Posts tagged ‘Proyek’

2009/04/24

Studi untuk Perancangan – Kantor Pusat PT A

2.1. TEORI PERKANTORAN

Pengertian Perkantoran

Menurut Drs. Kamisa, kantor berarti: bangunan yang dipakai untuk bekerja yang berkenaan dengan urusan administrasi.  Menurut Erns Neufert, bahwa didalam bangunan perkantoran pekerjaan utamanya adalah dalam kegiatan penanganan informasi dan kegiatan pembuatan maupun pengambilan keputusan berdasarkan informasi tersebut.  Jadi perkantoran adalah bangunan yang digunakan untuk pekerjaan administrasi dan manajerial.

Rancangan Perkantoran

Umumnya pemakai ruang kerja perkantoran tidak perlu berpindah-pindah, karena telah dilengkapi dengan ruang untuk mesin-mesin, kantin, ruang rapat, arsip, perpustakaan dan aktivitas penunjang lainnya.

Perkantoran umumnya dapat dirancang dengan menciptakan hubungan antar ruang yang tepat sesuai dengan bagian-bagian pengorganisasian. Dapat pula mengurangi jarak capai antar ruang vertikal maupun horizontal. Begitu juga dalam upaya visual antar bagian dengan menciptakan hubungan yang akrab. Bentuk bangunan lainnya dapat pula digunakan untuk memperjelas keadaan ini, yakni dengan menata bagian-bagian komponen bebas, misalnya perabot, secara maksimal.

Kebutuhan ruang kantor dapat dihitung dengan menggunakan dua cara bersamaan, yakni:

1) ruang gerak orang (misalnya standar ruang perorangan x jumlah orang) + ruang tambahan untuk sarana penunjang + faktor (biasanya 15 %) untuk sirkulasi utama; ruang bebas untuk bukan orang, misalnya untuk ruang mesin, perpustakaan, dimana lebih tergantung pada banyaknya peralatan dibandingkan jumlah orang yang membutuhkan ruang kerjanya, sehingga untuk menghitungnya dapat digunakan dasar pemikiran praktis dari benda-benda tersebut;

2) dan atau dengan cara memperbandingkan contoh-contoh yang ada; kemudian suatu faktor ditambahkan untuk sirkulasi yang ada.

Untuk menyiapkan denah ruang yang tumpang tindih, misalnya menghubungkan satu departemen dengan departemen yang lainnya dalam suatu bangunan yang sudah ada, atau bahkan untuk menyusun komposisi pada bangunan kantor yang baru; maka perlu dipelajari hubungan kerja antar bagian dari perusahaan tersebut atau jika perlu diadakan penelitian yang lebih rinci.

2.2. PENGERTIAN PROYEK

Pengertian judul proyek untuk Tugas Akhir Konsepsi “Perancangan Ulang Kantor Pusat PT A di Surabaya” dijelaskan sebagai berikut:

Menurut Drs. Kamisa, ulang berarti: kembali; lagi; berkali-kali. Perancangan sama dengan: proses, cara, perbuatan merancang. Dan merancang diartikan: mengatur segala sesuatu (sebelum bertindak, mengerjakan, atau melakukan sesuatu), merencanakan.

Perancangan dalam konteks arsitektur, adalah semata-mata usulan pokok yang mengubah sesuatu yang sudah ada menjadi sesuatu yang lebih baik. Perancangan dapat dianggap sebagai sesuatu proses tiga bagian yang terdiri dari keadaan semula suatu metode atau proses tranformasi, dan sesuatu keadaan masa depan yang dibayangkan. Perancangan terjemahan dari design – yang dalam bentuk kata kerjanya dapat diartikan “merancang, untuk tujuan” – diartikan sebagai suatu produk perumusan keinginan atau cita-cita masa datang yang merupakan penguraian/bagian-bagian dari produk perencanaan. Sedangkan perencanaan sendiri terjemahan dari planning merupakan suatu hasil rangkaian kerja untuk merumuskan sesuatu yang didasari oleh suatu pola tindakan yang definitif, yang menurut pertimbangan yang sistematis akan dapat membawa keuntungan, tetapi dengan anggapan bahwa akan ada tindakan-tindakan selanjutnya berupa rangkaian kegiatan sistematis lainnya. Tindakan yang dirumuskan semula itu masih bersifat terbuka bagi kemungkinan adanya pilihan cara tindakan lain, dan mungkin disesuaikan apabila dianggap kurang menguntungkan pada saat tertentu. Jadi perancangan adalah kelanjutan yang berbentuk uraian atau penjabaran dari perencanaan.

Perancangan ulang terjemahan dari redesign, yang berarti tindakan merancang sekali lagi, yang sebelumnya telah ada rancangan pada suatu objek yang sama. Perancangan ulang ini dilakukan karena adanya kekurang-kekurangan pada rancangan yang lama, dan membuat rancangan baru yang diharapkan dapat lebih baik dan lebih menguntungkan.

Menurut Dhanny R. Cyssco dan Dr. Jack Dawson, pusat sama dengan center, bagian tengah. Dan menurut William D. Powell, dapat juga disamakan dengan main, yang berarti utama, besar, induk. Jadi kantor pusat dapat diartikan sebagai kantor utama atau kantor induk yang berada di bagian tengah.

PT A adalah nama perusahaan pemilik kantor tersebut. Dan Surabaya adalah nama kota tempat kantor itu berada.

Jadi Perancangan Ulang Kantor Pusat PT A di Surabaya dapat dijabarkan menjadi perumusan keinginan atau cita-cita yang didasari oleh suatu pola tindakan yang definitif, yang menurut pertimbangan yang sistematis akan dapat lebih membawa keuntungan dibandingkan rancangan sebelumnya pada objek bangunan yang dipakai untuk bekerja yang berkenaan dengan urusan administrasi dan organisasi milik PT A di suatu kota bernama Surabaya.

