semakin banyak dan kompleks. Mulai dari jenis leasing yang paling sederhana sampai yang rumit. Perbedaan jenis leasing menyebabkan perbedaan dalam pengungkapan laporan keuangan, perlakuan pajak dan akibatnya pada pajak penghasilan badan akhir tahun. Capital lease dan operating lease sama-sama dikenakan pajak pertambahan nilai, sedangkan untuk operating lease disamping dikenakan pajak pertambahan nilai juga dikenakan pemotongan pajak penghasilan pasal 23, hal ini karena diperlakukan sebagai sewa menyewa biasa. Biaya-biaya yang berkaitan dengan transaksi lease dianggap sebagai biaya usaha bagi pihak lessee.

Munculnya lembaga leasing merupakan alternatif yang menarik bagi para pengusaha karena saat ini mereka cenderung menggunakan dana rupiah tunai untuk kegiatan operasional perusahaan. Melalui leasing mereka bisa memperoleh dana untuk membiayai pembelian barang-barang modal dengan jangka waktu pengembalian antara tiga tahun hingga lima tahun atau lebih. Disamping hal tersebut di atas para

pengusaha juga memperoleh keuntungan-keuntungan lainnya seperti kemudahan dalam pengurusan, dan adanya hak opsi.

Suatu keuntungan lain jika ditinjau dari laporan keuangan fiskal adalah transaksi capital lease diperhitungkan sebagai operational lease pembayaran lease dianggap sebagai biaya mengurangi pendapatan kena pajak. Tetapi tidak begitu halnya jika ditinjau dari segi komersial.

Secara umum leasing artinya Equipment funding, yaitu pembiayaan peralatan/barang modal untuk digunakan pada proses produksi suatu perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pengertian leasing menurut surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Perdagangan dan Industri Republik Indonesia No. KEP- 122/MK/IV/2/1974, Nomor 32/M/SK/2/1974, dan Nomor 30/Kpb/I/1974 tanggal 7 Februari 1974 adalah: ”Setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk jangka waktu tertentu, berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala disertai dengan hak pilih bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa uang telah disepakati bersama”.

Equipment Leasing Association di London memberikan definisi leasing sebagai berikut: “Leasing adalah perjanjian antara lessor dan lessee untuk menyewa sesuatu atas barang modal tertentu yang dipilih/ditentukan oleh lessee. Hak pemilikan barang modal tersebut ada pada lessor sedangkan lessee hanya menggunakan barang modal tersebut berdasarkan pembayaran uang sewa yang telah ditentukan

dalam jangka waktu tertentu”.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka pada prinsipnya pengertian leasing terdiri dari beberapa elemen di bawah ini:

1. Pembiayaan perusahaan

2. Penyediaan barang-barang modal

3. Jangka waktu tertentu

4. Pembayaran secara berkala

5. Adanya hak pilih (option right)

6. Adanya nilai sisa yang disepakati bersama

7. Adanya pihak lessor

8. Adanya pihak lessee

Pembiayaan melalui leasing merupakan pembiayaan yang sangat sederhana dalam prosedur dan pelaksanaannya dan oleh karena itu leasing yang digunakan sebagai pembayaran alternatif tampak lebih menarik. Sebagai suatu alternatif sumber pembiayaan modal bagi perusahaan-perusahaan, maka leasing didukung oleh keuntungan-keuntungan sebagai berikut:

1. Fleksibel, artinya struktur kontrak dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan yaitu besarnya pembayaran atau periode lease dapat diatur sedemikian rupa sesuai dengan kondisi perusahaan.

2. Tidak diperlukan jaminan, karena hak kepemilikan sah atas aktiva yang di lease serta pengaturan pembayaran lease sesuai dengan pendapatan yang dihasilkan oleh aktiva yang dilease sudah merupakan jaminan bagi lease itu sendiri.

3. Capital saving, yaitu tidak menyediakan dana yang besar, maksimum hanya menyediakan down payment yang jumlahnya dalam kebiasaan lease tidak terlalu besar, jadi dalam hal ini bisa dikatakan menjadi suatu penghematan modal bagi lessee, yaitu lessee dapat menggunakan modal yang tersedia untuk keperluan lain. Karena leasing umumnya membiayai 100% barang modal yang dibutuhkan.

4. Cepat dalam pelayanan, artinya secara prosedur leasing lebih sederhana dan relatif lebih cepat dalam realisasi pembiayaan bila dibandingkan dengan kredit investasi bank, jadi tanpa prosedur yang rumit dan hal itu memberikan kemudahan bagi para pengusaha untuk memperoleh mesin-mesin dan peralatan yang mutakhir untuk memungkinkan dibukanya suatu bidang usaha produksi yang baru atau untuk memodernisasi perusahaan.

5. Pembayaran angsuran lease diperlakukan sebagai biaya operasional, artinya pembayaran lease langsung dihitung sebagai biaya dalam penentuan laba rugi perusahaan, jadi pembayarannya dihitung dari pendapatan sebelum pajak, bukan dari laba yang terkena pajak.

6. Sebagai pelindung terhadap inflasi, artinya terhindar dari resiko penurunan nilai uang yang disebabkan oleh inflasi, yaitu lessee sampai kapan pun tetap membayar dengan satuan moneter yang lalu terhadap sisa kewajibannya.

