Forum Positif

Belajar berbagi hal-hal positif

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Renungan’

Pedagang yang Budiman

Ditulis oleh dahlanforum di/pada Mei 8, 2009

Sera adalah seorang pedagang keliling. Ia ramah dan selalu gembira. Sambil menyusuri jalan ia menjajakan barang jualannya, “Barang bagus! Barang bagus! Siapa mau beli? Siapa mau beli?”

Sera senang jika ibu-ibu mau membelikan anak-anak mereka barang yang bagus. Hatinya puas melihat anak-anak tersenyum bahagia. Suatu hari, saat Sera sedang menyusuri jalan, ia melihat pedagang keliling lain bernama Taro.

“Pergi Sera!” seru Taro marah. “Ini jalanku! Aku lebih dulu berada di jalan ini! Kau boleh berdagang di sini setelah aku pergi!”

Sera segera pindah ke jalan lain. Taro mengetuk pintu rumah pertama.

Seorang gadis kecil membuka pintu.

“Oh, Nenek!” katanya. “Maukah Nenek membelikanku sesuatu?”

“Kita tidak punya uang,” kata Nenek. “Tapi coba tanya pedagang itu. Apa dia mau menukar barang yang kamu suka dengan kendi hitam kita?”

Ketika si gadis keluar, ia memperlihatkan kendi hitam pada Taro. Taro mengamati lalu membuat goresan kecil pada kendi itu. Ia sangat terkejut, ternyata kendi hitam itu terbuat dari emas. Timbul ide liciknya. Wanita tua ini tidak tahu kendinya terbuat dari emas. Akan kukatakan kendi ini jelek. Lantas aku pergi.

Nanti aku kembali dan membelinya dengan harga yang sangat murah. Begitu pikir Taro. Lalu ia berkata,

“Kendi ini tidak bagus!” Setelah mengembalikan kendi pada gadis, ia segera pergi.

Tak lama kemudian, Sera melewati jalan itu. “Barang bagus!” serunya. “Siapa mau beli? Siapa mau beli?”

Saat gadis kecil itu melihat Sera, ia berkata, “Nenek, boleh aku bertanya ke pedagang itu? Mungkin dia mau menukar barang yang kubutuhkan dengan kendi ini…”

“Kata pedagang yang tadi kendi ini jelek,” sahut Nenek. “Tapi coba tanya pada pedagang ini.”

Gadis kecil itu memanggil Sera. “Maukah Bapak menukar kendi nenekku dengan barang bagus yang kubutuhkan?”

Sera mengamati kendi itu. Ia melihat goresan yang telah dibuat oleh Taro.

“Nyonya!” katanya pada si Nenek. “Kendi ini terbuat dari emas!”

Nenek memandang dengan takjub. “Tetapi kata pedagang yang tadi, kendi ini tidak bagus!” sahutnya.

“Oh tidak,” kata Sera. “Kendi ini terbuat dari emas. Aku akan membayar dengan semua uangku yang ada. Lalu aku akan kembali membawa uang lebih banyak.”

Ia tersenyum pada gadis kecil itu. “Gadis kecil, ambillah beberapa barang yang kamu mau,” katanya.

Setelah Sera pergi, datanglah Taro si pedagang pertama tadi. Ia berkata, “Aku telah berjalan jauh. Tapi aku teringat pada cucumu yang ingin barang daganganku.

Aku akan memberi beberapa yang ia mau. Tukarlah dengan kendi hitam tua milikmu.”

Nenek lalu menceritakan apa kata Sera tentang kendi tuanya. “ia memberi kami uang banyak. Nanti ia akan kembali membawa uang lebih banyak.”

“Uang lebih banyak?” seru Taro kecewa. “Dia harus memberiku uang juga.

Bagaimanapun, aku yang pertama melihat kendi itu!” Taro terus bersungut-sungut.

Gadis kecil dan neneknya hanya tersenyum geli melihatnya. Mereka bersyukur bertemu Sera si pedagang yang jujur.

Besoknya, Sera berhasil menjual kendi dengan harga tinggi. Ia membayar lebih banyak pada Nenek. Saat pulang, ia berkata pada istrinya, “Aku telah melakukan yang terbaik untuk kendi itu. Aku telah melakukan yang terbaik, sangat baik.”

“Apakah kamu akan kaya?” tanya istrinya.

“Benar,” kata Sera. “Aku merasa kaya sekarang, karena bisa memberikan sesuatu kepada orang yang tidak mampu. Mampu membantu orang lain yang kesusahan, membuatku merasa sangat bahagia…”

(Diterjemahkan Oleh Tututha, dari Some Pretty Little Thing)

Sumber: Bobo, 19 April 2007

Dari Buku Sekolah


Terima kasih: Duta PulsaPersewaan Alat PestaToko JilbabKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah


Ditulis dalam Artikel, Cerita, Renungan | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

Kebiasaan Menentukan Masa Depan

Ditulis oleh dahlanforum di/pada April 16, 2009

Brent Vouri tahu bahwa ia akan segera berpulang…

Serangan asma hebatnya telah menjadi semakin parah menjadi gejala tertekannya pernafasan setelah ia dewasa. Sederhananya, paru-parunya telah sepenuhnya dicengkeram, persis seperti mesin mobil ketika kehabisan bensin.

Hal terakhir yang diingatnya malam itu adalah lantai rumah sakit yang segera menghantamnya, lalu segalanya gelap. Komanya berlangsung selama 15 hari, dimana bobotnya turun 40 pon. Ketika akhirnya ia siuman, ia tidak mampu berbicara selama 2 minggu berikutnya. Itu baik, sebab untuk pertamakalinya dalam bertahun-tahun, ia jadi sempat berpikir. Mengapakah kehidupan hampir-hampir menguap, padahal usianya baru 20 tahun? Para dokter telah luarbiasa berhasil mempertahankan nyawanya, sebab yang lain sudah putus asa.