2.3. LOKASI DAN SITUASI TAPAK

Tapak berada di kawasan Margomulyo Permai yakni di wilayah barat Surabaya yang mulai dikembangkan dengan intensif sejak tahun 80-an. Dan sejak awal 90-an Margomulyo telah terkenal sebagai daerah industri dan pergudangan. Sejak saat itu banyak dibangun pabrik-pabrik, gudang dan area perdagangan serta area komersial lainnya. Dengan lokasi yang tidak jauh dari gerbang tol dan akses ke dermaga dan ke stasiun, serta akses ke pusat kota, membuat daerah ini cepat berkembang dan banyak diminati.

Wilayah kota Surabaya terletak pada 7,12° Lintang Selatan sampai 7,21° Lintang Selatan dan 112,36° Bujur Timur sampai 112,54° Bujur Timur. Luas wilayah 326,37 km2, terbagi dalam 5 wilayah pembantu walikota, 28 wilayah kecamatan dan 163 wilayah kelurahan. Jumlah penduduk 2.599.796 (2000), jumlah keluarga 709.991. Wilayahnya merupakan daratan rendah dengan ketinggian 3 sampai 6 meter diatas permukaan air laut, kecuali di sebelah barat-selatan yang ketinggiannya mencapai 25 sampai 50 meter diatas permukaan air laut. Lokasi tapak terhadap kawasan Margomulyo Permai terlihat pada gambar berikut:

2.4. STRUKTUR ORGANISASI PT A

PT A telah menerapkan sistem manajemen yang cukup tepat bagi organisasi perusahaannya. Dari struktur organisasi ini akan didapat semua pengguna, karakter, dan aktivitasnya berdasarkan posisi dan jabatannya.

2.5. STUDI BANDING

Kantor Pusat PT Boma Bisma Indra, Pasuruan

o Bidang usaha

Bidang usaha perusahaan ini adalah jasa perbengkelan, permesinan, dan foundry.

o Fasilitas Bangunan Perkantoran

Pintu masuk barang di bedakan dengan pintu masuk utama.

Kantor PT Jatim Taman Steel, Sidoarjo

o Bidang usaha

Bidang usaha perusahaan ini adalah jasa permesinan, foundry, dan rolling mill, perbengkelan hanya melayani kebutuhan perusahaan sendiri.

o Fasilitas Bangunan Perkantoran

Fasilitas yang terdapat pada kantor PT Jatim Taman Steel, Sidoarjo, adalah ruang-ruang kantor, ruang tamu/ruang tunggu, ruang servis, ruang rapat, laboratorium foundry. Terdapat juga ruang-ruang kantor yang menjadi satu dengan bengkel.

Setelah memarkir kendaraan, pengguna kembali melewati pos penjaga di gerbang utama. Juga terdapat kantor dan ruang laboratorium menjadi satu dengan pabrik. Kantor utama hanya untuk direksi, administrasi, dan pemasaran.

Kantor Pusat PT Bhirawa Steel, Surabaya

Setelah memarkir kendaraan, pengguna kembali melewati pos penjaga di gerbang utama. Juga terdapat kantor dan ruang laboratorium menjadi satu dengan pabrik. Kantor utama hanya untuk direksi, administrasi, dan pemasaran.

Kantor Pusat PT Bhirawa Steel, Surabaya

o Bidang usaha perusahaan ini adalah foundry, dan rolling mill.

o Fasilitas yang terdapat pada kantor pusat PT Jatim Taman Steel, Sidoarjo, adalah ruang-ruang kantor, ruang tamu/ruang tunggu, ruang servis, ruang arsip, dan ruang rapat.

o Fungsi kantor untuk pekerjaan administrasi, pemasaran, dan manajemen.

Kesimpulan Studi Banding

Berdasarkan pengamatan pada ketiga kantor tersebut dan beberapa kantor lainnya, pengertian dan fungsi perkantoran secara umum adalah sama, yakni untuk kegiatan administrasi dan keorganisasian/manajemen. Ada bagian yang privat yang merupakan kantor-kantor karyawan pada masing-masing bagian, dan bagian publik yang merupakan tempat menerima tamu. Adanya bagian publik ini, adalah terutama untuk bagian pemasaran, dan kantor direksi, yang berhubungan dengan pelanggan, serta bagian yang berhubungan dengan suplier yakni bagian pembelian atau bagian pengadaan. Bagian-bagian tersebut sesuai dengan fungsi dan pengertian perkantoran untuk PT A.

Meskipun kantor-kantor tersebut untuk kebutuhan pabrik, namun fungsinya tetap sama dengan perkantoran secara umum, seperti untuk perusahaan yang bidang usahanya tidak memerlukan pabrik, seperti kantor notaris, perbankan, atau kantor pemerintah. Untuk kantor yang berhubungan dengan pabrik masih terdapat kantor tambahan yang biasanya berada di dalam pabrik, sedangkan kantor pusatnya hanya untuk kegiatan administrasi dan manajemen, dimana seperti kantor secara umum, ada ruang yang khusus digunakan untuk tamu (publik).

2.6. KANTOR PUSAT PT A

Ruang kantor atau perkantoran bagi PT A, disebut kantor pusat karena merupakan kantor utama yang berada di tengah ruang-ruang lain yang juga digunakan untuk kantor dalam tiap-tiap pabriknya. Dengan kata lain ada kantor-kantor lain yaitu ruang yang digunakan seperti kantor namun bersifat sementara, misalnya untuk pencatatan hasil produksi dan penyimpanan gambar kerja sementara. Sedangkan kantor pusat yang merupakan obyek proyek ini adalah kantor yang digunakan untuk seluruh kegiatan administrasi dan organisasi perusahaan, tidak termasuk kantor-kantor kecil yang berada di dalam pabrik tersebut.