7. Adanya hak opsi bagi lessee pada akhir masa lease.

8. Adanya kepastian hukum, artinya suatu perjanjian leasing tidak dapat dibatalkan dalam keadaan keuangan umum yang sangat sulit, sehingga dalam keadaan keuangan atau moneter yang sesulit apapun perjanjian leasing tetap berlaku.

9. Terkadang leasing merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan aktiva bagi suatu perusahaan, terutama perusahaan ekonomi lemah, untuk dapat memodernisasi pabriknya.

Klasifikasi Leasing

1. Capital Lease

Perusahaan leasing pada jenis ini berlaku sebagai suatu lembaga keuangan. Lessee yang akan membutuhkan suatu barang modal menentukan sendiri jenis serta spesifikasi dari barang yang dibutuhkan. Lessee juga mengadakan negoisasi langsung dengan supplier mengenai harga, syarat-syarat perawatan serta hal-hal lain yang berhubungan dengan pengoperasian barang tersebut.

Lessor akan mengeluarkan dananya untuk membayar barang tersebut kepada supplier dan kemudian barang tersebut diserahkan kepada lessee. Sebagai imbalan atas jasa pengguanaan barang tersebut lessee akan membayar secara berkala kepada lessor sejumlah uang yang berupa rental untuk jangka waktu tertentu yang telah disepakati bersama.

Jumlah rental ini secara keseluruhan akan meliputi harga barang yang dibayar oleh lessor ditambah faktor bunga serta keuntungan pihak lessor. Selanjutnya capital atau finance lease masih bisa dibedakan menjadi dua yaitu:

a. Direct finance lease

Transaksi ini terjadi jika lessee sebelumnya belum pernah memiliki barang yang dijadikan objek lease. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa lessor membeli suatu barang atas permintaan lessee dan akan dipergunakan oleh lessee.

b. Sale and lease back

Sesuai dengan namanya, dalam transaksi ini lessee menjual barang yang telah dimilikinya kepada lessor. Atas barang yang sama ini kemudian dilakukan suatu kontrak leasing antara lessee dengan lessor. Dengan memperhatikan mekanisme ini, maka perjanjian ini memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan dengan direct finance lease. Di sini lessee memerlukan cash yang bisa dipergunakan untuk tambahan modal kerja atau untuk kepentingan lainnya. Bisa dikatakan bahwa dengan sistem sale and lease back memungkinkan lessor memberikan dana untuk keperluan apa saja kepada kliennya dan tentu saja dana yang dibutuhkan sesuai dengan nilai objek barang lease.

2. Operating Lease

Pada operating lease, lessor membeli barang dan kemudian menyewakan kepada lessee untuk jangka waktu tertentu. Dalam praktik lessee membayar rental yang besarnya secara keseluruhan tidak meliputi harga barang serta biaya yang telah dikeluarkan oleh lessor.

Di dalam menentukan besarnya pembayaran lease, lessor tidak memperhitungkan biaya-biaya tersebut karena setelah masa lease berakhir diharapkan harga barang tersebut masih cukup tinggi. Di sini jelas tidak ditentukan adanya nilai sisa serta hak opsi bagi lessee.

3. Sales type lease (Lease Penjualan)

Lease penjualan biasanya dilakukan oleh perusahaan industri yang menjual lease barang hasil produksinya. Dalam kontrak penjualan lease diakui dua macam pendapatan yaitu pendapatan penjualan barang dan pendapatan bunga atas jasa pembelanjaan selama jangka waktu lease.

4. Leverage Lease

Pada leasing ini dilibatkan pihak ketiga yang disebut credit provider. Lessor tidak membiayai objek leasing hingga sebesar 100% dari harga barang melainkan hanya antara 20% hingga 40%. Kemudian sisa dari harga barang tersebut akan dibiayai oleh credit provider.

5. Cross Border Lease

Transaksi pada jenis ini merupakan suatu transaksi leasing yang dilakukan dengan melewati batas suatu negara. Dengan demikian antara lessor dan lessee terletak pada dua negara yang berbeda.

Barang-barang atau peralatan yang ditransaksikan dalam cross border lease meliputi nilai jutaan dollar Amerika Serikat. Seperti Pesawat terbang bermesin jet dari Pabrikan Boeing dan Airbus.

Prosedur Mekanisme Leasing

Dalam melakukan perjanjian leasing terdapat prosedur dan mekanisme yang harus dijalankan yang secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Lessee bebas memilih dan menentukan peralatan yang dibutuhkan, mengadakan penawaran harga dan menunjuk supplier peralatan yang dimaksudkan.

2. Setelah lessee mengisi formulir permohonan lease, maka dikirimkan kepada lessor disertai dokumen lengkap.

3. Lessor mengevaluasi kelayakan kredit dan memutuskan untuk memberikan fasilitas lease dengan syarat dan kondisi yang disetujui lessee (lama kontrak pembayaran sewa lease), setelah ini maka kontrak lease dapat ditandatangani.

4. Pada saat yang sama, lessee dapat menandatangani kontrak asuransi untuk peralatan yang dilease dangan perusahaan asuransi yang disetujui lessor, seperti yang tercantum dalam kontrak lease. Antara lessor dan perusahaan asuransi terjalin perjanjian kontrak utama.