Brent merenung dalam-dalam. Asma telah menjadi bagian dari kehidupannya semenjak lahir. Ia terkenal di rumahsakit setelah beberapakali dirawat untuk menstabilkan kondisinya. Walaupun energinya banyak sekali ketika masih kecil, ia tidak pernah dapat berpartisipasi dalam kegiatan fisik apapun seperti anak-anak sebayanya, seperti main sepatu roda atau hockey. Di usia 10 tahun, orangtuanya bercerai dan semua frustasinya yang terpendam akhirnya meledak. Beberapa tahun berikutnya merupakan spiral kemerosotan yang menuntun kepada narkoba, dimana ia bisa menghabiskan 30 batang rokok dalam seharinya.

Ia tidak lulus sekolah dan secara tak terarah terus pindah kerja. Walaupun kesehatannya terus semakin parah, ia memilih mengabaikannya – hingga malam yang naas itu, ketika tubuh mengatakan, “cukup sudah!”. Sekarang sempat merenung, ia sampai kepada kesimpulannya maha penting: “Semuanya ini adalah akibat ulahku sendiri lewat pilihan-pilihan yang buruk”. Tekad barunya adalah, “Cukup sudah! Aku mau hidup!”.

Secara bertahap Brent semakin kuat dan ujung-ujungnya dibebaskan dari rumah sakit. Tidak lama setelah itu, ia petakan rencana permainan yang positif untuk meningkatkan kehidupannya. Pertama ia mendaftarkan diri dalam sebuah program kebugaran. Salah satu sasaran awalnya adalah untuk memenangkan sebuah t-shirt untuk menyelesaikan 12 sesi. Dan ia berhasil. Tiga tahun kemudian ia sudah mengajar aerobik. Momentumnya terus melaju. Lima  tahun setelah itu ia berkompetisi dalam national Aerobics Championships. Sementara itu, ia memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya- pertama, menyelesaikan sekolah menegahnya lalu kuliah.

Berikutnya, ia dengan seorang temannya mendirikan usaha manufaktur, Typhoon Sportwear Ltd, yang secara khusus memproduksi pakaian olahraga untuk kelompok eceran. Mulai dengan karyawan hanya 4 orang, perusahaannya baru-baru ini merayakan hari ulangtahunnya yang ke-15.

Sekarang usahanya sudah bernilai multi-jutaan dolar dengan karyawan 66 orang serta jaringan  distribusi international yang memasok klien-klien berprofile tinggi seperti Nike. Dengan memutuskan untuk mengambil pilihan-pilihan yang lebih baik serta menciptakan kebiasaan-kebiasaan yang lebih baik, Brent Vouri mengubah kehidupannya- dari yang sebelumnya nol, menjadi pahlawan.

Dikutip dari The Power of Focus – Mark Victor Hansen

Mendukung Stop Dreaming Start Action


Terima kasih: Duta PulsaPersewaan Alat PestaToko JilbabKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah


Ditulis dalam Pengembangan Diri, Renungan, Sukses | Bertanda: , , | 2 Komentar »

MEMBANGUN PERILAKU ISLAMI

Ditulis oleh dahlanforum di/pada Maret 17, 2009

MEMBANGUN PERILAKU ISLAMI

Zaman reformasi memang mendambakan perubahan dari zaman sebelumnya. Sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW dulu membawa umatnya dari zaman jahiliyah ke zaman pencerahan dan mengentas dari kegelapan. Apakah pemimpin kita sekarang ini sudah mencontoh Rasul itu? ‘Jauh panggang dari api’, begitu pepatah Melayu bertutur. Banyak yang berkhianat, tidak menepati janji, menusuk dari belakang dan istilah sekarang memutar balik fakta dan memelintir opini.

Ini ada kisah Rasul yang berjanji dengan sobatnya bernama Abdullah bin Abdul Haitsma. Kedua insan ini berjanji bertemu di suatu tempat yang sudah ditentukan waktunya. Ternyata Abdullah lalai dan lupa. Tiga hari kemudian ia ingat akan janjinya dengan Rasul. Alangkah kagetnya, ternyata Muhammad SAW masih menunggunya di hari ketiga. Masya Allah…………

Dari kisah itu tampak pesona amanah yang memancar dari nabi kita yang sudah melekat jauh sebelum kenabiannya. Di situ tampak di tengah kaumnya Muhammad SAW membangun budaya jujur, patuh, memenuhi janji, dan bisa dipercaya. Layaknya gelar Al Amin (yang dapat dipercaya) disandangnya.

Setelah kenabian dan kerasulannya diterima dari Allah, sifat-sifat itu tidak hanya menempel pada perilakunya, tapi meluncur dari ujarnya. Ada yang menarik dari sabdanya, “Tunaikanlah amanah terhadap orang yang mengamanatimu dan jangan berkhianat terhadap orang yang mengkhianatimu” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Maka ketika perilaku khianat dan dusta sudah menggurita dari tingkat bawah sampai tingkat atas, sikap amanah menjadi sangat mahal dan langka sekali.

Di hadis lain dikisahkan nabi berkata ”Sifat amanah mengundang rezeki dan khianat mengundang kefakiran.” (HR Adalah Dailami). Mungkin yang berakhir ini cocok bagi mereka yang berbisnis.

PEMBENTUKAN MASYARAKAT ISLAM

1. Pembinaan Masyarakat Islam

Orang-orang Islam yang hijrah dari Mekkah ke Madinah itu dalam kitab Suci Al-Qur’an disebut Muhajirin, artinya orang-orang yang hijrah. Mereka terpaksa meninggalkan kampung halaman, famili, rumah, ternak dan perdagangan mereka, semata-mata untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam. Untunglah saudara mereka seagama di Madinah menyambut dengan baik sekali. Mereka menyediakan rumah, tanah, kebun, bahkan modal untuk berdagang bagi kaum Muhajirin. Di bawah pimpinan Nabi, Muhajirin dan Ansor itu dipersaudarakan sebagaimana saudara sekandung, sehingga dapat hidup rukun dalam ukhuwah Islamiyah yang suci dan murni. Dari kedua golongan itulah mula-mula terbentuk masyarakat Islam di Madinah.