Kantor, bagi perusahaan ini tidak berbeda dengan pengertian kantor yang telah dijelaskan diatas. Yakni ruang yang digunakan dalam kegiatan administrasi dan keorganisasian. Jadi penjelasan di atas sudah cukup jelas untuk mengidentifikasi kantor pusat PT A sebagai obyek proyek. Kegiatan administrasi dan organisasi antara lain pengolahan dan penyimpanan data, rapat-rapat, transaksi internal dan eksternal perusahaan, penelitian dan pengembangan yang berhubungan dengan bidang usaha perusahaan, serta kegiatan pelatihan karyawan.

Berikut gambar-gambar kondisi kantor PT A yang lama. Ada beberapa masalah yang harus dibenahi, yang harus ditata dengan lebih baik pada disain yang baru.

Drs. Kamisa, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Penerbit Kartika, Surabaya, 1997.

Erns Neufert, Arsitek Data, Erlangga, Jakarta, 1989 Erns Neufert, Arsitek Data, Erlangga, Jakarta, 1989.

Erns Neufert, op.cit.

Drs. Kamisa, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Penerbit Kartika, Surabaya, 1997.

Kadarono,

Dhanny R. Cyssco dan Dr. Jack Dawson, World Dictionary: English-Indonesian/Indonesian-English, 1999, Jakarta: PT. Pustaka Delapratasa.

William D. Powell, Linguist Version 1.0, PT. Atlantis Programma Prima, 1997.

Dinas Informasi dan Komunikasi Kota Surabaya, 2003,

Peta Surabaya, 2000

Survey di PT A pada Desember 2004 sampai dengan Pebruari 2005

Dari Catatan Sekolah


Terima kasih: Duta PulsaPersewaan Alat PestaToko JilbabKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah


2009/04/15

Proyek – DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan ……………………………………………………………………………………….

Kata Pengantar …………………………………………………………………………………….

Daftar Isi ……………………………………………………………………………………………………..

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Proyek ………………………………………………………………..

1.2. Tujuan dan Sasaran …………………………………………………………………….

1.3. Batasan Proyek ………………………………………………………………………….

1.4. Sistematika Pembahasan ………………………………………………………………

BAB II TINJAUAN UMUM

2.1. Alur Perencanaan Proyek …………………………………………………………….

2.1.1. Konsultan Perencana ………………………………………………………..

2.1.2. Syarat Sebagai Konsultan Perencana ……………………………………

2.1.3. Hak, Kewajiban, Tugas, dan Wewenang Konsultan Perencana

2.1.4. Tata Kerja Konsultan Perencana …………………………………………

2.1.5. Cara Konsultan Perencana Mendapatkan Proyek …………………..

2.1.6. Kerangka Acuan Kerja (TOR)…………………………………………….

2.1.7. Pihak-Pihak Yang Terlibat pada Pekerjaan Perencanaan

2.1.8. Hubungan Kerja Antar Pihak ……………………………………………..

2.2. Konsultan Pengawas

2.2.1. Hak, Kewajiban, dan Wewenang Konsultan Pengawas …………..

2.2.2. Lingkup Pekerjaan Pengawas ……………………………………………..

2.2.3. Pelaksanaan Pengawasan Pekerjaan …………………………………….

2.3. Penyusunan Rencana Kerja dan Syarat (RKS) dalam Proyek ……………..

2.4. Peran Serta Mahasiswa dalam Proyek ……………………………………………

BAB III TINJAUAN KHUSUS

3.1. Uraian R.O.T. ARCHITECT ………………………………………………………..

3.2. Cara Mendapatkan Proyek …………………………………………………………..

3.3. Data-Data Proyek ………………………………………………………………………

3.4. Pembahasan ………………………………………………………………………………

3.4.1. Konsultan Perencana ………………………………………………………..

3.4.2. Konsultan Pengawas …………………………………………………………

BAB IV DATA DAN ANALISA ASPEK-ASPEK PERENCANAAN DAN MEKANISME PELAKSANAAN DALAM PROYEK TAHAP I

4.1. Data dan Analisa Aspek – Aspek Perencanaan Tahap I ……………………….

4.1.1. Pemilihan Design …………………………………………………………………

4.1.2. Aspek Non Fungsional …………………………………………………………

a. Aspek Budaya…………………………………………………………………….

b. Aspek Non Budaya …………………………………………………………….

4.1.3. Aspek Fungsional………………………………………………………………..

a. Aspek Sirkulasi Vertikal ……………………………………………………….

b. Aspek Sirkulasi Horizontal …………………………………………………..

c. Jaringan Infrastruktur ………………………………………………………….

d. Area Parkir ……………………………………………………………………….

e. Analisa Struktur dan Pemilihan Struktur ………………………………….

4.2. Mekanisme Pelaksanaan Proyek Tahap I…………………………………………..

4.2.1. Pemberian Gambar Bestek, Dokumen RAB dan RKS ……………

4.2.2. Pengawasan Teknik Proyek ………………………………………………

a. Pengawasan Persiapan Pekerjaan……………………………………..

b. Pengawasan Pelaksanaan Struktur ……………………………………

c. Pengawasan Pelaksanaan Utilitas ……………………………………..