Kontrak pembelian peralatan akan ditandatangani lessor dengan

supplier peralatan tersebut.

6. Supplier dapat mengirimkan peralatan yang dilease ke lokasi lessee. Untuk mempertahankan dan memelihara kondisi peralatan tersebut, supplier akan menandatangani perjanjian purna jual.

7. Lessee menandatangani tanda terima peralatan dan menyerahkan kepada suppplier.

8. Supplier menyerahkan tanda terima (yang diterima dari lessee), bukti pemilikan dan pemindahan pemilikan kepada lessor.

9. Lessor membayar harga peralatan yang dilease kepada supplier.

10. Lessee membayar sewa lease secara periodik sesuai dengan jadwal pembayaran yang telah ditentukan dalam kontrak lease.

Aspek perpajakan yang berkaitan dengan leasing.

1. Pajak Penghasilan (PPh)

Berdasarkan Undang-undang no 17 tahun 2000 dan surat Keputusan Menteri Keuangan RI No. 1169/KMK.01/1991 Pasal 16 ayat 2 menyatakan: “Lessee tidak memotong pajak penghasilan pasal 23 atas pembayaran sewa guna usaha yang dibayar atau terutang berdasarkan perjanjian sewa guna usaha dengan hak opsi”. Dalam pasal tersebut dengan jelas menyatakan bahwa angsuran-angsuran atau pembayaran yang diterima lessor dari lessee untuk jenis transaksi finance lease tidak dikenakan pemotongan pajak penghasilan.

Pasal 17 ayat 2 menyatakan:

a. Pembayaran sewa guna usaha tanpa hak opsi yang dibayar atau terutang oleh lessee adalah biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.

b. Lessee wajib memotong pajak penghasilan pasal 23 atas pembayaran sewa guna usaha tanpa hak opsi yang dibayarkan atau terutang kepada lessor.

Pasal 17 ayat 2a mengatur tentang perlakuan pembayaran leasing oleh lessee. Di sini dijelaskan bahwa pembayaran leasing dari lessee kepada lessor untuk transaksi operational lease diperlukan pemotongan pajak penghasilan pasal 23 karena menurut pajak diperlakukan sebagi sewa-menyewa biasa.

2. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

a. Perlakuan PPN atas transaksi capital lease:

1) Berdasarkan ketentuan pasal 13 Peraturan Pemerintah nomor 50 tahun 1994 huruf d dan e, Pengumuman Direktur Jenderal Pajak No. Peng- 139/PJ.63/1989 dan Pasal 1 angka 4 Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor Kep05/PJ/1994, penyerahan jasa dalam transaksi capital lease dari lessor kepada lessee adalah penyerahan jasa yang terutang PPN, karena lessor sebagai perusahaan jasa persewaan barang dengan demikian adalah pengusaha kena pajak.

2) Pengalihan barang dalam transaksi operating lease bukan merupakan penyerahan barang kena pajak karena pengalihan barang tersebut adalah dalam rangka persewaan biasa.

3) Besarnya PPN yang terutang adalah 10% dari Nilai Penggantian.

4) PPN sebagaimana dimaksud dalam angka 3) merupakan PPN Keluaran bagi lessor dan merupakan PPN Masukan bagi lessee dalam hal lessee adalah Pengusaha Kena Pajak. PPN yang dibayar atas perolehan barang kena pajak (BKP) yang dilease merupakan PPN Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dengan PPN Pajak Keluaran lessor.

b. Dalam hal transaksi sale and lease back tanpa hak opsi, PPN masukan atas perolehan barang tidak boleh dikreditkan oleh lessee. Dalam hal lessee kemudian melease kembali barang tersebut, maka lessor harus mengenakan PPN yang terutang atas jasa persewaan barang yang dilakukan.

Lease : Suatu kontrak sewa atas penggunaan harta untuk suatu periode tertentu dengan sewa tertentu.

Lessee : Pemakai aktiva yang akan di lease. Perusahaan atau perorangan yang menggunakan barang modal dengan pembiayaan dari pihak perusahaan leasing.

Lessor : Pemilik dari aktiva yang akan di lease.

Lease term: Jangka waktu lease yang tetap dan tidak dapat dibatalkan, termasuk:

a. Periode yang mencakup hak opsi untuk memperbarui kontrak leasing.

b. Periode yang mencakup digunakannya hak opsi untuk membeli aktiva yang dilease.

c. Periode dimana lessor mempunyai hak untuk memperbarui atau memperpanjang masa lease.

d. Periode dimana denda dikenakan bagi lessee atas kegagalannya untuk memperbarui lease dan jumlah denda tersebut dijamin pada permulaan lease.

e. Periode yang mencakup hak opsi pembaruan yang biasa yaitu diberikan jaminan oleh lessee atas utang lessor yang mungkin terjadi.

Residual Value: Nilai leased asset yang diperkirakan dapat direalisasi pada akhir periode sewa.

Security Deposit (SD): Jaminan kas yang diminta lessor dari sewa lessee untuk menjamin pembayaran sewa atau kewajiban sewa lainnya.