Untuk membina masyarakat itu selanjutnya Nabi mendirikan sebuah masjid yang tidak saja digunakan sebagai tempat ibadat, akan tetapi juga menjadi tempat pertemuan, bahkan juga menjadi pusat kegiatan ummat Islam. Di masjid itu mereka melakukan salat jamaah dan salah Jum’at, di masjid itu pula Nabi memberikan pokok-pokok ajaran Islam dan di masjid itu pula ummat Islam bermusyawarah untuk memecahkan persoalan uang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Masjid itu kemudian terkenal dengan nama Masjid Nabi di Madinah.

Sekalipun sebagian besar penduduk Madinah yang terdiri dari suku Aus dan Khojroj telah menganut Islam, namun di kota itu terdapat juga banyak orang Yahudi yang terdiri dari keturunan Bani Nadzir, Bani Qainuqo’ dan Bani Quraidloh. Terhadap mereka mula-mula Nabi bersikap baik sekali, bahkan beliau mengadakan perjanjian persahabatan demi untuk menjadi keamanan. Barulah setelah mereka berulang kali mengkhianati perjanjian itu, Nabi terpaksa mengusir mereka dari Madinah.

2. Mempertahankan Masyarakat Islam

Demikianlah dengan terbentuknya masyarakat baru di Madinah, Islam dapat berkembang dengan pesat. Sebab itu tidaklah aneh jika para pemimpin Mekkah bertambah marah. Sehingga mereka bertekad bulat untuk menghancurkan masyarakat Islam di Madinah itu. Karena mereka beranggapan bahwa hanya dengan cara itulah Islam akan lenyap dari muka bumi.

Mula-mula mereka merampas semua harta kekayaan orang Muhajirin di Mekkah. Ketika kaum Muhajirin berusaha untuk merampas kafilah mereka yang melewati Madinah, mereka serentak memerangi kaum muslimin, sekalipun kafilah itu akhirnya dapat juga diselamatkan.

Untunglah dalam pertempuran pertama yang terjadi di Badar itu kaum muslimin di bawah pimpinan Nabi memperoleh kemenangan yang gilang-gemilang. Banyak pasukan musuh yang tewas, banyak harta rampasan yang dapat direbut bahkan banyak pula musuh yang tertawan. Tawanan perang itu dilakukan baik sekali oleh Nabi. Bagi yang mampu dapat menembus dirinya dengan uang. Bagi yang dapat membaca dan menulis dapat menembus dirinya dengan jalan mengajar tulis-baca kepada anak-anak kaum muslimin di Madinah. Dan bagi yang tidak mampu sama sekali akhirnya dibebaskan juga.

Karena sikap Nabi yang demikian itu, maka banyak juga di antara para tawanan itu yang kemudian memeluk Islam dengan suka rela. Sementara itu orang Mekkah menjadi bertambah mata gelap. Untuk menebus kekalahan mereka dalam pertempuran di Badar itu, maka pada tahun berikutnya mereka menyerang Madinah. Kaum Muslimin terpaksa bertahan di luar kota yaitu di Bukit Uhud. Sekalipun dalam pertempuran itu kaum muslimin menderita kekalahan, namun mereka masih mampu bertahan. Karena itu dua tahun kemudian sekali lagi orang Mekkah berusaha mengadakan pukulan terakhir terhadap Madinah.

Demikianlah pada tahun ke lima Hijrah, orang Mekkah menyerbu Madinah bersama sekutu mereka, sehingga berjumlah tidak kurang dari 10.000 orang. Itulah sebabnya penyerbuan itu disebut Ahzab atau perang sekutu. Tiga minggu lamanya Madinah dikepung. Akan tetapi mereka tidak berhasil masuk kota. Karena sebelumnya Nabi telah memerintahkan kaum Muslimin membuat parit yang dalam di sekitar Madinah.

Di saat kaum muslimin mengalami kesulitan karena kekurangan bahan makanan, maka datanglah pertolongan Tuhan. Pada suatu malam datanglah angin taufan yang mengamuk perkemahan mereka. Sehingga pada malam itu juga mereka terpaksa mengundurkan diri dengan tangan hampa, karena taufan itu dianggap sebagai alamat buruk yang akan menimpa mereka.

Kegagalan tentara sekutu dalam perang Ahzab itu menyebabkan keadaan menjadi berbalik. Kedudukan kaum Muslimin makin lama makin kuat, sementara itu kedudukan orang Mekkah bersama sekutu mereka makin lemah. Sehingga ketika Nabi bersama 1.000 orang pengikutnya hendak datang ke Mekkah untuk melakukan ibadah Haji, orang Mekkah terpaksa mengadakan perjanjian perdamaian 10 tahun lamanya. Perjanjian itu terkenal dalam sejarah Islam dengan Perjanjian Hudaibiyah.

3. Da’wah Islam

Dengan adanya perdamaian itulah perkembangan Islam semakin pesat, beberapa suku yang tinggal di sekitar Madinah satu persatu telah menganut Islam. Sedangkan para pemuka Quraisy di Mekkah satu persatu menyatakan masuk Islam. Sementara itu Nabi mengutus beberapa orang utusan dengan membawa surat ajakan untuk masuk Islam kepada beberapa penguasa dan raja di sekitar Jazirah Arab.

Sungguhpun di luar kita Mekkah Islam telah tersiar dengan pesat sekali, namun di kita tempat kelahirannya, agama itu belum dapat berkembang. Ka’bah yang menjadi kiblat kaum Muslimin pada masa itu masih penuh dengan berhala. Kapankah kota itu dapat dibebaskan? Sebenarnya setiap saat dapat dilaksanakan, karena kedudukan kaum semakin lemah. Akan tetapi hal itu tidak dilaksanakan karena kaum Muslimin benar-benar menghormati perjanjian Hudaibiyah. Baru setelah kaum Quaisy sendiri secara sepihak membatalkan perjanjian itu, maka Nabi mempersiapkan kaum Muslimin untuk membebaskan kota itu.

Demikianlah pada tahun 8 H (631 M) Nabi bersama-sama 10.000 orang pengikutnya berangkat menuju Mekkah. Pasukan yang sebanyak itu sebenarnya hanyalah sekedar untuk menakut-nakuti orang Quraisy saja, agar mereka tidak berani mengadakan perlawanan, sehingga kota itu dapat dibebaskan tanpa pertumpahan darah. Kemudian Nabi bersama-sama kaum Muslimin langsung menuju ke Ka’bah untuk menghancurkan segala berhala yang terdapat disekitarnya dan selanjutnya mereka salat bersama-sama sebagai tanda syukur kepada Allah.