4.2.3. Pengawasan Administrasi Proyek ……………………………………….

a. Penjadwalan ………………………………………………………………..

b. Pembiayaan………………………………………………………………….

c. Laporan Harian …………………………………………………………….

d. Laporan Mingguan ………………………………………………………..

e. Laporan Bulanan …………………………………………………………..

f. Berita Acara Kemajuan Pekerjaan ……………………………………

g. Pelaksanaan Rapat …………………………………………………………

BAB V DATA DAN ANALISA ASPEK – ASPEK PERENCANAAN DALAM PROYEK TAHAP II

5.1. Pemilihan Design …………………………………………………………………………

5.2. Aspek Non Fungsional …………………………………………………………………

5.2.1 Aspek Budaya…………………………………………………………………….

5.2.2. Aspek Non Budaya ……………………………………………………………

5.3. Aspek Fungsional………………………………………………………………………..

5.3.1. Aspek Sirkulasi Vertikal ………………………………………………………

5.3.2. Aspek Sirkulasi Horizontal……………………………………………………

5.3.3. Jaringan Infrastruktur …………………………………………………………..

5.3.4. Area Parkir ……………………………………………………………………….

5.3.5. Analisa struktur dan pemilihan struktur…………………………………….

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan ……………………………………………………………………………….

6.2. Saran ……………………………………………………………………………………….

Dari Catatan Sekolah

Mendukung Stop Dreaming Start Action


Terima kasih: Duta PulsaPersewaan Alat PestaToko JilbabKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah


Tag: ,
2009/01/19

TINJAUAN UMUM

TINJAUAN UMUM

2.1. Alur Perencanaan Proyek

2.1.1. Konsultan Perencanaan

Secara umum suatu perencanaan yang baik paling tidak harus dapat memberikan jawaban terhadap pertanyaan apa, mengapa, di mana, kapan, siapa, dan bagaimana terhadap suatu proyek yang akan menjadi objek perencanaan.

Ada tiga hal dalam perencanaan yaitu:

1. memilih.

2. memikirkan secara mendetail untuk memutuskan apa yang harus dilakukan.

3. menetapkan sasaran dan menjabarkan cara untuk mencapai sasaran tersebut.

 

2.1.2. Hak, Kewajiban, Tugas, dan Wewenang Konsultan Perencana

Menurut IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) dan keputusan Dirjen Cipta Karya 1991 mengenai hubungan kerja antara arsitek dan pemberi tugas, perencana mempunyai beberapa hak antara lain:

Ø Perencana berhak menerima imbalan jasa sesuai dengan peraturan.

Ø Perencana berhak menolak segala bentuk penilaian estetis dan hasil rancangan baik yang dilakukan oleh pengawas maupun pemberi tugas.

Ø Perencana berhak mengembalikan tugas yang diberikan dengan alasan-alasan sebagai berikut :

a. Pertimbangan individu

b. Adanya kekuasaan di luar kedua belah pihak

c. Akibat kelalaian pemberi tugas

Kewajiban perencana menurut aturan dari IAI adalah :

1. Arsitek berkewajiban menanggung yang diderita oleh pemberi tugas sebagai akibat langsung dari kesalahan yang dibuat, yang dapat dihindari dengan keahlian serta tata cara pelaksanaan yang lazim.

2. Arsitek berkewajiban untuk menanggung semua akibat segala pekerjaan apabila kesalahan tersebut dilakukan oleh arsitek secara sengaja.

Adapun tugas konsultan perencana berdasarkan acuan dari pedoman kerja antara arsitek dengan pemberi tugas, dalam SK Dirjen Cipta Karya No. 5/KPTS/CK 1984 dijelaskan bahwa tugas perencana mencakup beberapa lingkup pekerjaan, antara lain :

1. Lingkup Pekerjaan Pokok

a. Pembuatan sketsa gagasan rancangan pelaksanaan detail lengkap.

b. Pembuatan uraian dan syarat pekerjaan yang mencakup uraian umum dan syarat administratif serta teknis.

c. Penyusunan rancangan anggaran biaya.

d. Turut mengawasi dan menyeleksi proses pelelangan.

 

 

2. Lingkup Pekerjaan Pelengkap

Lingkup pekerjaan pelengkap adalah pekerjaan yang mungkin dilakukan dalam keadaan tertentu untuk mendukung perencanaan, yaitu:

a. Pembuatan maket dan gambar perspektif.

b. Penyelidikan tanah.

c. Penelitian dan pemetaan tapak.

d. Pencarian dan pengadaan data.

3. Lingkup Kerja Khusus

Merupakan pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus di luar bidang arsitektural. Seperti perhitungan konstruksi beton bertulang, konstruksi baja, instalasi listrik, dan pekerjaan lainnya.

Adapun wewenang konsultan perencanaan adalah :

1. Mengubah rancangan bangunan

Perencanaan secara tertulis mempunyai wewenang untuk memerintahkan pemborong memulai pengawasan terpadu dan mengadakan perubahan.

2. Melakukan pekerjaan tambahan

Perencana juga mempunyai wewenang untuk segera memerintahkan pemborong memulai pengawasan terpadu agar melakukan persetujuan terlebih dahulu dari pemberi tugas asal sesuai dengan jumlah biaya dalam pos pekerjaan tak terduga. Pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang tidak tercantum dalam uraian syarat-syarat serta tidak secara tegas disimpulkan dalam gambar-gambar arsitektural.

3. Menilai pembayaran angsuran kontraktor

Perencana berwenang menilai berdasarkan prestasi pekerjaan pada hari pemeriksaan sehingga pemborong berhak atau tidak untuk menerima seluruh atau sebagian pembayaran.

 

2.1.3. Syarat Sebagai Konsultan Perencana

Sesuai dengan keputusan yang tercantum pada KEPRES No. 29 Tahun 1984 untuk disebut sebagai pihak konsultan perencana, maka harus memenuhi syarat-syarat administratif dan teknis.

1. Adapun syarat administratif sebagai berikut :

a. Memiliki akte notaris yang berisi tentang kepemilikan modal, bentuk badan hukum serta organisasi.

b. Memiliki Surat Ijin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK).

c. Memiliki Nomor Wajib Pajak (NPWP).

d. Terdaftar pada panitia pengadilan atau departemen kehakiman (tergantung bentuk usahanya).

e. Terdaftar pada badan perencana.