Dari Catatan Sekolah


Terima kasih: Duta PulsaPersewaan Alat PestaToko JilbabKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah


Ditulis dalam Akuntansi, Bisnis, Perusahaan, Usaha | Bertanda: , , , , | 6 Komentar »

OPERATIONAL INSTRUCTIONS DELIVERY TWIST ROLLER GUIDE

Ditulis oleh dahlanforum di/pada April 16, 2009

I. To Customers

II. Features

III. Types Of Delivery Twist Roller Guides

IV. Main Part

1. Guide Box

2. Roller Holder

3. Twist Guide

4. Twist Roller

5. Center Pinion

6. Twist Pinion

7. Holder Nut

V. Roller Holder Twisting Mechanism

VI. Twist Roller Centering Distance Adjusting Mechanism

VII. Check List

I. To Customers

Thank you very much for using Delivery Twist Roller Guides at your plant. Delivery Twist Roller Guides were developed with the Years of trouble-free use In TAIWAN and many other countries have proved their efficiency, durability and profitability.

Request to Customers:

Delivery Twist Roller Guides are used in heavy duty conditional. Proper maintenance, timely servicing and care in handling are essential to ensure long life of these Roller Guides. Therefore, please pay very careful attention in using these Roller Guides to ensure their durability and efficiency.

II. Features

Centering and Twisting Mechanism

One-touch operation assures precise centering of stock to pass line and setting of any twist angle.

Center Pinion Mechanism

Moves Twist: Roller centers symmetrically.

Ensures the correct twist angle according to stock size.

Flange Type Twist Roller

Twist angle of the stock will be set securely and accurately.

Effect of heat for bearings is minimum and this ensures long life.

Easy retooling.

Simple on-touch operation

Ensures easy, quick and accurate on line adjustments.

Misrolling will be kept to the minimum, yield higher. Cuts production costs. Ensure:

Improved and uniform product quality. Easy and quick maintenance, less preparation time

Light weight and robust construction ensures long life. Twist Rollers can be redresses and used again.

III. Types of Delivery Twist Roller Guides

1. Oil-type – Universal Standard Adjustment Delivery Type

These Twist Roller Guides are used for Finishing and intermediate stands. A simple One-touch adjustment mechanism For setting gap between rollers, ensure precise, symmetrical and coaxial opening and closing of roller gap. Twist Guides are inserted in Guide Box and are interchangeable independently without changing the Guide Box.

2. DS-type – Single Adjustment Standard Delivery Type

These Twist Roller Guides are used for roughing and intermediate stands. In these Twist Roller Guides an Eccentric Roller Pin for setting roller gap symmetrically independently adjusts each roller.

Other features are the same as those of DU-type.

IV. Main Parts

A. Guide Box

B. Roller Holder

C. Twist Guide

D. Twist Roller

E. Eccentric Roller Pin

(Left Screw, Right Screw)

F. Center Pinion

G. Center Metal

H. Twist Pinion

I. Hammer Head Bolt

J. Holder Nut

K Bye Boll

L. Bearing

(Taper Roller Bearing)

M. Rest Bar

N. Clamp

O. Clamp Bolt, Nut

1. Guide Box

2. Roller Holder

1) Roller Holder heads below DU100 type can be fixed and removed from the Guide Box by hand.

2) For fixing and removing of Roller Holder heads of types over DU 130 type, use a chain block.

Assembly:

1) The gap between the hole of the Guide Box and cylindrical surface of Roller Holder is very small. Therefore, proper care should be taken when the Holder head is inserted into the Guide Box, so as not to have any axial deflection. If the Roller Holder is inserted incorrectly by force, it will be difficult to take out.

2) Grease the contact surfaces of the Roller Holder head and the Guide Box before assembly. After assembly, feed sufficient grease from the nipple again.

3) After use, to make the removal of Roller Holder from Guide Box easy, wash off scale first and turn Roller Holder by Twist Pinion and then remove the Roller Holder without force.

4) Take necessary precautions and care not to damage (scratch, scrape, etc.) these contact surfaces of Guide Box and Roller Holder. If any scratching, scraping etc., occurs, repair such damages early by grinding.

Direction of fixing and removal of Roller Holder

3. Twist Guide

A. Inner Type Twist Guide: for DU-S. DS-S Type

1) Twist Guides are fixed together by two Fixing Bolts. Therefore, it is easy to insert and to remove.

2) When inserting Twist Guides into Roller Holder, Feed grease to Fixing Bolts and tapped holes sufficiently for easy removal and to avoid rusting.

B. Open Type Twist Guide: for DU, DS Type

4) Twist Roller

* Taper Roller Bearing and Dust Seal Numbers are given in assembly drawings.

Disassembly Procedure:

a) Remove Adapter Nut, Corn Disc Spring, Plate Washer and ‘0′ Ring.

b) Remove Eccentric Piece and pull out Eccentric Roller Pin, then remove Twist Roller.

c) Remove Thrust Ring and Shim set In Roller Holder.

d) Remove Inner Bearing Ring by tapping from inside at the opposite side. Thrust Washer and Dust Seal are removed at the same time.

e) Remove Dust Seal from Thrust Washer.

f) Remove Outer Bearing Ring In Twist Roller by tapping from Inside at the opposite side.