Tak lama kemudian penduduk Mekkah berbondong-bondong datang kepada Nabi dan di hadapan bekas-bekas musuhnya itu diantaranya Nabi bersabda: “Bagaimanakah menurut pendapatmu apa yang akan dilakukan terhadap kalian?”. Serentak mereka menjawab: “Wahai Muhammad engkau adalah orang yang mulia dan anak dari saudara kami yang mulia pula”. Kemudian Nabi bersabda: “Pergilah kalian dengan bebas!”. Karena sikap Nabi yang tidak kenal dendam itulah maka penduduk Mekkah dengan sukarela berbondong-bondong menyatakan memeluk Islam, terutama setelah mereka menyaksikan bahwa berhala-hala yang mereka puja selama ini tidak berdaya sama sekali ketika dihancurkan. Dengan Islamnya penduduk Mekkah maka seluruh Jazirah Arab mengikuti jejak mereka.

4. Nabi Menyelesaikan Tugas Sucinya

Setelah pembebasan kota Mekkah Nabi tidak menghadapi tugas yang berat. Pada masa itu datanglah para utusan dari berbagai suku dari segala penjuru di Jazirah Arab ke Madinah untuk menyatakan bahwa suku-suku mereka telah menganut Islam. Peristiwa itu digambarkan dalam Kitab Suci Al-Qur’an, yang artinya: “Apabila pertolongan Allah tiba dan kemenangan telah kamu lihat, manusia berduyun-duyun memasuki agama Allah. Maka bertasbihlah memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Allah adalah penerima taubat”. (An-Naser).

Pada tahun berikutnya ( 10 H = 631 M), Nabi berangkat ke Mekkah bersama-sama 100.000 orang pengikutnya yang datang dari seluruh Jazirah Arab untuk melakukan ibadah haji Wada’ (haji perpisahan). Di pedang Arafah dalam Khutbah perpisahannya Nabi di antaranya bersabda: “Hai manusia, dengarkanlah perkataanku, karena aku tidak tahu apakah pada tahun yang akan datang aku masih berada ditengah-tengahmu di tempat ini. Hai manusia Tuhanmu adalah satu! Dan sesungguhnya kamu sekalian berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Tak ada yang paling mulia diantaramu ialah yang paling taqwa”. Kemudian turunlah ayat yang terakhir, yang artinya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan Aku relakan Islam sebagai agamamu”. (QS. Al-Maaidah: 3).

Beberapa bulan setelah Nabi kembali ke Madinah, beliau menderita sakit demam, dan setelah 2 minggu kemudian Nabi-pun pulang ke rahmatullah dengan tenang. Nabi wafat pada hari Senin tgl. 12 Rabiul Awwal tahun ke 10 H, dalam usia 63 tahun, bertepatan dengan tgl. 8 Juni th. 632 M.

Demikianlah Rasulullah telah wafat setelah 23 th menjalankan tugas suci dengan hasil yang gilang-gemilang. Beliau tidak meninggalkan warisan yang berharga untuk keluarganya namun beliau meninggalkan dua buah pusaka yang sangat berguna bagi seluruh ummat manusia. Sebagaimana tersebut dalam wasiat beliau: “Aku telah tinggalkan dua perkara untukmu, kamu tidak akan tersesat selamanya selagi kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya”. (Hadist)

RANGKUMAN:

1. Untuk pertama kalinya di Madinah masyarakat Islam, yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshor. Untuk membina masyarakat yang baru itu Nabi mempersatukan kedua golongan itu serta mengadakan perjanjian persahabatan dengan orang Yahudi yang tinggal di kota itu. Nabi juga mendirikan masjid sebagai pusat ibadat dan pusat penyiaran Islam.

2. Sejak di Madinah Islam dapat berkembang dengan pesat sekali karena itu orang Mekkah menjadi marah, sehingga berulang kali mengadakan penyerbuan di kota itu. Untuk mempertahankan dari serangan itu terpaksa Nabi juga menempuh jalan kekerasan sehingga terjadi berulang kali pertempuran. Karena orang Yahudi berkhianat dengan bekerjasama dengan orang-orang Mekkah, maka Nabi terpaksa mengusir mereka.

3. Semakin lama kedudukan ummat Islam di Madinah semakin kuat, sementara itu kedudukan orang Mekkah makin lemah. Sehingga ketika pada tahun 8 H Nabi hendak melakukan ibadah Haji orang Mekkah terpaksa mengadakan perjanjian itu secara sepihak. Sebab itu Nabi terpaksa membebaskan kota Mekkah dari kekuasaan mereka. Dengan mudah kota Mekkah itu dapat ditundukkan tanpa perlawanan dan pertumpahan darah. Akhirnya penduduk Mekkah berbondong-bondong menyatakan masuk Islam setelah mereka diampuni oleh Nabi. Dengan Islamnya penduduk Mekkah maka seluruh Jazirah Arab kemudian menganut Islam.

4. Pada tahun 10 H Nabi melakukan Haji Wada bersama kaum muslimin. Dalam khutbah perpisahannya di padang Arafah, Nabi menjelaskan tentang garis besar ajaran Islam di hadapan ummat Islam yang berjumlah tidak kurang dari 100.000 orang. Pada saat itu juga turunlah wahyu terakhir yang menerangkan bahwa Islam adalah agama uang sempurna. Beberapa bulan setelah peristiwa itu Nabi wafat setelah 23 tahun lamanya menunaikan tugas sucinya dengan hasil yang gilang gemilang

Ditulis dalam Agama, Renungan | Bertanda: , , | 2 Komentar »

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)

Ditulis oleh dahlanforum di/pada Maret 11, 2009

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Ditulis dalam Renungan | Bertanda: , | 1 Komentar »

A commitment to quality

Ditulis oleh dahlanforum di/pada Februari 26, 2009

A s h o t •Ashkel o n ‘ Aer o s pace’Pr o d u c ts’PI a

A commitment to quality

/QM and Continuous Quality Improvement programs
ensure that every product meets the most demanding
standards. Not only does Ashot meet MIL-Q-9858
and ISO-9000, our products must pass the scrutiny
of customer QA teams who regularly audit our facilities.
The company has earned FAA approval to ship AOG
parts to airlines without additional OEM inspections.
The Aerospace Products Plant is a separate profit
center which operates environmentally controlled pro-
duction areas and assembly rooms. Ashot has made
a significant investment in specialized production and
quality control equipment.These advanced systems
include a Lorenz CNC, a scanning electron micro-
scope, LK Coordinate Measuring Machines, a gear
measuring machine and SPC (Statistical Process
Control).
Additional software, hardware and facilities for non-
destructive testing include ultrasound and penetrant
tests. Test benches, using automatic test systems,
ensure that every product can stand up to conditions
exceeding those found in the real world.