Untuk terdaftar pada DPU Propinsi Daerah Tingkat I (bidang Cipta Karya) suatu konsultan harus memenuhi :

a) Mengisi formulir dan dokumen pendaftaran dengan lampiran-lampiran :

Ø Akte pendirian.

Ø SIUJK.

Ø NPWP.

Ø Mempunyai referensi bank.

b). Bukti-bukti administratif

Ø Pimpinan perusahaan atau cabang.

Ø Menyanggupi untuk bertanggung jawab kepada semua hasil perencanaan itu sendiri.

2. Syarat teknis

a. <!-Memenuhi persyaratan tenaga-tenaga dalam bidang teknik pembangunan yang dapat dibuktikan dalam ijazah keahlian, pengalaman, dan referensi dari ahli perusahaan.

b. Memiliki nama perusahaan, persyaratan terdaftar pada Dirjen Cipta Karya tersebut, umumnya hanya untuk bangunan-bangunan swasta biasanya atas kepercayaan pemberi tugas dan diperkuat dengan bukti :

Ø SIUJK

Ø Referensi bank

Ø Referensi pengalaman kerja

 

2.1.4. Tata Kerja Konsultan Perencana

Memberikan pedoman kerja untuk menjabarkan lebih lanjut menjadi suatu konsep dasar untuk ditransformasikan menjadi gambar rencana skematik, di mana pada tahap ini sudah dipikirkan tentang masalah arsitektural, struktural, utilitas, dan lain-lain. Pada tahap konsep dasar yang sebelumnya telah didahului oleh feasibility study dan juga masalah lokasi yang strategis.

Setelah tahap konsep dasar disetujui, maka dibuatlah RAB oleh tim estimasi, mengenai jenis arsitektural dan strukturalnya, kemudian dibuatlah preliminary design. Sementara itu detail bangunan dan segala alternatif yang terbaik dapat dirancang dan dipilih.

2.1.5. Hubungan Kerja Antar Pihak

Hubungan kerja antara pemilik proyek dengan perencana dilakukan secara tertulis. Seperti yang tercantum dalam surat perjanjian pekerjaan perancangan yang dibuat sesudahnya. Berisi antara lain :

a. Hari dan tanggal perjanjian pekerjaan perencanaan dilakukan.

b. Kedudukan pemberian tugas dan perencana.

c. Macam dan ruang lingkup pekerjaan.

d. Jangka waktu penyelesaian pekerjaan.

e. Peraturan-peraturan yang dijadikan landasan dalam pembayaran.

f. Sanksi yang diberikan atas keterlibatan antara pemberi tugas dan perencana.

g. Cara penyelesaian apabila terjadi kesalahan antara pemberi tugas dengan konsultan perencana.

 

2.1.6. Pihak-Pihak yang Terlibat Pada Pekerjaan Perencanaan

Suatu proyek merupakan suatu lingkup pekerjaan dan organisasi yang sangat kompleks susunannya terdapat bagian yang masing-masing merupakan ahli dalam bidangnya. Pembagian semacam ini adalah bertujuan untuk menciptakan suatu mekanisme kerja yang teratur dan rapi sehingga pelaksanaan proyek tersebut dapat berlangsung dengan lancar. Adapun pihak yang terlibat dalam pekerjaan ini adalah sebagai berikut :

1. Pemberi Tugas

Adalah seseorang atau badan hukum, baik itu swasta maupun pemerintah yang mempunyai gagasan untuk membuat suatu bangunan serta menyampaikan keinginannya pada seorang ahli bangunan untuk merencanakan apa yang dikehendaki serta besarnya biaya yang diperlukan dalam proyek tersebut.

2. Konsultan Perencana

Adalah seseorang atau badan hukum sebagai pihak yang menerima tugas dari pemilik proyek untuk merencanakan dan memberikan penjelasan yang tertuang dalam bentuk gambar rencana dalam batas yang telah ditentukan baik itu secara teknis maupun administratif.

Adapun pihak yang bergabung dalam konsultan perencana ini meliputi bidang keahlian khusus, seperti :

Ø Arsitektural.

Ø Struktur dan konstruksi.

Ø Mekanikal dan elektrikal.

 

2.1.7. Cara Konsultan Perencana Mendapatkan Proyek

Secara umum konsultan perencana untuk mendapatkan pekerjaan dari Bouwer (pemilik proyek), antara lain :

a. Berdasarkan Pada Petunjuk Langsung

Konsultan perencana diundang langsung oleh pemilik proyek (bouwer) dalam hal ini ada beberapa pertimbangan yang mendorong pemilik proyek yang mengadakan kerjasama yaitu berdasarkan pada pengalaman kerja yang telah dilakukan oleh kedua belah pihak, prestasi kerja, atau atas referensi dan masukkan dari pihak lain tentang konsultan yang bersangkutan. Selanjutnya perencana menerima Kerangka Acuan Kerja (TOR) dari pemberi tugas sebagai acuan dan pedoman untuk pekerjaan perencanaan. Setelah menerima TOR, maka konsultan perencana membuat usulan Pra Rencana sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Pra Rencana ini meliputi :

a. Konsep perencanaan.

b. Design awal (denah, tampak).

c. Usulan penawaran biaya (fee) perencanaan.