Assembly Procedure:

a) Insert Outer Bearing Ring into Twist Roller.

b) Insert Inner Bearing Ring into Twist Roller and then insert Dust Seal into Thrust Washer with open side up.

c) Set Thrust Ring in Roller Holder. Apply grease to make setting easy.

d) After assembly of Twist Roller in Roller Holder, check for “no gap”.

e) Insert Shim inside of Thrust Ring to fill the pp. if needed.

f) Insert Eccentric Roller Pin by tapping softly.

g) Insert Eccentric Piece, adjust the key way with Eccentric Roller Pin and insert Eccentric piece.

h) Assemble ‘0′ Ring, Plate Washer, Corn Disc Spring and fix Adapter Nut tightly.

Assembly and Disassembly of larger size Twist Rollers:

Keep Roller Holder in a horizontal position. Fix not allowing if not to turn. Pull out Eccentric Roller Pin, and remove Twist Roller keeping roller in a horizontal position.

Assemble in the reverse order.

5. Center Pinion

One-Touch Adjustment Mechanism

Disassembly Procedure:

a) Remove Center Metal Fixing Dolts

b) Remove Center Metal and Cent re Pinion

Assembly Procedure:

After assembly of Center Metal and Center Pinion insert Eccentric Roller Pin.

a) Loosen Push Bolt and pull out up to a point where it does not touch Center Pinion.

b) Fix Centre Pinion to Roller Holder.

c) Fix Centre Metal.

d) Fix lightly Centre Metal Fixing Bolts to Roller Holder.

e) Tighten Front Centre Metal Fixing Bolt Fully first.

f) Then tighten Side Centre Metal Fixing Bolt fully.

g) Insert Eccentric Roller Pin taking care of Eccentric Indicator position, and assemble Twist Roller.

Note: 1. It is necessary to adjust Eccentricity Indicator to the centre of Centre Pinion. Then make centre distances equal on both sides, and adjust centre of stock with pass line.

2. Assemble Centre Pinion first and then insert Eccentric Roller Pin.

3. A suitable maintenance program should be planned to keep parts and guides in a good service condition.

6. Twist Pinion

Assembly, Disassembly and Adjustment

  1. Twist Pinion and Twist Pinion Shaft are fixed together by a Spring Pin Their assembly or disassembly can be accomplished by inserting or removing the Spring Pin.

2. Spring Pin should be inserted in such a way so that it does not get into one side Check also that it docs not come out from Twist Pinion bottom and strike.

  1. Shaft hole and Twist Pinion hole for the Spring Pin arc drilled together for smooth insertion of the Spring Pin. Therefore, when assembling, adjust the holes, so that they coincide axially and (hen insert the Spring Pin.
  2. Do not disassemble Twist Pinion and Twist Pinion Shaft unless it is absolutely necessary.
  3. To lock (he Twist Pinion, two different methods are used. One method is the use of a Push Bolt. The other is the use of a Lock Nut with a Corn Disc Spring One of these methods will definitely be used to lock the Twist Pinion.

7. Holder Nut

Disassembly Procedure:

a. Loosen Fixing Bolt and remove.

b. Turn Holder Nut anticlockwise using Holder Nut tapped holes and loosen.

Assembly Procedure:

a. Assemble Holder Nut by turning clockwise using Holder Nut tapped holes.

b. Tighten fully first, and then loosen a little.

c. Adjust upper and nearest tapped hole of Holder Nut and Roller Holder. Fix with Holder Nut Fixing Bolt.

V. Roller Holder Twisting Mechanism

Adjustment of Roller Holder Twist Angle:

1. Determination of Twist Angle

Determine the Roller gap (F) first, and then the Roller Holder Twist Angle.

2. Procedure for adjusting the Twist Angle.

Twist Angle can be adjusted by turning the Twist Pinion on top of the Guide Box.

Adjustment of Twist Angle:

1. Refer the drawings and check the actual value of 0 given in the instructions.

2. Adjust the Twist Angle accordingly. Check with the scale for angular measurement provided on the Guide Box.

3. Fix the Roller Holder with the two bolts provided for this purpose, after making sure that the Twist Angle is correct.

Correction of Twist Angle during Actual Rolling:

During operation, actual stock sizes change from the design value. Therefore, actual stock size changes should be taken into consideration and Twist Angle should be adjusted accordingly. Check the entry angle at the feed point of rolls and make necessary corrections.

q = Roller Holder Twist Angle

a = Stock Twist Angle

When the Twist Pinion Ratchet Handle is turned backwards, Roller Holder will move in a clockwise direction.

When Twist Pinion Ratchet Handle is turned forward, Roller Holder moves in an anticlockwise direction.

VI. Twist Roller Centering Distance Adjusting Mechanism

Adjustment Procedure:

1. First, make sure the Position of Eccentricity Indicator.

Eccentricity Indicator should be set adjacently on the side of the Centre Pinion and not away from it.

2. Insert Gauge Bar between Rollers.

3. Adjust the Roller gap to suit the Gauge Bar.

4. Make the final adjustment of Twist Roller gap.

The Gauge Bar should touch the rollers LIGHTLY.

If Roller gap becomes too small and the Gauge Bar is tightly pressed between Rollers, make the gap wide open and then readjust.

Adjustment by using Gauge Bar:

Use of Gauge Bar ensures easy adjustment. Make the Gauge Bar according lo the instructions given in the assembly drawings.