Jet fighter components

Flap drive transmission components

Ditulis dalam Cerita | Bertanda: , , | 1 Komentar »

Pendidikan Bukan Bisnis

Ditulis oleh dahlanforum di/pada Februari 25, 2009

Pada awalnya, pendidikan kita didesain dengan bertumpu pada semangat mulia bahwa pendidikan bukan bisnis. Komitmen tersebut selanjutnya dirumuskan secara apik oleh rezim orde baru menjadi Tri Darma Perguruan Tinggi. Yakni bahwa perguruan tinggi sebagai institusi Pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.

Aktivitas utama yang dijalankan hanya mengacu pada tiga hal tersebut. Akan tetapi, ketika pemerintah tidak mampu penuh menyantuni segala bentuk kegiatan akademik, sementara pasar bebas menggelinding, kompetisi bisnis menjadi fenomena yang dominan dalam masyarakat dan otonomi kampus – yang intinya adalah swastanisasi – merupakan gerak kebijakan yang tidak terelakkan, maka perguruan tinggi dipaksa melakukan derap langka industrialisasi.

Krisis ekonomi yang berkepanjangan dan tren pasar bebas yang sedang mengglobal telah memberikan legitimasi kepada pemerintah untuk membentuk small state not weak state, sehingga salah satu kebijakannya adalah meliberalkan pendidikan tinggi. Perguruan tinggi negeri (PTN) yang dianggap potensial selanjutnya diliberalkan, diubah statusnya dari perguruan tinggi (PT) menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Mereka ini adalah UGM, ITB, UI, IPB dan disusul oleh PTN lain yang semua ini dalam rangka mengurangi beban finansial pemerintah.

Dan ironisnya, PTN lain yang seharusnya menjadi kekuatan kontrol terhadap kebijakan ‘swastanisasi’ PTN tidak banyak berbuat apalagi bersikap kritis, bahkan cenderung ‘menikmati keuntungan’ dari proses “BHMN”-nisasi tersebut. Sehingga dengan berbingkai otonomi, masing-masing PTN mencoba menggali dana sebesar-besarnya dari masyarakat khususnya dalam proses penerimaan mahasiswa baru. Dan hari ini, PTN nampaknya tengah berlomba-lomba menjual diri dengan membuka jalur ‘khusus’ untuk mendapatkan mahasiswa baru.

Sebagai contoh, jalur khusus tersebut misalnya; di Universitas Indonesia (UI) membuka Program Prestasi dan Minat Mandiri (PPMM) yang uang masuknya saja mencapai Rp 25 juta – Rp 75 juta, dan SPPnya Rp 7,5 juta. Sementara di ITB membuka Program Penelusuran, Minat, Bakat dan Potensi dengan sumbangan minimal Rp 45 juta. Kalau di IPB menyelenggarakan program mahasiswa Utusan Daerah (NUD) dengan SPP Rp 9 juta per tahun. (Kompas, 22 Juni 2003).

Ketika perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta terseret pada arus besar industrialisasi, yang menjelma dalam komodifikasi pendidikan. Maka mereka juga tidak luput masuk ke dalam perangkap dilema industrialisasi. Yakni perguruan tinggi bisa menggali pendanaan lokal dengan menjual jasa pendidikan kepada masyarakat secara cepat dan menguntungkan namun terjadi degradasi kualitas pendidikan. Atau mempertahankan kualitas pendidikan tetapi kesulitan pengadaan dana pendidikan. Namun nampaknya, kalangan PTN kurang mempertimbangkan pilihan-pilihan tersebut terbukti lebih memilih melakukan bisnis pendidikan demi mengejar kesejahteraan komunitas kampus agar pembiayaan dapat berlanjut. Supaya pendidikan tinggi bisa cepat dipasarkan, maka mereka harus merumuskan pendidikan yang cepat saji, cepat di santap oleh konsumen, cepat berproduksi lagi, cepat menciptakan kesejahteraan. Maka terjadilah apa yang disebut sebagai “Mcdonalisasi pendidikan Tinggi”.

Istilah Mcdonalisasi pertama kali digunakan oleh seorang sosiologi Amerika bernama George Ritzer (1996) dalam bukunya McDonalization of Society untuk menunjukkan rasionalisasi dalam masyarakat saat ini yang pada hakekatnya menghasilkan irasionalitas. McDonalisasi pendidikan tinggi telah menciptakan sangkar besinya sendiri. Yaitu pertumbuhan, kuantifikasi, dan keharusan memproduksi sebanyak-banyaknya. McDonalisasi pendidikan pada awalnya bermula dari sesuatu yang rasional yakni otonomi kampus. Namun berakhir dengan irasionalitas seperti dehumanisasi dan penurunan kualitas pendidikan tinggi.

Merawat Kelas Sosial dalam Masyarakat

Bahwa mencermati kenyataan yang terhampar hari ini, nampaknya kita perlu menyimak kembali bagaimana harapan publik berkaitan dengan peningkatan kualitas pendidikan kita. Perdebatan perihal UU Sisdiknas yang baru saja disahkan tentu cukup mengingatkan kita bahwa salah satu fungsi pendidikan kita adalah untuk mencerdaskan masyarakat. Namun persoalannya, dengan tuntutan biaya yang demikian besar, lantas masyarakat yang mana yang sanggup mengenyam kesempatan memperoleh pendidikan kita. Dengan biaya yang mencapai puluhan bahkan jutaan rupiah tersebut tentu membuktikan bahwa hanya kalangan menengah sosial ke atas saja yang bisa menikmati pendidikan yang berkualitas. Sementara masyarakat umum apalagi yang terperangkap pada lilitan kemiskinan hanya sanggup bermimpi untuk dapat memperoleh pendidikan tersebut.