Kemudian usulan design dipresentasikan kepada pemberi tugas, di mana dalam tahap ini konsultan perencana akan mendapatkan koreksi atau langsung disetujui. Apabila belum disetujui, maka konsultan harus mengadakan revisi terhadap pra rencana yang diusulkan. Setelah usulan pra rencana disetujui, maka pemberi tugas memberikan surat perintah (SPK) sebagai dasar konsultan perencana untuk melakukan kerja sepenuhnya.

b. Berdasarkan Lelang Terbuka

Proyek yang akan ke konsultan perencana oleh pemilik proyek diumumkan baik itu melalui media massa maupun dengan cara-cara lain yang lazim dilakukan untuk memberitahukan kepada semua konsultan perencana. Dalam hal ini semua konsultan yang sesuai klasifikasinya dan sudah memenuhi syarat sebagai rekanan pemilik proyek mengirimkan dokumen sebagai peserta lelang. Pemilik proyek kemudian mengundang konsultan yang mendaftar dan memenuhi syarat untuk mengambil lelang dan TOR. Kemudian peserta lelang dalam batas waktu tertentu membuat usulan pra rancangan dan penawaran fee perencanaan. Bouwer akan meyeleksi dan memanggil konsultan yang dianggap mengajukan usulan terbaik dalam hal ini design maupun harga fee perencanaan. Bila semua sudah disetujui maka pemberi tugas akan menerbitkan surat perintah kerja (SPK) yang berarti konsultan perencana berhak untuk melakukan perencanaan dan wajib tunduk terhadap segala ketentuan pada SPK.

 

c. Berdasarkan Pada Lelang Terbatas

Pada prinsipnya hampir sama dengan lelang terbuka hanya saja diundang beberapa konsultan perencana saja. Hal ini bertujuan untuk memudahkan proses penentuan konsultan dengan catatan rekanan yang diundang sudah diketahui reputasinya.

 

2.1.8. Kerangka Acuan Kerja (TOR)

Kerangka Acuan Kerja (TOR) merupakan pedoman persyaratan dan acuan pekerjaan perencanaan atau perancangan suatu proyek pembangunan. TOR berfungsi sebagai pegangan bagi semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan proyek ini khususnya bagi konsultan perencana agar design yang dihasilkan sesuai dengan tujuan utama yang diadakan proyek tersebut. Hal-hal yang terdapat di dalam TOR antara lain :

Ø Data dan informasi penting sebagai masukan.

Ø Ketentuan khusus mengenai sasaran atau objektif.

Ø Kriteria.

Ø Batasan / constrain.

Ø Keluaran yang harus dipenuhi.

 

2.2.Konsultan Pengawas

Yang di maksud dengan konsultan pengawas adalah badan yang ditunjuk oleh pemimpin proyek setelah melalui seleksi konsultan dengan mengajukan usulan kerja, melakukan tugas dan tanggung jawab seperti yang telah dituangkan dalam kontrak atau perjanjian kerja pengawasan dan bertanggung jawab kepada pimpinan proyek.

 

2.2.1. Hak,Kewajiban, dan Wewenang Konsultan Pengawas

Hak konsultan pengawas :

1) Mengambil keputusan dalam memecahkan masalah yang timbul dalam proyek.

2) Menghentikan pekerjaan dan pengadaan klien terhadap hal yang tidak sesuai dengan rencana.

3) Melakukan penundaan dan pengadaan klien terhadap hal yang tidak memenuhi ketentuan dalam kontrak.

4) Memperbaiki kesalahan rencana pekerjaan maupun gambar.

 

Kewajiban dan tugas konsultan pengawas :

1. Pengolahan dan pengawasan mencakup

Ø Pengesahan sub kontraktor dan sub pemborong meliputi kemampuan teknis, keuangan, dan administrasi yang bersangkutan.

Ø Menetapkan, menyediakan, dan mengkoordinir tenaga ahli yang khusus.

Ø Meminta keputusan arsitek perencana yang menyangkut perubahan arsitektural yang perlu dilakukan.

Ø Meminta penjelasan mengenai hal-hal yang kurang jelas dalam rancangan dan perencanaan.

2. Pengawasan administrasi

Ø Menyelenggarakan surat-menyurat yang berkaitan dengan pelaksanaan proyek.

Ø Membuat laporan berkala mengenai kegiatan pembangunan kepada pemberi tugas.

Ø Mencatat dan menghitung pekerjaan ataupun pengurangan pekerjaan.

3. Pengawasan teknik

Menjalankan pelaksanaan kualitas, bahan, peralatan, tenaga, hasil pekerjaan, waktu, serta cara-cara pelaksanaan sesuai dengan perjanjian pemborong.

Wewenang konsultan pengawas :

1. Meminta kontraktor untuk mengadakan pengetesan terhadap bahan dan peralatan.

2. Melakukan penilaian prestasi kerja kontraktor.

3. Membatalkan pembelian dan mencabut pekerjaan dari tangan pemborong, menyerahkan persetujuan pekerjaannya pada pemborong lain tanpa pemberitahuan kepada pemilik proyek.

4. Memberitahukan persetujuan, menolak atau mengadakan perubahan terhadap rencana kerja yang telah dibuat kontraktor.

5. Membatalkan contoh bahan apabila tidak sesuai dengan apa yang diminta.

 

2.2.2. Lingkup Pekerjaan Pengawas

1. Time schedule pekerjaan

Pada suatu proyek, pihak pengawas diberikan waktu oleh pemilik proyek untuk menyelesaikan proyek dalam waktu yang telah ditentukan. Untuk dapat mengendalikan serta mengontrol suatu proyek ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya,maka dibuat time schedule dan diagram kurva S.

Time schedule merupakan rencana waktu yang digunakan untuk memulai kegiatan pembangunan sampai bangunan tersebut selesai dibangun, di mana ini menjadi pedoman bagi kontraktor dalam melaksanakan pekerjaan sehari-harinya agar pekerjaan berjalan lancar dan efisien.

Data yang diperlukan untuk menyusun time schedule adalah sebagai berikut :

Ø Gambar konstruksi dan arsitekturnya.

Ø Peraturan dan syarat sesuai bestek.

Ø Situasi proyek.

Ø Waktu yang tersedia.

Ø Jenis pekerjaan.

Ø Material dan alat yang tersedia serta jumlah tenaga kerja dan ahlinya.