Relationship between direction of Centre Pinion rotation and Twist Rollers gap:

Direction of Centre Pinion rotation: Twist Rollers gap

a. Clockwise Closes

b. Anticlockwise Opens

VII. Check List

Procedure for checking guide boxes before fixing onto a roll stand:

1. Cheek whether the Guide Is the correct Guide for the given stand.

2. Insert the Stock Gauge and check whether the Roller gap is properly adjusted.

3. Check whether the angle of twist is correct (Check the angle on the Angle Indicator)

4. Turn the Twist Rollers and see whether they turn smoothly.

a. Check for any play on the Rollers.

b. Check whether grease comes out from the bearings.

5. Check whether the bolts are tightly fixed.

On-Line Check procedure of Guide Boxes:

1. Check whether the Guide Box is properly aligned with the groove (caliber)

2. Check whether Rest Bar Clamp is tightly fixed.

3. Check whether there is sufficient cooling water.

4. Ensure once again that there is sufficient lubrication grease.

5. Re check Roller Holder Twist Angle.

Mendukung Stop Dreaming Start Action


Terima kasih: Duta PulsaPersewaan Alat PestaToko JilbabKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah


Ditulis dalam Mesin, Perusahaan | Bertanda: , | 2 Komentar »

LAPORAN HASIL OBSERVASI

Ditulis oleh dahlanforum di/pada April 16, 2009

I. FURNACE

- Flame dan busur api kurang bagus

- Warna api (Merah-Biru dan Kehitaman)

NB. Perlu dicheck ratio angin dan minyak, presure dalam furnace terlalu besar.

II. ROUGHING MILL

Masih banyak delay menyebabkan temp. matherial drop, karena drop tersebut akibatnya bisa trouble di pass/stand berikutnya, jalan keluar yang terbaik adalah:

III. INTERMEDIATE Im 1 DAN Im 2

IV. FLYING CROP SHEAR

V. REPEATER

VI. Tidak masuk stand F1 saya melihat banyak cable section over fill/kumis dan head/kepala bengkok seperti ada benturan di snap shear repeater.

VII. Finishing stand F1, F2, F3, dan F4 cukup baik hanya hasil ekor material terkhir agak banyak kumis ±¾ motor, ini diakibatkan drop temp, tolearansi size Æ8,3 cukup baik hanya roundnesnya masih belum bulat betul.

VIII. Shear gate nozel I dan rotary shear I dengan kecepatan sekarng bekerja cukup baik.

Diminta agar operator pulpit mencatat/merecord speed dan timer pada waktu jalan bagus, bagian mech harus mengecek presure angin dan kerjanya pniomatic/selinder untuk shear gate nozel dan rotary shear.

Shear gate nozel 2 dan rotary shear 2 tidak jalan karena ada problem pada pipe line yang akan masuk cooling bed, informasinya material kalau keluar kepalanya langsung terbang dan keluar dari jalurnya.

Untuk ini setelah produksi berhenti kami mengecek ada dua problem:

1. Center line antara pinch roll à pipe dan traft engle colling bed tidak bagus.

2. Diusulkan agar pinch roll setelah rotary shear dibuat level dengan traft engle cooling bed, sehingga pipe line setelah pinch roll level terhadap traft engle C.B. pekerjaan ini langsung di-aktion oleh bagian mechanic.

Ditulis dalam Perusahaan, Praktek | Bertanda: , | 2 Komentar »

Operational Instructions Entry Roller Guide

Ditulis oleh dahlanforum di/pada April 16, 2009

I. To Customers

II. Features

III. Types of Entry Roller Guides

IV. Main Parts

V. Assembly and Disassembly of Roller Guides

VI. Guide Roller Adjustment Mechanism

VII. Roller Gap Adjustment

VIII. Check List

I. To Customers

Thank you very much for using ENTRY ROLLER GUIDE at your plant. ENTRY ROLLER GUIDE was developed with the Years of trouble-free use in TAIIMN and many other countries have proved their efficiency, durability and profitability.

Request to Customers:

ENTRY ROLLER GUIDE is used In heavy duty conditions. Proper maintenance) timely servicing and care in handling are essential to ensure long life of these Roller Guides. Therefore, please pay very careful attention in using these Roller Guides to ensure their durability and efficiency.

II. Features

  • One-touch operation assures precise symmetrical and simultaneous opening and closing of guide Rollers to hold the rolling stock firmly in position.
  • Even minute adjustments of Roller gap can be made quickly and easily.
  • Roller Holders have perfect elastic strength and toughness to withstand any impact loads and other stresses.
  • Roller Holders hold the rolling stock Firmly without Falling or deflection. Stock enters the Rolls perfectly without any entry problems.
  • Simple One-touch operation accomplishes easy and quick on-line adjustments.
  • Rolled tons per hour will be higher.
  • Misrolling will be kept to the minimum and yield is higher.
  • Greater precision ensures improved and uniform product quality.
  • Easy and quick maintenance, less preparation time.
  • Lightweight and robust construction ensures long life.
  • Collide Rollers can lie redressed and used again. Cheaper to use and economically advantageous.