Dengan logika seperti itu, maka pendidikan kita sejatinya adalah sarana pelestarian kelas sosial dalam masyarakat. Dan model penyelenggaraan pendidikan yang seperti itu juga berarti telah mengubur impian mobilitas vertikal kelas bawah untuk memperbaiki status kelasnya. Analisa ini kedengarannya radikal, tetapi kita tidak bisa menghindari karena pembacaan realitas memang demikian. Sehingga dapat dipastikan hanya status sosial tertentu yang dapat menikmati sekolah atau universitas yang bermutu. Sedangkan anak-anak dari lapisan masyarakat miskin tetap dalam posisi tertinggal dan masuk dalam lingkungan calon pengangguran. Ataupun kalau bekerja barangkali hanya sekedar melanjutkan pekerjaan orangtuanya sebagai penjual bakso, tukang becak, buruh, petani gurem dan sejenisnya. Wallahu’ Alam Bishshawwab.

Berubahnya status beberapa PTN menjadi BHMN sebenarnya suatu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia yang kian hari semakin menurun. Upaya lain yang digagas pemerintah adalah diberikannya wewenang tiap sekolah untuk mengatur “rumah tangga” sekolahnya sendiri. Namun, realitas di lapangan tidaklah semudah yang ada dalam dunia ”gagasan” tersebut.

Tingginya biaya masuk PTN hingga mencapai puluhan juta rupiah merupakan tindakan ‘pengkhianatan’ terhadap UUD 1945 yang dijunjung tinggi, bahkan disucikan, oleh warga negara ini. bidang pendidikan yang merupakan hak tiap rakyat, baik kaya maupun jelata, ternyata dijadikan lahan subur untuk memperkaya segelintir orang dengan dalih ‘usahanya’ untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Akibatnya adalah, rakyat jelata hanya akan bermimpi dan berkhayal memiliki anak yang mampu duduk manis di bangku kuliah.

Oleh karena itu, perlu adanya redefinisi dari pendidikan tinggi itu sendiri. Artinya, pendidikan tinggi tersebut apakah diperuntukkan bagi mereka yang ingin ‘mempertinggi ilmunya’ atau diperuntukkan bagi mereka yang mempunyai ekonomi tinggi.

Semoga tulisan ini mampu menyadarkan mereka yang duduk manis di kantor rektorat yang sedang menata segenap peraturan demi mewujudkan komersialisasi pendidikan, atau bahkan kanibalisasi pendidikan dengan rakyat jelata sebagai korbannya dengan Soemantonya adalah pihak PTN/BHMN.


Terima kasih: Duta PulsaPersewaan Alat PestaToko JilbabKoleksi Abaya-Busana MuslimKerudung Murah


Ditulis dalam Artikel, Bahasa Indonesia, Pengetahuan | Bertanda: , , , , | 2 Komentar »

ETIKA PERGAULAN DALAM MASYARAKAT

Ditulis oleh dahlanforum di/pada Februari 22, 2009

ETIKA PERGAULAN DALAM MASYARAKAT

  1. Etika Pergaulan Dengan Orang Yang Lebih Tua

Sebagian tanda memuliakan Allah adalah menghormati orang Islam yang telah putih rambutnya (tua). (HR Abu Daud).

Tiada seorang pemuda yang menghormati orang yang tua usianya, melainkan Allah akan menyediakan orang-orang yang akan menghormatinya jika ia telah tua usianya. (HR Turmudzi).

Tidak termasuk golonganku orang yang tidak menyayangi orang yang lebih (muda), dan tidak mengerti hak-hak orang yang lebih (tua). Bukanlah termasuk golonganku orang yang menipu kami, seorang mukmin yang lain, seperti mencintai diri sendiri. (Tabrani dari Damrah).

PENDAPAT

Yang dimaksud orang yang lebih tua disini adalah para orang tua kita, yaitu Bapak, ibu, kakek, nenek, paman, bibi, kakak dan orang lain yang lebih tua dari kita.

Kita wajib menghormati orang tua yang telah memelihara kita dan membesarkan, mendidik dan membiayai hidup kita, tidak sedikit pengorbanan mereka lahir dan batin, baik materi, tenaga dan pikiran yang telah dicurahkan untuk kepentingan anak-anaknya. Walaupun mereka tidak mengharapkan balasan atas kasih sayang dan pengorbanan kepada kita.

Namun tidak selayaknya kita mengabaikan kewajiban menghormati dan menuruti segala nasehat dan perhatiannya. Kakek, nenek, paman, bibi, dan kerabat kita yang lebih tua juga harus kita hormati dan kita perlakukan seperti orang tua kita. Oleh karena itu kita harus berlaku hormat dan sopan, tidak bersikap melawan atau menentang pada saat ada perselisihan. Karena bila kita bersikap hormat dan sopan insya’ Allah mereka pun akan berlaku sama.

Agama Islam mengajarkan agar kita selalu hormat dan sopan kepada semua orang yang lebih tua, dari mereka yang sudah mengenyam banyak pengalaman, kita memperoleh ilmu untuk bekal dimasa datang. Kita mendapat warisan kebudayaan yang akan kita teruskan, apalagi para pahlawan yang turut memerdekakan bangsa kita. Barang siapa yang bersikap hormat kepada orang yang lebih tua, maka akan dijanjikan oleh Rasulullah SAW, akan dihormati pula pada masa tuanya nanti dan apabila tidak menghormati orang yang lebih tua maka Rasulullah SAW, pun tidak hendak mengakui seseorang tersebut sebagai umatnya.

  1. Etika Pergaulan Dengan Orang Yang Sebaya

Orang mukmin terhadap orang mukmin lainnya, tak ubahnya bagaikan sesuatu bangunan yang bagian-bagiannya (satu sama lain) kuat mengkuatkan. (HR Muslim).