Data pelaksanaannya memiliki dua time schedule yang didalamnya terdapat diagram kurva S :

1. Diagram kurva S rencana, yaitu diagram kurva S dari prosentase pekerjaan yang direncanakan untuk dicapai setiap minggunya.

2. Diagram kurva S pelaksanaan, yaitu diagram kurva S dari prosentase pekerjaan yang dilaksanakan setiap minggunya.

Faktor yang harus diperhatikan dalam menyusun time schedule, yaitu :

1. Kemampuan untuk kebutuhan tenaga manusia.

2. Peralatan dan fasilitas.

3. Urut-urutan pekerjaan dan waktu pelaksanaan.

4. Material yang dibutuhkan.

5. Biaya yang tersedia.

6. Man power schedule.

Adapun tujuan dari pembuatan time schedule adalah :

1. Untuk mencapai waktu pelaksanaan yang telah diatur dengan efektif dan efisien.

2. Untuk mencapai urut-urutan pekerjaan dan penyediaan tenaga dan bahan secara sistematis.

3. Untuk mencapai hasil fisik.

Sedangkan fungsi time schedule adalah :

1. Sebagai pegangan bagi kontraktor.

2. Sebagai sarana pengaturan pelaksanaan pekerjaan.

3. Sebagai sarana pengontrol / pengendali terhadap pencapaian prestasi dan penentuan sanksi.

 

2.2.3. Pelaksanaan Pengawasan Pekerjaan

Pelaksanaan pengawasan pekerjaan pada suatu proyek adalah sebagai berikut :

1. Pengawasan pelaksanaan pekerjaan konstruksi dari segi kualitas, kuantitas, serta laju pencapaian volume.

2. Mengawasi pekerjaan serta produknya.

3. Mengawasi ketepatan waktu dan biaya konstruksi.

4. Mengusulkan perubahan-perubahan serta penyesuaian di lapangan untuk memecahkan permasalahan yang timbul selama pekerjaan konstruksi.

5. Menyelenggarakan rapat-rapat di lapangan secara berkala.

6. Menyusun dan mengevaluasi daftar kekurangan-kekurangan dan cacat pekerjaan selama masa pemeliharaan.

7. Mengkoordinasi pengadaan dua set gambar sesuai dengan pelaksanaan di lapangan yang disiapkan oleh kontraktor.

Selanjutnya tentang tinjauan umum suatu pelaksanaan proyek yang meliputi :

1. Pengertian proyek.

2. Pendanaan proyek.

3. Tahapan pelaksanaan proyek.

4. ]–>Pihak yang terkait dalam proyek.

5. Manajemen konstruksi.

6. Kontraktor / pelaksana.

7. Pengawasan.

 

2.3.Penyusunan RKS dalam Proyek

Penyusunan rencana kerja dan syarat (RKS) merupakan penjelasan tertulis perencanaan secara keseluruhan yang meliputi :

a. Keterangan mengenai pekerjaan.

b. Keterangan mengenai pemberian tugas.

c. Keterangan mengenai perancang.

d. Keterangan mengenai pengawas bangunan.

 

2.4.Peran Serta Mahasiswa dalam Proyek

Dari Catatan Kuliah

 

 

 

Tag:
2008/01/17

Perkantoran dan Proyek

TEORI PERKANTORAN

Pengertian Perkantoran

Menurut Drs. Kamisa, kantor berarti: bangunan yang dipakai untukKain Amarta , Cantik Ok, Menawan dengan harga murah meriah, grosir dapat super diskon, diskon besar, mega diskon bekerja yang berkenaan dengan urusan administrasi. Menurut Erns Neufert, bahwa didalam bangunan perkantoran pekerjaan utamanya adalah dalam kegiatan penanganan informasi dan kegiatan pembuatan maupun pengambilan keputusan berdasarkan informasi tersebut. Jadi perkantoran adalah bangunan yang digunakan untuk pekerjaan administrasi dan manajerial.

Rancangan Perkantoran

Umumnya pemakai ruang kerja perkantoran tidak perlu berpindah-pindah, karena telah dilengkapi dengan ruang untuk mesin-mesin, kantin, ruang rapat, arsip, perpustakaan dan aktivitas penunjang lainnya.

Perkantoran umumnya dapat dirancang dengan menciptakan hubungan antar ruang yang tepat sesuai dengan bagian-bagian pengorganisasian. Dapat pula mengurangi jarak capai antar ruang vertikal maupun horizontal. Begitu juga dalam upaya visual antar bagian dengan menciptakan hubungan yang akrab. Bentuk bangunan lainnya dapat pula digunakan untuk memperjelas keadaan ini, yakni dengan menata bagian-bagian komponen bebas, misalnya perabot, secara maksimal.

Kebutuhan ruang kantor dapat dihitung dengan menggunakan dua cara bersamaan, yakni:

1) ruang gerak orang (misalnya standar ruang perorangan x jumlah orang) + ruang tambahan untuk sarana penunjang + faktor (biasanya 15 %) untuk sirkulasi utama; ruang bebas untuk bukan orang, misalnya untuk ruang mesin, perpustakaan, dimana lebih tergantung pada banyaknya peralatan dibandingkan jumlah orang yang membutuhkan ruang kerjanya, sehingga untuk menghitungnya dapat digunakan dasar pemikiran praktis dari benda-benda tersebut;

2) dan atau dengan cara memperbandingkan contoh-contoh yang ada; kemudian suatu faktor ditambahkan untuk sirkulasi yang ada.

Untuk menyiapkan denah ruang yang tumpang tindih, misalnya menghubungkan satu departemen dengan departemen yang lainnya dalam suatu bangunan yang sudah ada, atau bahkan untuk menyusun komposisi pada bangunan kantor yang baru; maka perlu dipelajari hubungan kerja antar bagian dari perusahaan tersebut atau jika perlu diadakan penelitian yang lebih rinci.