III. Types of Entry Roller Guides

EP-type Roller Guide (Single Guide Roller)

Each Roller holder has one Guide Roller. One-touch operation ensures the holding of stock perfectly. Stock will be fed to the rolls smoothly. These Roller Guides are used in Gullet, Tandem and nil other types of rolling mills.

One Fulcrum Pin fixes the Roller Holder. Entry Guides can be removed and replaced.

Design and Construction of Entry Roller Guides

Characteristics and Special Features

  1. One Fulcrum Pin fixes the Roller Holder.
  2. Roller Holders are fixed on die oilier side of the Guide Box.
  3. Entry Guides can be interchanged independently, without changing the Guide Box.
  4. One-touch adjustment of Roller gap.

Special Features of EP-Type Roller Guides

  1. Water, scale and oilier dirt do not enter the Guide Roller Bearings. The Dust Seal can control overflowing of grease.
  2. Roller Holders arc fixed on the outer side of the Guide Box. Therefore, assembly, disassembly and maintenance become very easy.
  3. Roller Holder are made of special steel and has very high both elastic strength and toughness. They are of flexible plate. Roller Holders possess high resistance for shock, impact, and stresses caused owing to looping, falling of stock, etc.
  4. Entry Guides can be changed independently.
  5. One-touch adjustment of Roller gap.

IV. Main Parts

A) Guide Box

B) Roller Holder

C) Fulcrum Pin

D) Roller Holder Fixing Bolt

E) Handle

F) Entry Guide Fixing Bolt

G) Centre Ratchet

H) Pressure Screw

I) Shackle

J) Entry Guide

K) Guide Roller

L) Bearing (Taper Roller Gearing, Ball Bearing)

M) Roller Pin

N) Bush

O) Guide Bar

P) Fulcrum Pin Fixing Bolt

Q) Key Plate

R) Tension Spring

S) Rest Bar

T) Clump

U) Clamp Bolt, Nut

V. Assembly and disassembly of Roller Guide

1. Guide Box.

2. Roller Holder

Disassembly:

a. Loosen Roller Holder Fixing Bolts.

b. Loosen Tension Spring Fixing Bolts and lift and remove the Tension Spring.

(Do not remove the Fixing Bolts completely to ensure the bolt not getting lost.)

c. Loosen Fulcrum Pin Fixing Bolts.

d. Remove Fulcrum Pin.

e. Remove Roller Holder.

Assemble in the reverse order.

3. Entry Guide

Disassembly:

1) Loosen Entry Guide Fixing Bolt.

2) Remove Entry Guide

(Guide Bar will also be removed at the same time.)

Assemble in the reverse order.

4. Guide Rollers and Bearing

Bearings are fitted into Guide Rollers.

EP25 and below – Gall Bearing type

EP40 and over – Taper Roller Gearing type

Disassembly procedure:

  1. Remove Key Plate.
  2. Remove Roller Pin. (tap from bottom)
  3. Remove Guide Roller.
  4. Remove Thrust Ring and Shim from Roller Holder.
  5. Remove inner Rearing Ring and Dust Seal and Thrust Washer by tapping from opposite side.
  6. Remove Outer Bearing Ring by tapping from opposite side.

Assembly procedure:

  1. Insert Outer Bearing Ring into Guide Roller.
  2. Insert Inner Bearing Ring into Guide Roller and then, insert Dust Seal into Thrust Washer with open side up.
  3. Set Thrust Ring in Roller Holder.
  4. Insert Guide Roller into Roller Holder.
  5. Insert Shim between Thrust Ring and Roller Holder, if needed.
  6. Use the Shim to see that there is no gap.

(Several adjustments may be necessary to determine the correct thickness of Shim.)

  1. With the use of Shim, ensure that there is no gap and then fix Guide Roller.

Precautions to he taken in assembly and disassembly of Guide Roller:

  1. Ensure that lip of Dust Seal faces outside.
  2. Apply sufficient grease to all parts, before fixing the Guide Roller.
  3. If a hammer should be used for assembly or disassembly, use a nylon hummer or use a piece of light metal on top of the part lo be hammered.

Instruction for changing Taper Roller Bearings;

  1. Change Outer and Inner Bearing Rings simultaneously.
  2. If a used bearing is to be fixed, clean it thoroughly before use.
  3. Taper Roller Bearings of different makers have different taper angles. Therefore use bearings of the same maker.

5. Centre Ratchet

Disassembly:

  1. Move Ratchet Handle and remove Screw Spindle from back.
  2. Loosen Key Bolt and remove from key way.
  3. Loosen Screw Spindles (left and right) find remove the Screw Spindles.

Assembly:

1. Make Sure that Key Bolt is not in key way.

2. Insert the Ratchet Handle and hold.

3. Insert Screw Spindles from outside of right and left brackets. (Right Screw Spindle from right bracket and Mt Screw Spindle From left bracket.)

4. Using finger, insert Screw Spindle into Ratchet Wheel, (left and right – make sure of sides)

5. Make sure that “e” is equal from both sides. Arrange key way to face bottom so that key can get in from bottom.

6. Check again whether “e” is same on both sides.

7. Insert the Key Bolt into key way.

VI. Guide Roller Adjustment Mechanism

Description

When the Ratchet Handle is moved, Left Screw Spindle and the Right Screw Spindle move in opposite directions. Forces P1 and P2 are applied due to this moment. Thus, Roller Holders are opened or closed.

Instructions for Operation and Application

Selling of Screw Spindles:

When looking in the direction of rolling, (Guide Roller in Front), Right Screw Spindle should be on tile right side and Left Screw Spindle should be on the left side.

Gap adjustment procedure:

Make “e” same on both left and right sides. Depending on the movement of the Ratchet Handle, the Roller Holders will cither open or close the Roller gap symmetrically.

Operation of Ratchet Handle:

  1. When the Ratchet Handle moves forward, the roller gap closes. When it moves backward, the Roller gap opens.
  2. Loosen the Roller holder Fixing Bolts and move the Ratchet. If the Fixing Bolts are not loosened before moving the Ratchet Handle, there will be very big sirens on the Roller Holders. This might cause damage.

Standard Guide Roller Distance Adjustment Procedure

1. When the Ratchet Handle is moved forward, the Roller gap closes. When it is moved backward, the roller gap open.

2. Adjust the Roller distance using the Gauge Bar.

Relationship between a Ratchet Handle movement of 90° and Roller distance

Handle movement of 90″ Roller gap opens or closes by

Type of Roller Guide EP20 EP25 EF40 EP55 EP70

Distance – l mm. 0.55 0.53 0.5 0.5 0.44

Type of Roller Guide EP90 EP110 RP140 EP70 EP200

Distance – l mm. 0.44 0.44 0.5 0.92 0.9

VII. Roller Gap Adjustment

Roller Gap Adjustment depends on:

1. Stock size

2. Shape of stock

3. Type of rolling (Tandem, Gullet, V-H with no twist or H-K with twist)

4. Distance from roll stand to roll stand.

5. Length of loop.

6. Speed of rolling.

7. Others

Entry Roller Guides take all the above-mentioned factors into account and ensure smooth and stable operation. Changes of stock size that occur during rolling should be taken into consideration. The best procedure to adjust the Roller gap is to lake into consideration the above-mentioned factors and set the gap according to your experience in the mill.

Roller Gap Adjustment:

1. Gauge Bar lightly [ouches (lie roller, (zero holding)

2. Roller gap smaller than the Gauge Bar. (minus holding)

3. There exists a small gap between the Rollers and the Gauge Bar (plus holding)

VIII. Check List

Important features of assembly, disassembly and adjustment:

1. Check and make “e” same on both sides to ensure that Roller Holders move symmetrically. (Same distance)

2. The bolts are delicate and make sure they are handled properly to ensure that no damage is done.

3. Before assembly, grease the parts well. After assembly, feed grease again through the flexible hose.

4. Ensure that bearings turn smoothly, and see that water, scale, etc., do not get into the bearings.

5. There is no necessity to disassemble the Ratchet Mechanism at an early stage. Apply grease sufficiently well to the Ratchet Mechanism.

6. In case there is a gap between Ratchet Wheel and bracket, insert Shims.

7. When moving Ratchet Handle, loosen Roller holder fixing Bolts. If not bracket will wear and brake.

Mendukung Stop Dreaming Start Action


Terima kasih: Duta PulsaPersewaan Alat PestaToko JilbabKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah


Ditulis dalam Mesin, Perusahaan | Bertanda: , | 2 Komentar »

“ 6 R ” DALAM AKTIVITAS KERJA DI PERUSAHAAN

Ditulis oleh dahlanforum di/pada April 16, 2009

  1. RAJIN

Ø Setiap karyawan harus :

· Rajin dalam bekerja;

· Rajin dalam beribadah;

· Rajin dalam disiplin waktu;

· Rajin dalam mentaati dan melaksanakan Peraturan Perusahaan.

  1. RAWAT

Ø Setiap Karyawan harus :

·  Merawat dan menjaga barang-barang milik Perusahaan;

· Merawat dan menjaga alat-alat kerja milik Perusahaan;

· Merawat dan menjaga semua fasilitas yang diberikan oleh Perusahaan.

  1. RESIK

Ø Setiap karyawan harus :

· Menjaga kebersihan lingkungan Perusahaan;

· Menjaga kebersihan di sekitar lokasi tempat bekerja;

· Menjaga kebersihan seragam kerja.

  1. RAPI

Ø Setiap karyawan harus :

· Rapi dalam berpenampilan dan berpakaian kerja;

· Rapi dalam menata dan mengatur hasil kerja;

· Rapi dalam administrasi kerja.

  1. RINGKAS

Ø Setiap karyawan harus :

· Ringkas dalam melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan;

· Ringkas dalam penyusunan administrasi kerja.

6. RAMAH

Ø Setiap karyawan harus :

· Ramah dalam bersikap dan bertingkah laku terhadap pimpinan dan anak buah;

· Ramah dalam bersikap dan bertingkah laku terhadap sesama rekan kerja;

· Ramah dalam bersikap dan bertingkah laku terhadap semua tamu perusahaan.

Pelaksanaan 6 R dalam aktivitas bekerja adalah pencerminan dari budaya kerja (corporate philosophy) yaitu :

“Kualitas kerja saya adalah efisiensi di segala bidang untuk meningkatkan kinerja”

$$$$$$$$$$$

Ditulis dalam Manajemen, Organisasi, Perusahaan | Bertanda: , , | 3 Komentar »