Barang siapa yang berjalan dalam upaya memenuhi kebutuhan saudaranya, dan usaha ini berhasil, adalah lebih baik daripada beri’tikaf sepuluh tahun. Dan barang siapa beri’tikaf satu hari saja karena Allah, maka Allah menjauhkan antara dia dan neraka sejauh tiga parit yang lebih jauh dari antara ujung bumi sebelah barat dan timur. ( HR Baihaqi).

PENDAPAT

Sebaya bisa berarti sama usianya, maka dari itu pergaulan dengan orang sebaya sangat penting. Hampir setiap hari, dikalangan masyarakat maupun di sekolah, kita sering kali berkumpul dengan teman sebaya yang memiliki kesamaan dengan kita dalam beberapa hal. Pada saat kita kesulitan, merekalah orang yang tepat untuk m\dimintai tolong baik bersifat pribadi pun kita lebih terbuka.

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berhubungan dan saling membutuhkan satu sama lain, setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan serta memerlukan bantuan orang lain. Dalam pergaulan sehari-hari kita sela bersama mereka, maka kita patut menghormatinya serta menghargai kedudukan mereka, demikian pula mereka akan menghormati dan menghargai kita, cara bergaul yang baik dengan mereka (orang sebaya) yaitu hendaknya kita turut memikirkan dan mempedulikan persoalan dan kesulitan mereka serta turut meringankan beban permasalahannya.

  1. Etika Pergaulan Dengan Orang Yang Lebih Muda

Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. (QS. Al Hijr: 88)

Bahwasannya Allah telah mewahyukan kamu agar kamu bertawadlu (rendah hati) hingga tak seorang pun yang bersombong diri terhadap lainnya, dan tidak ada seorang pun yang menganiaya yang lainnya. (HR Muslim).

Bukan dari umatku orang yang tidak belas kasihan kepada yang lebih kecil dan tidak menghargai kehormatan yang lebih tua. (HR Abu Daud dan Tirmidzi).

Siapa yang berkata kepada anak kecil: “mari kemari, ini untukmu, kemudian tidak memberi apa-apa kepadanya, maka hal itu berlaku bohong”. (HR Ahmad).

PENDAPAT

Dalam pergaulan, tidak hanya orang yang lebih tua dan orang yang menjadi perhatian kita untuk selalu kita hormati, tapi juga orang-orang yang lebih muda. Islam menganjurkan kita agar bersikap merendah dan santun sesama mukmin, termasuk orang yang lebih muda dari kita. Walau kita banyak kelebihan dibanding mereka, kita tak boleh sombong, dan congkak pada mereka justru kita harus membantunya dengan penuh kasih sayang dan segala kecintaan.

Pergaulan dengan orang lebih muda termasuk juga terhadap orang yang keadaan perekonomiannya rendah, pengetahuan dan pengalamannya lebih lemah dari kita, juga anak yatim dan fakir miskin. Terhadap mereka kita wajib menyantuni dan bersikap penuh kasih sayang, tidak berbuat dan berkata kasar, tidak menghina keadaan dan derajat mereka. Jika kita tidak hormat dan tidak sopan terhadap mereka yang lebih muda dari kita, maka niscaya mereka pun tidak akan menghormati kita.

  1. Etika Pergaulan Dengan Sesama Muslim Dan Umat Islam

Hai orang-orang beriman jika datang kepadamu orang fasik membawa satu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpa suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kami menyesal atas perbuatanmu. (QS. Al Hujuraat: 6).

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah saudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmatnya. (QS. Al Hujuraat: 10).

PENDAPAT

Pergaulan antar sesama muslim berkaitan dengan peraturan-peraturan tentang pergaulan umat Islam antar satu golongan atau satu agama. Kita sebagai muslim dan umat Islam yang menganut ajaran Allah harus mengetahui bagaimana etika pergaulan dikalangan masyarakat muslim, yaitu kita harus bertingkah laku yang sopan santun, lemah lembut dan tidak bertindak salah (keliru) kita harus bisa membedakan yang baik dan buruk seperti halnya bagaimana kita menghadapi berita khayal (kosong) yang dibawa dan disebarkan oleh orang fasik dan jail.

Cara menyelesaikan persengketaan antar sesama orang muslim yang timbul dikalangan umat Islam, yaitu dengan bersatu padu dalam satu tujuan melawan kejahilan orang karena pada dasarnya muslim dan mu’min itu bersaudara hubungannya sangat erat sekali bagaikan bangunan, jika satu penyangga hilang akan roboh, begitu dengan kaum muslim satu ceroboh akan mendatangkan musibah.

  1. Etika Pergaulan Dengan Orang Yang Berbeda Agama

Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kami berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kami disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujuraat: 13).

PENDAPAT

Agama Islam menganjurkan kepada kita untuk bergaul dengan orang-orang yang berbeda agama dengan agama kita. Pada dasarnya mereka pun sama dengan kita (makhluk ciptaan Allah) hanya saja berbeda keyakinan, banyak beraneka sifat prilaku dan keinginan, juga kepercayaan dan keyakinan yang berbeda namun merupakan bagian dari masyarakat bangsa. Kita membutuhkan mereka dalam hal pekerjaan, perniagaan dan kemasyarakatan. Tak selayaknya kita membedakan orang yang berbeda agama, kita harus tetap bergaul dengan mereka sebagai sesama makhluk Allah dan sebagai anggota masyarakat.

  1. Etika Dalam Berpakaian Dan Memandang

Hai anak Adaam sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Demikian itu adalah sebagian dari tanda- tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (QS. Al A’raf: 26).

Hai Ali, janganlah kau ikuti pandangan yang pertama dengan pandangan kedua, kamu hanya boleh pada pandangan pertama adapun pandangan yang berikutnya tidak boleh. (HR Ahmad, Abu Dawud dan At Turmudzi).

PENDAPAT

Fungsi pakaian adalah sebagai penutup aurat sekaligus perhiasan agama Islam memerintahkan agar setiap orang memakai pakaian yang baik dan bagus, baik berarti sesuai dengan fungsinya yaitu menutupi aurat, sedangkan bagus berarti memadai (serasi) sebagai perhiasan penutup tubuh yang sesuai kemampuan si pemakai. Untuk keperluan ibadah sholat di masjid kita dianjurkan pakai pakaian yang baik dan suci bersih (terhindar najis).

Berpakaian bagi kaum perempuan mukmin telah digariskan oleh Al Qur’an adalah menutup seluruh auratnya. Pada dasarnya pakaian muslim tidak menghalangi si pemakai melakukan kegiatan sehari-hari dalam masyarakat, semua kembali pada niat si pemakai dalam melaksanakan ajaran Allah.

Selain berpakaian kita juga memandang, mata adalah anugerah Allah yang paling penting yaitu untuk melihat, mata disini yang dimaksud adalah untung memandang hal-hal yang baik-baik saja, karena Rasulullah mengatakan “janganlah kalian kaumku sekaian semua memandangi sesuatu yang tidak baik (buruk) dengan matamu sekalian umatku.

  1. Etika Dalam Berbicara Kepada Masyarakat

Dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat- menasehati supaya menepati kesabaran. (QS. Al Asr: 3).

Dan katakanlah kepada hamba-hambaKu: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)”, dan sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan antar mereka, sesungguhnya setan itu musuh nyata bagi manusia.

Sesungguhnya Allah membenci kami karena tiga perkara: adalah berkata begini dan berkata begitu, menghambur-hamburkan uang dan banyak bertanya. (HR Jama’ah dari Al Mugirah).

PENDAPAT

Alat komunikasi paling utama dalam pergaulan adalah berbicara, dengan bicara kita dapat menyampaikan sesuatu, sebaliknya kita juga dapat mengetahui keinginan orang lain. Berbicara bisa mendatangkan banyak orang (teman) dan bisa pula mendatangkan musuh, maka dari itu kita harus pandai-pandai menjaga cara berbicara kita dengan baik. Agama Islam mengajarkan agar kita berbicara sopan supaya tidak berakibat merugikan diri sendiri ataupun orang lain.

Mulut dapat kita gunakan sebagai nasehat akan kebenaran hindarilah cara bicara yang bisa menimbulkan perselisihan karena perselisihan itu kehendak setan yang ditujukan untuk mengadu domba, fitnah, isu dan gosip.

  1. Etika Dalam Makan Dan Minum

Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena setan itu adalah musuh nyata bagimu. (QS. Al Baqarah: 168).

Berkumpulah kamu sekalian di depan makananmu dan sebutlah nama Allah, pasti kamu mendapat barokah dari makanan itu. (HR Ahmad).

Janganlah salah satu diantara kalian makan dengan tangan kiri dan janganlah pula minum dengan tangan kiri. Sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kiri. (HR Muslim dari Ibnu Umar).

Rasulullah melarang seseorang minum sambil berdiri (HR Muslim dari Anas).

Bila salah satu diantara kalian minum, maka janganlah menghembuskan nafas ke dalam tempat minum. (HR Bukhari Muslim dari Qatadah).

PENDAPAT

Makan dan minum merupakan kebutuhan manusia untuk dapat bertahan hidup secara wajar dan sehat. Banyak makanan yang langsung diambil dari alam. Dari banyak jenis makanan dan minuman itu, kita dianjurkan oleh agama untuk memilih makanan yang baik dan halal, dan benar-benar diperlukan untuk kesehatan, tidak boleh berlebihan.

Makanan yang baik, adalah makanan yang bergizi. Halal berarti diperbolehkan agama. Makanan yang baik belum tentu halal, demikian juga halal belum tentu baik untuk kesehatan. Jadi kita harus memilih makanan yang baik sekaligus halal. Disini banyak cara makan dan minum harus benar-benar memperhatikan etika, adab, tata krama, dalam memakan dan meminum sesuatu.

KESIMPULAN

  • Dalam pergaulan hendaklah kita saling hormat menghormati baik itu orang tua sendiri/orang tua yang tentunya lebih tua dari kita.

  • Hormat menghormati seseorang perlu adanya aturan-aturan lebih-lebih terhadap orang tua kita yang telah mendidik dan membesarkan kita.

  • Dalam pergaulan hendaknya kita mempunyai sikap sopan santun dan ramah tamah karena dengan sikap ini kita akan lebih mudah bergaul dengan siapa pun.

  • Selain dalam pergaulan kita juga harus memperhatikan kesopanan dalam tata cara makan minum dan juga etika dalam pakaian dan memandang.

  • Dengan adanya pergaulan kita harus menghargai orang tua dan kalau berbicara pada orang tua haruslah bicara baik jangan bicara yang jorok-jorok kepada orang lain atau orang tua yang lebih tua dari kita

Saran-Saran

  • Untuk menjamin terbinanya pergaulan dalam masyarakat diperlukan sikap yang sopan santun, saling tolong menolong, menghormati orang tua, bicara yang baik kepada orang tua.

  • Di dalam pembicaraan harus menggunakan tata bahasa yang sopan dan tidak boleh mengeraskan bunyi suara dalam berbicara.

Dari Buku Sekolah

Terima kasih: Duta Pulsa -

Hal tersebut adalah pendapat Anak SMP, Anda punya pendapat yang lain:

Silakan tuangkan di bawah ini!

Ditulis dalam Agama, Artikel | Bertanda: , , | 5 Komentar »

Dampak-dampak dari berpacaran

Ditulis oleh dahlanforum di/pada Februari 19, 2009

Dampak-dampak dari berpacaran

a. Dampak Positif

1. lebih giat belajar

2. mendapat perhatian yang lebih dari orang yang kita sayangi

3. lebih dewasa

4. menjaga dan memperhatikan penampilan

5. lebih memahami perasaan orang lain

b. Dampak Negatif

1. sakit hati kalau putus

2. tidak punya waktu untuk teman

3. malas belajar karena selalu memikirkan pacar

4. membuat kita berpikiran yang porno


Oya… teman-teman yang lain… para netter….

ada pendapat… tentang dampak lain dari berpacaran ini…..

Silakan masukkan komentar:

Ditulis dalam Bahasa Indonesia, Pengetahuan, Renungan | Bertanda: , , | 4 Komentar »