 

PENGERTIAN PROYEK

Pengertian judul proyek untuk Tugas Akhir Konsepsi “Perancangan Ulang Kantor Pusat PT Asian Profile Indosteel di Surabaya” dijelaskan sebagai berikut:

Menurut Drs. Kamisa, ulang berarti: kembali; lagi; berkali-kali. Perancangan sama dengan: proses, cara, perbuatan merancang. Dan merancang diartikan: mengatur segala sesuatu (sebelum bertindak, mengerjakan, atau melakukan sesuatu), merencanakan.

Perancangan dalam konteks arsitektur, adalah semata-mata usulan pokok yang mengubah sesuatu yang sudah ada menjadi sesuatu yang lebih baik. Perancangan dapat dianggap sebagai sesuatu proses tiga bagian yang terdiri dari keadaan semula suatu metode atau proses tranformasi, dan sesuatu keadaan masa depan yang dibayangkan. Perancangan terjemahan dari design – yang dalam bentuk kata kerjanya dapat diartikan “merancang, untuk tujuan” – diartikan sebagai suatu produk perumusan keinginan atau cita-cita masa datang yang merupakan penguraian/bagian-bagian dari produk perencanaan. Sedangkan perencanaan sendiri terjemahan dari planning merupakan suatu hasil rangkaian kerja untuk merumuskan sesuatu yang didasari oleh suatu pola tindakan yang definitif, yang menurut pertimbangan yang sistematis akan dapat membawa keuntungan, tetapi dengan anggapan bahwa akan ada tindakan-tindakan selanjutnya berupa rangkaian kegiatan sistematis lainnya. Tindakan yang dirumuskan semula itu masih bersifat terbuka bagi kemungkinan adanya pilihan cara tindakan lain, dan mungkin disesuaikan apabila dianggap kurang menguntungkan pada saat tertentu. Jadi perancangan adalah kelanjutan yang berbentuk uraian atau penjabaran dari perencanaan.

Perancangan ulang terjemahan dari redesign, yang berarti tindakan merancang sekali lagi, yang sebelumnya telah ada rancangan pada suatu objek yang sama. Perancangan ulang ini dilakukan karena adanya kekurang-kekurangan pada rancangan yang lama, dan membuat rancangan baru yang diharapkan dapat lebih baik dan lebih menguntungkan.

Menurut Dhanny R. Cyssco dan Dr. Jack Dawson, pusat sama dengan center, bagian tengah. Dan menurut William D. Powell, dapat juga disamakan dengan main, yang berarti utama, besar, induk. Jadi kantor pusat dapat diartikan sebagai kantor utama atau kantor induk yang berada di bagian tengah.

PT Asian Profile Indosteel adalah nama perusahaan pemilik kantor tersebut. Dan Surabaya adalah nama kota tempat kantor itu berada.

Jadi Perancangan Ulang Kantor Pusat PT Asian Profile Indosteel di Surabaya dapat dijabarkan menjadi perumusan keinginan atau cita-cita yang didasari oleh suatu pola tindakan yang definitif, yang menurut pertimbangan yang sistematis akan dapat lebih membawa keuntungan dibandingkan rancangan sebelumnya pada objek bangunan yang dipakai untuk bekerja yang berkenaan dengan urusan administrasi dan organisasi milik PT Asian Profile Indosteel di suatu kota bernama Surabaya.

 

LOKASI DAN SITUASI TAPAK

Tapak berada di kawasan Margomulyo Permai yakni di wilayah barat Surabaya yang mulai dikembangkan dengan intensif sejak tahun 80-an. Dan sejak awal 90-an Margomulyo telah terkenal sebagai daerah industri dan pergudangan. Sejak saat itu banyak dibangun pabrik-pabrik, gudang dan area perdagangan serta area komersial lainnya. Dengan lokasi yang tidak jauh dari gerbang tol dan akses ke dermaga dan ke stasiun, serta akses ke pusat kota, membuat daerah ini cepat berkembang dan banyak diminati.

Lokasi Margomulyo Permai dijelaskan pada gambar berikut:

MARGOMULYO PERMAI

Gambar 2.1. Lokasi Kawasan Margomulyo Permai Terhadap Kota Surabaya

Wilayah kota Surabaya terletak pada 7,12° Lintang Selatan sampai 7,21° Lintang Selatan dan 112,36° Bujur Timur sampai 112,54° Bujur Timur. Luas wilayah 326,37 km2, terbagi dalam 5 wilayah pembantu walikota, 28 wilayah kecamatan dan 163 wilayah kelurahan. Jumlah penduduk 2.599.796 (2000), jumlah keluarga 709.991. Wilayahnya merupakan daratan rendah dengan ketinggian 3 sampai 6 meter diatas permukaan air laut, kecuali di sebelah barat-selatan yang ketinggiannya mencapai 25 sampai 50 meter diatas permukaan air laut.  Lokasi tapak terhadap kawasan Margomulyo Permai terlihat pada gambar berikut:

 

Gambar 2.2. Lokasi Tapak terhadap Kawasan Margomulyo Permai


. Drs. Kamisa, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Penerbit Kartika, Surabaya, 1997.

3. Erns Neufert, Arsitek Data, Erlangga, Jakarta, 1989

Erns Neufert, Arsitek Data, Erlangga, Jakarta, 1989.

Erns Neufert, op.cit.

Drs. Kamisa, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Penerbit Kartika, Surabaya, 1997.

Kadarono,

Dhanny R. Cyssco dan Dr. Jack Dawson, World Dictionary: English-Indonesian/Indonesian-English, 1999, Jakarta: PT. Pustaka Delapratasa.

William D. Powell, Linguist Version 1.0, PT. Atlantis Programma Prima, 1997.

Dinas Informasi dan Komunikasi Kota Surabaya, 2003,

Tag: ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.955 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: